Tampilkan postingan dengan label Telaah Ilmu Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaah Ilmu Agama. Tampilkan semua postingan
MUI Tanyakan Arah Kiblat
Majelis Ulama Indonesi (MUI) Kab Muarojambi akan menemui MUI Prov Jambi, guna menanyakan arah kiblat yang benar bagi mesjid dan musala di Muarojambi. Ini diperlukan lantaran ditemukan banyak arah kiblat yang melenceng jauh dari posisi seharusnya, yaitu kabah.
Ketua MUI Muarojambi, Tarmizi, mengatakan arah kiblat harus benar, agar umat Islam di Muarojambi tak kebingungan. Menurut informasi yang diterimanya, arah kiblat di Muarojambi bergeser ke kanan 26,0 derajat.
‘’Arah kiblat pindah 26.9 derajat ke kanan, namun warga tak perlu mengubah arah kiblat atau tempat imam di mesjid. Cukup mengubah arah syafnya. Sebab, kalau mengubah arah dan bentuk mesjid, tentu akan menyulitkan,’’ katanya.
Lebih lanjut, Tarmizi menerangkan, arah kiblat harus segera di sampaikan ke umat Islam di Muarojambi. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, maka secepatnya dia akan memberitahu ke umat Islam setelah menerima surat resmi dari MUI Prov Jambi.
‘’Jika nanti MUI Muarojambi sudah menerima surat mengenai arah kiblat yang benar, saya langsung memberitahu ke masyarakat. Sejauh ini, di Kota Jambi baru Mesjid Agung Al-Falah yang arah kiblatnya sudah benar,’’ sebutnya.
Dia menambahkan, saat ini umat Islam diminta menjalankan ibadah salat lima waktu dengan posisi semula menjelang surat MUI Prov Jambi terbit. Paling lambat besok (hari ini; red) surat arah kiblat baru sudah diterima. Selanjutanya, sesegera mungkin saya sampaikan ke warga,’’ tukas Tarmizi.
Berdasarkan fatwa MUI No 3/2010 tentang arah kiblat, semula di posisi barat dan kemudian bergeser ke kanan atau tepatnya mengarah ke barat laut. Dalam fatwa itu, ada dua ketentuan pernyataan hukum. Pertama, kiblat bagi orang salat dan dapat melihat kabah adalah menghadap ke bangunan kabah (ainul kabah).
Dua, kiblat bagi orang salat dan tak dapat melihat kabah adalah arah kabah (jihat al-kabah). Jika letak geografis Indonesia di bagian timur kabah/Mekkah, maka kiblatnya adalah barat. MUI merekomendasikan, bangunan mesjid/musala di Indonesia yang kiblatnya menghadap ke barat, tak perlu diubah atau dibongkar.
Halal/Haram Kopi Luwak?
Melalui fatwa nomor 4, 20 Juli 2010, Majelis Ulama Indonesia atau MUI menyatakan bahwa kopi luwak, yakni kopi yang diolah dari biji kopi yang diambil dari kotoran hewan luwak (musang), termasuk halal atau boleh dikonsumsi umat Islam. Namun, biji kopi luwak harus melalui pencucian terlebih dahulu sebelum dapat dikatakan halal.
"Statusnya biji kopi luwak adalah mutanajis, artinya suatu benda yang terkena najis. Mutanajis itu jika dibersihkan, dicuci, maka biji kopi itu suci, halal, bisa dikonsumsi," ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Aminudin Yakub, Selasa (20/7/2010).
Aminudin mengatakan, fatwa kopi luwak tersebut dikeluarkan MUI untuk menjawab pertanyaan masyarakat mengenai halal atau tidaknya kopi yang diambil dari kotoran hewan tersebut. Menurutnya, MUI telah melakukan kajian dan menemukan bahwa hewan luwak hanya memakan kulit luar buah kopi dan menyisakan kulit tanduk buah kopi. "Dan kalau ditanam, biji kopi itu bisa tumbuh. Dengan demikian, itu bukan najis, melainkan mutanajis," katanya.
Mutanajis berbeda dengan najis. Apa yang dikatakan najis, menurut Aminudin, salah satunya, adalah suatu benda yang dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, seperti daging babi. Namun, mutanajis adalah kondisi ketika suatu benda terkena najis yang dapat dikatakan halal jika dibersihkan.
"Statusnya biji kopi luwak adalah mutanajis, artinya suatu benda yang terkena najis. Mutanajis itu jika dibersihkan, dicuci, maka biji kopi itu suci, halal, bisa dikonsumsi," ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Aminudin Yakub, Selasa (20/7/2010).
Aminudin mengatakan, fatwa kopi luwak tersebut dikeluarkan MUI untuk menjawab pertanyaan masyarakat mengenai halal atau tidaknya kopi yang diambil dari kotoran hewan tersebut. Menurutnya, MUI telah melakukan kajian dan menemukan bahwa hewan luwak hanya memakan kulit luar buah kopi dan menyisakan kulit tanduk buah kopi. "Dan kalau ditanam, biji kopi itu bisa tumbuh. Dengan demikian, itu bukan najis, melainkan mutanajis," katanya.
Mutanajis berbeda dengan najis. Apa yang dikatakan najis, menurut Aminudin, salah satunya, adalah suatu benda yang dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, seperti daging babi. Namun, mutanajis adalah kondisi ketika suatu benda terkena najis yang dapat dikatakan halal jika dibersihkan.
Petani Kentang
Seorang petani kentang ternyata tidak pernah pusing memilih kentang. Namun rupanya ia justru mendapatkan uang yang lebih banyak. Sahabat dekatnya terheran dan akhirnya bertanya kepadanya, 'Apa rahasia keberhasilanmu?'
Ia menjawabnya, 'Sederhana aja kok, saya langsung menaikkan kentang hasil panen itu semuanya saya masukkan ke dalam gerobak, kemudian mengangkutnya melalui jalan yang paling jelek menuju kota. Selama perjalanan delapan kilometer itu kentang-kentang berukuran kecil selalu berada dibawah sementara kentang-kentang yang berukuran besar naik ke atas.'
Ini bukan hanya berlaku pada kentang, melainkan berlaku juga pada 'Sunatullah kehidupan' Melalui jalan yang terjal berliku kentang-kentang yang besar yang akan naik ke atas. Dalam masa sulit. kita yang bertahan dan ulet akan naik ke atas. Masa sulit tidak akan pernah berakhir, hanya seorang Mukmin yang kuatlah yang sanggup mengatasi kesulitan hidup.
---
Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Bila mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila mendapatkan cobaan, ia bersabar dan sabar itu baik baginya. (HR. Muslim).
Ia menjawabnya, 'Sederhana aja kok, saya langsung menaikkan kentang hasil panen itu semuanya saya masukkan ke dalam gerobak, kemudian mengangkutnya melalui jalan yang paling jelek menuju kota. Selama perjalanan delapan kilometer itu kentang-kentang berukuran kecil selalu berada dibawah sementara kentang-kentang yang berukuran besar naik ke atas.'
Ini bukan hanya berlaku pada kentang, melainkan berlaku juga pada 'Sunatullah kehidupan' Melalui jalan yang terjal berliku kentang-kentang yang besar yang akan naik ke atas. Dalam masa sulit. kita yang bertahan dan ulet akan naik ke atas. Masa sulit tidak akan pernah berakhir, hanya seorang Mukmin yang kuatlah yang sanggup mengatasi kesulitan hidup.
---
Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Bila mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila mendapatkan cobaan, ia bersabar dan sabar itu baik baginya. (HR. Muslim).
Hati Dalam Kegelapan
Pernah ada satu kisah seorang gadis yang membenci dirinya sendiri bahkan semua orang yang disekelilingnya dia benci, kecuali kekasihnya yang selalu setia menemani dan memberikan dorongan semangat untuk hidup. Sebenarnya gadis itu cantik kekurangan yang ada dirinya cuman satu karena kedua matanya tidak bisa melihat. Dalam keseharian dirinya selalu meratapi hidupnya.
Namun gadis itu sangatlah beruntung memiliki pujaan hati yang cukup sabar mendengar segala keluh kesahnya bahkan mampu menghibur dan membuatnya tersenyum. Kecintaan pada gadis itu bahkan dibuktinya dengan melamar tetapi sang gadis rela dinikahi bila sudah dapat melihat dengan sempurna.
Doa gadis itu akhirnya terkabul. Ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya. Betapa bahagia dirinya begitu menyaksikan dunia baru yang indah dan penuh warna. Kekasihnya juga ikut bahagia merasakan kegembiraan. Dia segera menagih janji gadis itu.
'Sekarang dirimu sudah bisa melihat dunia, Apakah kamu mau menikah denganku?' tanya sang kekasihnya.
Gadis itu terguncang disaat melihat kekasihnya ternyata buta. Gadis itu kecewa dan menolak untuk menikah dengan pujaan hatinya yang buta. Sang kekasihnya dengan air mata yang mengalir, hatinya bagai tertusuk sembilu kemudian meninggalkan pesan disecarik kertas.
'Kekasihku, tolong jaga baik-baik mataku!'
Pesan kisah diatas memperlihatkan bahwa disaat status sosial kita berubah menjadi lebih baik seringkali berubah pula gaya hidup kita, hanya sedikit orang yang ingat akan kehidupan sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat siapa sebenarnya sahabat sejatinya. Sahabat yang telah menemaninya dalam suka maupun duka, dalam tangis dan tawa, begitu sudah menjadi orang sukses, kita mudah sekali melupakan sahabat sejati yang telah menemani dalam perjalanan hidup kita. [heru cahyono]
Namun gadis itu sangatlah beruntung memiliki pujaan hati yang cukup sabar mendengar segala keluh kesahnya bahkan mampu menghibur dan membuatnya tersenyum. Kecintaan pada gadis itu bahkan dibuktinya dengan melamar tetapi sang gadis rela dinikahi bila sudah dapat melihat dengan sempurna.
Doa gadis itu akhirnya terkabul. Ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya. Betapa bahagia dirinya begitu menyaksikan dunia baru yang indah dan penuh warna. Kekasihnya juga ikut bahagia merasakan kegembiraan. Dia segera menagih janji gadis itu.
'Sekarang dirimu sudah bisa melihat dunia, Apakah kamu mau menikah denganku?' tanya sang kekasihnya.
Gadis itu terguncang disaat melihat kekasihnya ternyata buta. Gadis itu kecewa dan menolak untuk menikah dengan pujaan hatinya yang buta. Sang kekasihnya dengan air mata yang mengalir, hatinya bagai tertusuk sembilu kemudian meninggalkan pesan disecarik kertas.
'Kekasihku, tolong jaga baik-baik mataku!'
Pesan kisah diatas memperlihatkan bahwa disaat status sosial kita berubah menjadi lebih baik seringkali berubah pula gaya hidup kita, hanya sedikit orang yang ingat akan kehidupan sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat siapa sebenarnya sahabat sejatinya. Sahabat yang telah menemaninya dalam suka maupun duka, dalam tangis dan tawa, begitu sudah menjadi orang sukses, kita mudah sekali melupakan sahabat sejati yang telah menemani dalam perjalanan hidup kita. [heru cahyono]
Makna Kearifan Dan Kecerdasan Pesan Baru
Assalamualaikum saudara-saudaraku sekalian,, terbesit dalam pikiran untuk menulis pada sore kali ini. Langsung saja saya tuangkan di Blog kesayanganku ini..semoga apa yang saya tulis kali ini banyak manfaatnya bagi pembaca sekalian.
Ini dia Langsung saja...
Ketinggian manusia bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu memberi manfaat kepada kehidupan. Ada orang pintar tetapi keblinger sehingga kepintarannya justeru digunakan untuk “minteri” orang lain. Semakin pinter orang seperti itu maka semakin banyak orang lain yang menjadi korban dari kepintarannya.
Sebaliknya ada orang yang dari segi pendidikan formal ia biasa-biasa saja, tetapi dari segi pergaulan sosial orang itu banyak sekali memberi kemanfaatan kepada orang lain, karena setiap kali sedikit yang ia berikan justeru mengandung makna besar bagi yang menerima. Ia bukan saja tahu, tetapi juga arif. Ia bukan hanya pintar tetapi juga cerdas.
Nah kearifan dan kecerdasan ádalah ekpressi psikologis dari orang yang bijak. Bijak mengandung arti ketepatan. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bijak lebih dari itu yaitu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dari pemahaman itu maka kecerdasan bukan hanya menyangkut intelektualitas, tetapi juga emosi dan bahkan spiritual. Itulah makna kearifan dan kecerdasan.
---
'HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan-perbuatan baik sehingga Aku jatuh cinta padanya. (Hadist Qudsi).
Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Malam yang sunyi dalam kesendirian membaca al-Quran dengan memahami makna sungguh merupakan kenikmatan tersendiri. Dengan membaca pelan sambil meresapi setiap kandungannya terasa keindahan sendiri, sebagai Allah berfirman, 'Maka bacalah al-Quran apa yang mudah bagimu untuk membacanya.' (QS 73:20). Rasulullah senantiasa mengajarkan kita agar kita mengetahui manfaat dan keutamaan membaca al-Quran diantaranya adalah.
1. Menentramkan hati, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam, ' Tidaklah sesuatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, mereka membaca al-Quran dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketentraman hati, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka dan Allah menyebut-nyebut makhluk yang ada disisiNya. (HR. Muslim).
2. Penyembuh. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab 'Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa al-Quran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit jasmani maupun rohani, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
'Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. 10:57).
3. Kedua Orang Tua Mendapatkan Mahkota Surga, dari Muadz Bin Anas, Rasulullah bersabda, 'barangsiapa membaca al-Quran dan mengamalkan apa yang terdapat didalamnya. Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat kelak. Dimana cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari didunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa pahala itu disebabkan amalan seperti itu. (HR. Abu Dawud).
4. Kemuliaan Dari Allah. Orang yang membaca al-Quran senantiasa mendapatkan kemuliaan dari Allah bahkan orang yang masih terbata-bata dalam membaca al-Quranpun mendapatkan dua pahala, sebagaimana sabda Nabi Muhammad,
'Orang yang membaca al-Quran dan ia mahir dalam membacanya maka ia berkumpul bersama para malaikat, yang lebih mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang masih terbata-bata dan merasa berat membacanya maka ia mendapatkan dua pahala.' (HR. Muttafaqun 'Alaihi).
Sementara dihadist yang lain Nabi Muhammad juga bersabda, ' Bacalah dan bacalah sekali lagi bacalah dengan tartil seperti dilakukan didunia karena tempatmu terletak diakhir ayat yang engkau baca.' (HR. Tirmidzi).
5. Dibela di Akherat. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda, 'Bacalah al-Quran maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat (pembela) bagi ahlinya yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya. (HR. Muslim).
Yuk, kita giatkan membaca al-Quran...
Salam Sukses LUAR BIASA!!!
Heru Cahyono, Mahasiswa Akademi Akuntansi Muhammadiyah, Mahasiswa LPK Dian Nusantara dan Alumni MAN 1 Klaten angkatan 2009.
Makna Sabar
Tono baru dua hari kerja di sebuah perusahaan asing, Tono bermaksud menelpon ke bagian dapur sambil berteriak, 'Ambilkan gue kopi... cepaaaaat!' Ternyata jawaban dari balik telepon tidak kalah keras dan marahnya. 'Hei siapa ini... kamu salah pencet extention? Kamu tahu dengan siapa kamu bicara?' 'Tidak.. ' sahut Tono.
'Saya direktur utama perusahaan disini. Saya pecat kamu nanti!' teriak Sang Dirut dan tak mau kalah teriak si Tono bales nyahut, 'dan Bapak tahu siapa saya?' 'Tidak.' jawab Boss. 'Syukurlah kalo gitu' sahut Tono cuek sambil menutup telpon.
Begitulah bila kita cepat marah. Kemarahan dapat membuat seseorang kehilangan banyak hal. Kemarahan juga dapat membuat kita salah langkah. Maka sebaiknya kita sabar dan jernih bila menghadapi masalah. sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan. Dalam agama, sabar merupakan satu diantara tangga dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya.
1. Ketabahan menghadaapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah gelisah (jaza`) dan keluh kesah (hala`)
2. Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan diri (dlobth an Nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar)
3. Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur)
4. Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada, kebalikannya disebut sempit dadanya.
5. Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyikan rahasia (katum).
6. Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut serakah, loba (al hirsh).
7. Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah), kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun).
'Saya direktur utama perusahaan disini. Saya pecat kamu nanti!' teriak Sang Dirut dan tak mau kalah teriak si Tono bales nyahut, 'dan Bapak tahu siapa saya?' 'Tidak.' jawab Boss. 'Syukurlah kalo gitu' sahut Tono cuek sambil menutup telpon.
Begitulah bila kita cepat marah. Kemarahan dapat membuat seseorang kehilangan banyak hal. Kemarahan juga dapat membuat kita salah langkah. Maka sebaiknya kita sabar dan jernih bila menghadapi masalah. sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan. Dalam agama, sabar merupakan satu diantara tangga dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya.
1. Ketabahan menghadaapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah gelisah (jaza`) dan keluh kesah (hala`)
2. Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan diri (dlobth an Nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar)
3. Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur)
4. Sabar dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut lapang dada, kebalikannya disebut sempit dadanya.
5. Sabar dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyikan rahasia (katum).
6. Sabar terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut serakah, loba (al hirsh).
7. Sabar dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana`ah), kebalikannya disebut tamak, rakus (syarahun).
Hubungan Syahadat dan Bai'at
1. Pengertian Syahadat
Syahadat berasal dari bahasa arab, secara etimologi (bahasa) mengandung makna Persaksian; perjanjian. Adapun pengertian secara terminology (istilah): “Persaksian atau perjanjian seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya”. Perjanjian manusia dengan Allah dimulai semenjak manusia ada di alam arwah Sebagaimana firman Allah SWT :
Dari pengertian syahadat yang kedua yang bersifat kerasulan, umat bersaksi tentang fungsi rasul atau utusan bagi dirinya. Maka akan terjalin ikatan yang kuat antara umat dengan Rasulullah Saw yang melahirkan bimbingan dan kepemimpinan. Demikian penting syahadat yang kedua ini sehingga disejajarkan dengan syahadat yang pertama.
Sepeninggal Rasulullah Muhammad Saw, bimbingan dan kepemimpinan itu harus terus berjalan karena merupakan satu kebutuhan. Perjanjian umat ketika itu dilanjutkan kepada khalifahnya dengan bentuk bai’at.
2. Pengertian Bai’at.
Bai’at berasal dari bahasa arab, secara etimologi (bahasa) yaitu: Perjanjian; Sumpah setia. Di lihat dari sisi bahasa, Syahadat dan Bai’at mempunyai makna yang sama. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa melakukan koordinasi, baik antar individu, lembaga atau institusi, hubungan bilateral sampai hubungan internasional. Dalam menjalin hubungan tersebut manusia tidak akan terlepas dari perjanjian, kesepakatan atau MoU. Ketika bai’at dikembalikan kepada bahasa, maka seluruh dimensi kehidupan manusia tidak akan lepas dari bai’at. Adapun pengertian bai’at menurut fiqih siyasah adalah sumpah setia seseorang kepada seorang khalifah.
Pada masa Rasulullah Saw, proses bai’at pernah dilakukan dua kali yang dinamai dengan Bai’at Al-Aqabah dan Bai’at Ar-Ridwan oleh para sahabat dengan tujuan untuk lebih memperkokoh ikatan sahabat kepada Rasulullah Saw karena menghadapi tantangan yang lebih berat dari kaum musyrikin.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT Mengabadikan proses bai’at yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasulullah dalam Q. S Al-Fath [48]: 18.
Syahadat berasal dari bahasa arab, secara etimologi (bahasa) mengandung makna Persaksian; perjanjian. Adapun pengertian secara terminology (istilah): “Persaksian atau perjanjian seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya”. Perjanjian manusia dengan Allah dimulai semenjak manusia ada di alam arwah Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini “, Q.S. al-A’raf [7]: 172.Dalam pendekatan Ilmu Akidah Islam, dikenal dengan Syahadatain (dua syahadat). Artinya bahwa syahadat itu, hanya disandarkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Syahadat yang pertama perjanjian yang bersifat Uluhiyyah, karena menggunakan lafadz Ilaha, dari manusia kepada Allah; dan syahadat yang kedua bersifat Kerasulan; karena menggunakan lafadz Rasulullah dari umat kepada utusan Allah.
Dari pengertian syahadat yang kedua yang bersifat kerasulan, umat bersaksi tentang fungsi rasul atau utusan bagi dirinya. Maka akan terjalin ikatan yang kuat antara umat dengan Rasulullah Saw yang melahirkan bimbingan dan kepemimpinan. Demikian penting syahadat yang kedua ini sehingga disejajarkan dengan syahadat yang pertama.
Sepeninggal Rasulullah Muhammad Saw, bimbingan dan kepemimpinan itu harus terus berjalan karena merupakan satu kebutuhan. Perjanjian umat ketika itu dilanjutkan kepada khalifahnya dengan bentuk bai’at.
2. Pengertian Bai’at.
Bai’at berasal dari bahasa arab, secara etimologi (bahasa) yaitu: Perjanjian; Sumpah setia. Di lihat dari sisi bahasa, Syahadat dan Bai’at mempunyai makna yang sama. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa melakukan koordinasi, baik antar individu, lembaga atau institusi, hubungan bilateral sampai hubungan internasional. Dalam menjalin hubungan tersebut manusia tidak akan terlepas dari perjanjian, kesepakatan atau MoU. Ketika bai’at dikembalikan kepada bahasa, maka seluruh dimensi kehidupan manusia tidak akan lepas dari bai’at. Adapun pengertian bai’at menurut fiqih siyasah adalah sumpah setia seseorang kepada seorang khalifah.
Pada masa Rasulullah Saw, proses bai’at pernah dilakukan dua kali yang dinamai dengan Bai’at Al-Aqabah dan Bai’at Ar-Ridwan oleh para sahabat dengan tujuan untuk lebih memperkokoh ikatan sahabat kepada Rasulullah Saw karena menghadapi tantangan yang lebih berat dari kaum musyrikin.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT Mengabadikan proses bai’at yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasulullah dalam Q. S Al-Fath [48]: 18.
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah Mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat”Sebelum Rasulullah Saw meninggal ia menyampaikan pentingnya fungsi dan kedudukan bai’at, supaya umat selalu ada dalam bimbingan dan dibawah kepemimpinan khalifah. Ia bersabda;
“Barang siapa yang mati dan belum punya bai’at maka matinya seperti mati orang-orang Jahiliyyah”. (HR. Muslim)Umar bin Khattab Dalam manaqibnya menyatakan sebuah Statement ;
“Tidak termasuk islam kecuali berjamaah, tidak berjamaah kecuali dengan kepemimpinan, tidak ada kepemimpinan kecuali keta’atan, tidak ada ketaatan kecuali ada bai’at”.Dia pun mengatakan bahwa manusia tidak akan baik urusannya kecuali adanya seorang pemimpin yang ditaati dan diharapkan nasehat-nasehatnya (Muhammad Rawwas Qal’ahji, Dr. kitab: Mausu’ah Fiqh Umar Ibn Khattab ra, hal: 188).
Persoalan Nikah dan Perzinaan
[Al-Islam 494] Saat ini, RUU HMPA Bidang Perkawinan sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2010 di DPR. Kemunculan RUU ini telah mengundang pro-kontra. Pasalnya, dalam RUU tersebut nyata-nyata terkandung klausul pemidanaan (kriminalisasi) bagi pelaku nikah siri, poligami dan nikah kontrak; mereka bisa diancam hukuman penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah. Mereka yang pro (setuju), misalnya, adalah Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) Mahfud MD. Alasannya, ia meyakini pernikahan bawah tangan (nikah siri) dan kawin kontrak merugikan pihak perempuan. (Jambi-independent.co.id, 15/2/10).
Sebelumnya, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin menyatakan, “Nikah di bawah tangan kalau memenuhi syarat rukunnya itu sudah sah. Tetapi bisa juga haram,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin. Menurut KH Ma’ruf, label haram akan berlaku bila ada korban yang ditimbulkan akibat dilakukannya nikah siri. “Biasanya, korban itu adalah anak atau istri yang haknya tidak terlindungi. Mereka menjadi tidak memiliki hak waris dan sebagainya,” ujar dia (Vivanews, 16/2/10).
Sebaliknya, menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam, hukuman yang pantas bagi pelaku pernikahan siri cukup dengan sanksi administratif, bukan pidana (Voa-islam.com, 15/2/10).
Mendudukkan Persoalan
Dalam kasus nikah kontrak (muth’ah), pemidanaan atas pelakunya tentu wajar belaka. Sebab, dalam pandangan syariah Islam nikah kontrak (nikah muth’ah) haram. Keharaman nikah muth’ah ini telah disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama.
Sebaliknya, pemidanaan atas pelaku nikah siri (termasuk poligami) tentu bermasalah.
Pertama: Selama ini nikah siri (nikah di bawah tangan) yang dipahami masyarakat adalah pernikahan yang absah secara agama tetapi tidak tercatat di lembaga pencatat pernikahan (KUA). Jika memenuhi syarat dan rukunnya secara syar’i, nikah siri model ini jelas tetap sah. Demikian pula dengan poligami yang telah memenuhi syarat-syarat sah secara syar’i. Karena itu, pemidanaan atas pelaku nikah siri (termasuk poligami) bertentangan dengan hukum syariah. Lain halnya jika kedua model praktik pernikahan itu tidak memenuhi standar syar’i.
Kedua: Pemberlakuan hukum pidana atas pelaku nikah siri (termasuk poligami) yang absah secara syar’i juga akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Pasalnya, selama ini sebagian masyarakat telah mempraktikan kedua bentuk pernikahan tersebut selama puluhan tahun. Mereka melakukannya paling tidak karena salah satu dari empat alasan berikut: (1) alasan agama (misal: takut terjerumus ke dalam perzinaan, sementara untuk meresmikan pernikahan lewat KUA tidak mudah); (2) alasan administrasi (misal: mahalnya biaya nikah lewat KUA; sulitnya prosedur untuk poligami secara resmi [bahkan untuk PNS ada PP No. 45/1990 yang nyata-nyata mencegah mereka untuk memiliki istri lebih dari satu]); (3) alasan ekonomi (misal: banyak wanita mau dipoligami asal dipenuhi nafkahnya dan tidak dicerai); (4) alasan tradisi (misal: banyak tokoh agama [ulama/kiai/ustad], khususnya di pesantren-pesantren, yang memiliki istri lebih dari satu; selain karena memang halal secara syar’i, ada kebanggaan tersendiri bagi orangtua yang memiliki anak gadis jika putrinya itu dipersunting oleh sang tokoh karena jaminan keilmuan dan keshalihannya, selain karena status sosialnya di masyarakat).
Ketiga: Pemidanaan atas pelaku nikah siri (termasuk poligami) yang absah secara syar’i patut dipertanyakan motifnya. Pasalnya, jika alasannya karena praktik nikah siri dan poligami selama ini banyak merugikan pihak perempuan, terutama menyangkut hak-haknya di depan hukum/pengadilan (misal: sulit menuntut hak nafkah jika terjadi masalah dalam rumah tangganya, apalagi sampai terjadi perceraian; susah mendapat hak waris jika suami meninggal; sukar mendapatkan akta kelahiran bagi anak-anaknya; dll), maka yang perlu dipecahkan adalah bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Caranya dengan mengubah UU atau aturan yang ada yang selama ini mempersulit diperolehnya hak-hak tersebut. Misal: PP No. 45/1990 bagi PNS seharusnya dicabut. Dengan itu, saat mereka ada keinginan kuat menikah lagi, mereka bisa melakukannya secara resmi melalui lembaga Pemerintah (KUA). Dengan itu pula, mereka dengan mudah bisa mendapat akta nikah, yang selama ini dijadikan syarat untuk mendapatkan akta kelahiran bagi anak-anaknya.
Keempat: Pemidanaan atas pelaku nikah siri (maupun poligami) juga tidak proporsional, terutama jika dibandingkan dengan bencana seks bebas, baik melalui praktik zina secara terang-terangan maupun “zina siri” (diam-diam). Jelas, segala bentuk perzinaan ini telah berdampak pada problem-problem sosial pelik lainnya seperti kehamilan tak diinginkan, aborsi, penyakit menular seksual, epidemi HIV/AIDS, sampai degradasi moral remaja. Bahkan “zina siri” telah melanda para remaja. Menurut hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), misalnya, yang mengambil sampel di 33 provinsi pada tahun 2008, diperoleh fakta bahwa 63 persen remaja usia sekolah SMP dan SMU mengaku pernah melakukan hubungan seks, dan 21 persen di antaranya pernah melakukan aborsi. Itu baru yang terungkap.
Bandingkan dengan nikah siri (yang absah menurut agama tetapi tidak tercatat di KUA), dimana laki-laki dan wanita diikat dalam sebuah ikatan luhur dan terhormat, demi mengarungi bahtera keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Bandingkanlah, mana yang semestinya patut mendapat perhatian dan penanganan yang lebih serius? Mana di antara keduanya yang berbahaya? Mana di antara keduanya yang menyebarkan penyakit biologis dan penyakit sosiologis di tengah masyarakat? Jika para pelaku nikah siri (termasuk poligami) diancam dengan hukuman penjara, mengapa para pelaku zina terang-terangan maupun “zina siri” malah dibiarkan?
Akar Persoalan
Harus diakui, sistem kehidupan yang diterapkan di negeri ini telah sukses “memaksa” sebagian orang terjerumus ke dalam kubangan perzinaan. Sistem tersebut tidak lain berisi sekumpulan aturan dan undang-undang yang mendukung sekularisme, liberalisme dan Kapitalisme di berbagai aspek kehidupan. Lihatlah bagaimana sistem yang bekerja saat ini menghasilkan generasi para pezina, bahkan dalam usia yang sangat dini, melalui beberapa hal berikut:
1.Pendidikan sekular yang mendepak agama. Pendidikan sekular ini nyata-nyata menjadikan para remaja kita dibuat tidak matang secara intelektual, emosional apalagi spiritual. Akhirnya, mereka mudah terombang-ambing dan terjerumus ke dalam lembah maksiat, termasuk perzinaan.
2.Kemudahan mengakses sarana pornografi dan pornoaksi. Semua itu disediakan oleh raksasa industri yang menjadikan aurat dan syahwat sebagai core-business (bisnis inti) mereka dan dilegalkan Pemerintah. Para remaja terus-menerus dibombardir oleh berbagai sarana pornografi dan pornoaksi tersebut. Akibatnya, di tengah tidak adanya pegangan hidup yang kuat, hasrat seksual mereka pun tak terbendung. Saat sebagian dari mereka itu masih percaya dengan ikatan luhur pernikahan dan berniat untuk segera menikahi pasangan mereka, ironisnya pintu pernikahan dini pun ditutup rapat-rapat. Yang melanggar bisa dipidanakan. Akhirnya, mereka pun mencari jalan pintas dan aman: berzina.
3.Sanksi hukum yang longgar. Hingga hari ini, dalam KUHP kita tidak ada satu pasal pun yang mengatur pemidanaan atas pelaku zina, selama dilakukan atas dasar suka sama suka! (Padahal mana ada orang berzina dipaksa?). Intinya, zina tak lagi dianggap kriminal. Akibatnya, orang tak akan pernah merasa takut untuk melakukannya.
Sungguh, maraknya kasus “zina siri” maupun zina terang-terangan yang merusak ini lebih patut mendapatkan perhatian Pemerintah ketimbang gejala nikah siri ataupun poligami yang hanya secuil itu.
Liberalisasi Keluarga
Saat poligami dihambat, nikah siri pun dipidanakan, sementara hasrat untuk menikah lagi tak terbendung, yang terjadi adalah kemungkinan banyaknya para lelaki mencari jalan pintas dan aman. Apalagi kalau bukan berzina. Sebab, hingga saat ini memang tidak ada sanksi bagi para pezina!
Belum diberlakukannya UU HMPA yang bisa mempidanakan pelaku nikah siri saja, saat ini perzinaan demikian marak. Bagaimana jika saat sudah diberlakukan. Apalagi menurut Ustadzah Najmah Saidah dari DPP MHTI, keluarnya RUU HMPA bukan tanpa sebab. Di dalamnya terdapat ruh dan nuansa liberalisasi, yaitu CLDKHI. ”Ini merupakan upaya terselubung liberalisasi keluarga. Ini merupakan bagian dari penjajahan global oleh musuh-musuh Islam (AS) yang menginginkan hancurnya tatanan kehidupan keluarga Muslim,” ujar Ibu Najmah (Hizbut-tahrir.or.id, 6/4/09).
Skenario global ini secara sistematis dan struktural masuk melalui lembaga internasional (PBB) yang menekan negeri-negeri Muslim jajahan untuk meratifikasi konvensi-konvensi yang sarat agenda liberal seperti CEDAW dll. Selanjutnya negara menekan masyarakat dengan berbagai UU liberal.
Wahai kaum Muslim:
Ketahuilah, negeri ini tak pernah berhenti menjadi sasaran liberalisasi di berbagai bidang; baik liberalilasi agama dan pemikiran, liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi hukum Islam maupun liberalisasi sosial dan budaya. Selain itu, kini upaya liberalisasi keluarga—yang notabene menjadi ‘benteng terakhir’ pertahanan kaum Muslim—juga terus digencarkan. Salah satu pintu masuknya adalah melalui RUU Hukum Materiil Peradilan Agama (RUU HMPA) Bidang Perkawinan.
Semua upaya liberalisasi ini tidak lain merupakan bagian dari skenario kafir penjajah Barat melalui agen-agennya di negeri ini untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim. Karena itu, hendaklah kita selalu meyakini firman Allah SWT:
]وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا[Mereka (kaum kafir) tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) seandainya mereka sanggup (QS al-Baqarah [2]: 217).
Allah SWT juga berfirman:
]وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ[Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama (jalan hidup) mereka (QS al-Baqarah [2]: 120).
Selain itu, kita pun harus menyadari bahwa arus liberalisasi masuk secara struktural dan kultural. Karena itu, upaya membendungnya pun harus dilakukan secara struktural dan kultural. Di sinilah pentingnya kita untuk terus berupaya menyadarkan umat sekaligus berjuang menegakkan institusi Khilafah Islamiyah sebagai penjaga Islam sekaligus pelindung umat Islam. []
Komentar al-islam:
Pemerintah dianggap berlebihan memidanakan pelaku kawin siri (Republika, 16/2/2010).
Jelas, sementara pelaku perzinaan yang makin marak dibiarkan!
Rindukan Shalat Berjamaah
Mari kita coba untuk merenungkan, kalau seandainya ada orang kaya yang berjanji akan memberi kita uang setiap hari pada pukul 18.00 WIB sebesar 1.000.000 (satu juta), jika kita diminta datang tepat pada waktunya, apakah kita akan mendatangi?apakah kita akan beralasan bahwa kita akan beralasan bahwa kita ada acara keluarga atau ada acara lain yang lebih penting, sehingga kita tidak bisa datang.
Mari kita bayangkan seandainya kita benar-benar datang kepadanya dan mendapatkan uang satu juta rupiah perhari,.niscaya kita akan melakukan ini terus-menerus satu tahun penuh. Maka, kita akan melakukan ini terus-menerus satu tahun penuh. Maka, kita akan mendapatkan uang sebesar Rp 365 juta rupiah.
Kemudian bayangkan, setelah satu tahun, ajal datang menjemput kita dan bayangkan bahwa kita di bawa dengan beranda menuju liang lahat.
Mari kita, pikirkan, apabila kita pada posisi seperti ini jawablah dengan jujur?Apakah kita senang masuk liang lahat membawa uang Rp 365 juta rupiah dan kita tidak melaksanakan salat Maghrib satu kalipun?? Ataukah lebih utama kita masuk liang lahat dengan membawa 365 kali shalat Maghrib, dan kita tidak membawa uang walau hanya seribu rupiah. Jawablah dengan jujur!
Manakah yang lebih kekal abadi dan bermanfaat?
Ilustrasi yang saya tulis di atas menggambarkan betapa begitu bersemangat pergi tepat waktu melaksanakan sholat berjamaah, untuk mengumpulkan kebaikan? Apakah ia ragu akan datangnya kematiahn?? Atau ragu akan hari kebangkitan? Atau dia ragu akan adanya Allah?
Sholat Jamaah adalah sunnah Muakad, artinya melaksanakan shalat berjamaah menjadi prioritas utama seorang muslim selama tidak udzur.
Jikalau seorang yang telah tuadan buta seperti Abdullah bin Umi Vaktum masih disuruh untuk menunaikan shalat berjamaah, lalau bagaimana dengan kita yang diberi kesempurnaan anggota badan?
Rasulullah bersabda : "Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat" (HR. Mutafaqun Alaih).
Mari kita bayangkan seandainya kita benar-benar datang kepadanya dan mendapatkan uang satu juta rupiah perhari,.niscaya kita akan melakukan ini terus-menerus satu tahun penuh. Maka, kita akan melakukan ini terus-menerus satu tahun penuh. Maka, kita akan mendapatkan uang sebesar Rp 365 juta rupiah.
Kemudian bayangkan, setelah satu tahun, ajal datang menjemput kita dan bayangkan bahwa kita di bawa dengan beranda menuju liang lahat.
Mari kita, pikirkan, apabila kita pada posisi seperti ini jawablah dengan jujur?Apakah kita senang masuk liang lahat membawa uang Rp 365 juta rupiah dan kita tidak melaksanakan salat Maghrib satu kalipun?? Ataukah lebih utama kita masuk liang lahat dengan membawa 365 kali shalat Maghrib, dan kita tidak membawa uang walau hanya seribu rupiah. Jawablah dengan jujur!
Manakah yang lebih kekal abadi dan bermanfaat?
Ilustrasi yang saya tulis di atas menggambarkan betapa begitu bersemangat pergi tepat waktu melaksanakan sholat berjamaah, untuk mengumpulkan kebaikan? Apakah ia ragu akan datangnya kematiahn?? Atau ragu akan hari kebangkitan? Atau dia ragu akan adanya Allah?
Sholat Jamaah adalah sunnah Muakad, artinya melaksanakan shalat berjamaah menjadi prioritas utama seorang muslim selama tidak udzur.
Jikalau seorang yang telah tuadan buta seperti Abdullah bin Umi Vaktum masih disuruh untuk menunaikan shalat berjamaah, lalau bagaimana dengan kita yang diberi kesempurnaan anggota badan?
Rasulullah bersabda : "Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat" (HR. Mutafaqun Alaih).
PONDASI KEHIDUPAN
PONDASI:Kekuatan bangunan terletak pada pondasi, sedangkan kekuatan keinginan manusia untuk maju terletak pada kesunguh-sunguhannya menyiapkan kehidupan. Semakin bersungguh-sungguh menyiapkan kehidupan maka semakin kuat terhadap beribu cobaan, dan persiapan kehidupan itu bukan hanya untuk hidup tetapi untuk sesudah kehidupan yang kekal nanti.
Kisah Rumah Orang Bijak Dan Rumah Orang Bebal
Pada suatu hari, ada dua orang yang baru mendapatkan uang untuk membangun rumah. Dengan segera, keduanya pun mencari lahan untuk membangun. Orang yang pertama adalah orang yang bijak dan ia membeli lahan di atas batu karang. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun rumahnya. Orang yang kedua adalah orang yang bebal dan ia membeli lahan di atas pasir. Dengan waktu cepat, ia sudah selesai membangun rumahnya.
Si orang bebal pun melintasi lahan orang bijak dimana ia masih bersusah payah membangun rumahnya. Kata si orang bebal kepada orang bijak, “Betapa bodohnya kamu, membangun rumah di atas batu karang. Lihat, sampai sekarang kamu belum selesai membangunnya.” Si orang bijak tidak berkata apa-apa dan terus membangun.
Beberapa tahun kemudian, rumah orang bijak pun selesai dibangun. Rumah itu berdiri dengan kokoh di atas fondasi batu karang. Tak lama setelah itu, datanglah hujan badai yang besar dengan angin yang berhembus dengan kencang dan menghantam rumah tersebut. Tetapi rumah si orang bijak tetap berdiri dengan kokoh karena dibangun di atas fondasi batu karang yang kuat.
Hujan angin badai yang sama pun menghantam rumah orang bebal di atas pasir dan karena fondasinya yang kurang kuat di atas pasir, maka rumah itu pun segera runtuh dan si orang bebal kehilangan seluruh rumah dan harta bendanya.
Si orang bebal pun menyesali kegabahannya dalam membangun rumah. Ia berkata, “Seaindainya aku tidak terburu-buru dan gegabah dalam membangun rumah, mungkin rumahku masih berdiri kokoh seperti rumah si orang bijak di atas batu karang.”
Oleh karena itu, jangan terburu-buru dan gegabah dalam merencanakan sesuatu. Apapun yang dibangun dengan fondasi yang kuat akan bisa bertahan melawan berbagai macam kesusaha. Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman sekalian. by : Heru Cahyono
Kisah Rumah Orang Bijak Dan Rumah Orang Bebal
Pada suatu hari, ada dua orang yang baru mendapatkan uang untuk membangun rumah. Dengan segera, keduanya pun mencari lahan untuk membangun. Orang yang pertama adalah orang yang bijak dan ia membeli lahan di atas batu karang. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun rumahnya. Orang yang kedua adalah orang yang bebal dan ia membeli lahan di atas pasir. Dengan waktu cepat, ia sudah selesai membangun rumahnya.
Si orang bebal pun melintasi lahan orang bijak dimana ia masih bersusah payah membangun rumahnya. Kata si orang bebal kepada orang bijak, “Betapa bodohnya kamu, membangun rumah di atas batu karang. Lihat, sampai sekarang kamu belum selesai membangunnya.” Si orang bijak tidak berkata apa-apa dan terus membangun.
Beberapa tahun kemudian, rumah orang bijak pun selesai dibangun. Rumah itu berdiri dengan kokoh di atas fondasi batu karang. Tak lama setelah itu, datanglah hujan badai yang besar dengan angin yang berhembus dengan kencang dan menghantam rumah tersebut. Tetapi rumah si orang bijak tetap berdiri dengan kokoh karena dibangun di atas fondasi batu karang yang kuat.
Hujan angin badai yang sama pun menghantam rumah orang bebal di atas pasir dan karena fondasinya yang kurang kuat di atas pasir, maka rumah itu pun segera runtuh dan si orang bebal kehilangan seluruh rumah dan harta bendanya.
Si orang bebal pun menyesali kegabahannya dalam membangun rumah. Ia berkata, “Seaindainya aku tidak terburu-buru dan gegabah dalam membangun rumah, mungkin rumahku masih berdiri kokoh seperti rumah si orang bijak di atas batu karang.”
Oleh karena itu, jangan terburu-buru dan gegabah dalam merencanakan sesuatu. Apapun yang dibangun dengan fondasi yang kuat akan bisa bertahan melawan berbagai macam kesusaha. Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman sekalian. by : Heru Cahyono
Islam dan Pergulatan Identitas
PERHELATAN akbar Konferensi Tahuan Kajian Islam ke-VI yang dihadiri oleh para rektor, dosen, peneliti, dan para penulis muda dari berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia pada tanggal 26-29 November 2006 lalu di Bandung seolah menggambarkan sebuah gumpalan kegelisahan pemikir Islam Indonesia untuk menampilkan Islam agar bersuara di tengah arus zaman. Nampaknya, para pemikir Islam Indonesia tidak lagi terperangkap jebakan perang klasik ilmu agama dan ilmu yang dianggap sebagai ilmu sekuler, melainkan juga ingin mencari kembali Islam (reinventing Islam) yang mampu menjawab problem zaman kesekarangan. Mencari merupakan sebuah reaksi psikis terhadap sesuatu yang hilang dari genggaman. Mungkinkah gerak pemikiran Islam mulai bergeser pada kegelisahan identitas ?
Ditengah problem zaman kekinian dimana tatanan dunia jauh berbeda dengan beberapa abad sebelumnya, merelevansikan kembali agama kian menguak. Pada satu sisi Islam dipaksa untuk keluar dari diskursus modernisasi karena sudah usang, tetapi pada sisi lain perdebatan Islam dan modernisme belum menemukan titik usai hingga kini. Sekalipun demikian, arus besar perkembangan pemikiran Islam sudah mulai bergeser dari usaha mendamaikan antara ilmu agama dan ilmu sekuler (modernisasi Islam) sejak tahun 1970-an ke diskursus otentisitas Islam, seperti Islam global vis a vis Islam lokal. Arus pertama dan arus kedua sama-sama ingin mengajak Islam agar bersuara di tengah zaman modern dan pascamodern. Jika pemikiran pertama bergulat pada ranah penyamaan pondasi Islam dan modernisme, tetapi yang kedua pada aspek pemunculan identitas Islam.
Islam dimunculkan seolah memberikan jawaban atas segala problem manusia. Sekilas, Islam terlihat bangkit di era sekarang ini. Islam dicobahadirkan oleh pemeluknya dalam beragam wajah dengan memberikan ruang spiritualitas yang selama ini tercerabut oleh nalar positivistik. Rating stasiun-stasiun televisi tiba-tiba naik setelah menayangkan program yang berbau Islam. Setiap tahun jamaah haji Indonesia tidak pernah surut, sekalipun lilitan ekonomi bangsa terus melorot. Lain bilik, manusia berani membantai sesama ketika agamanya diusik oleh orang yang dia anggap sebagai yang lain (the other). Pertanyaanya kemudian, mungkinkah wajah Islam (agama) yang demikian akan mampu membebaskan manusia dari problem yang dihadapi manusia kontemporer ? Apakah itu yang dinamakan kebangkitan spiritualitas agama ?
Islam sudah terlanjur diiamni oleh para pemeluknya tidak hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi satu sistem yang menyuguhkan aturan-aturan di dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam nalar yang demikian, Islam merupakan ajaran yang universal (kaffah), mencakup jawaban segala komponen persoalan manusia. Islam layaknya panacea (obat segala penyakit) bagi seluruh totalitas persoalan yang dihadapi manusia. Setiap ada persoalan, Islam akan menyelesaikannya. Demikianlah Islam yang diyakini para pemeluknya selama berabad-abad lamanya. Maka muncul kemudian, , ekonomi Islam, dan Islam-islam lainnya. Kata Islam seolah niscaya hadir dalam bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak menampilkan Islam, sesuatu itu menjadi tidak Islami. Term Islami direduksi hanya sebatas simbol.
Arus globalisasi yang menyeragamkan identitas pada satu sisi dan membangkitkan kontestasi identitas lokal pada sisi lain, menggiring kerinduan manusia akan identitas "azali" mereka. Kontestasi mengandaikan adanya ketegangan antar-identitas, yakni identitas dominan vis a vis devian. Islam yang niscayanya menjadi pendamai identitas yang bersitegang (Q.S.49:13), justru membakukan dirinya menjadi identitas baru. Islam tiba-tiba muncul dimana-mana. Alih-alih akan memberikan solusi krisis identitas manusia, justru saat itulah agama menjadi problem. Pembakuan menjadi identitas akan menjadikan Islam mudah untuk dibajak dalam melindungi segala kepentingan yang bukan kepentingan mulia agama.
Menarik Islam (agama) menjadi identitas mendorong hasrat politisasi terhadap agama. Saat terjadi aksi teror dan konflik antaragama di Poso misalnya, justru kesalahan diletakkan terhadap mereka yang mempolitisir Islam, tetapi luput melihat faktor yang mendorong terjadinya politisasi Islam itu sendiri. Islam yang diendapkan menjadi identitas mengundang hasrat untuk dipolitisir. Tidak hanya untuk akumulasi kekuasaan di dalam Pemilu atau Pilkada tetapi juga untuk mengumpulkan kapital, seperti maraknya tayangan televisi yang memainkan simbol-simbol yang dianggap oleh pemeluknya sebagai identitas Islam. Oleh karena itu, praktik politisasi terhadap Islam merupakan akibat dari memperlakukan Islam sebagai sebuah identitas.
Para aras selanjutnya pergumulan tidak hanya tejadi dalam Islam secara eksternal, tetapi juga menjadi masalah di dalam tubuh Islam sendiri. Konflik Islam bercorak Arab berhadap-hadapan dengan Islam yang berakulturasi dengan budaya nusantara. Haruskah Islam yang bercorak nusantara dengan peci dan sarungnya digerus oleh supremasi identitas dominan Islam yang berocrak Arab dengan surban dan jubahnya ? Corak yang pertama diposisikan sebagai yang salah dan menyimpang, sementara yang pertama dianggap sebagai pemegang otentisitas Islam. Inilah yang sedang terjadi dalam Islam Indonesia. Kerinduan untuk membangun corak Islam sebagaimana formasi negeri jazirah Arab dengan dikeluarkannya Perda-perda Syari’at Islam yang tanpa refleksi dan kotemplasi makna merupakan bentuk dari dominannya corak Islam yang kedua.
Dalam ranah pengembangan ilmu pengetahuan, Islam yang mengidentitas tidak lagi menjadi produktif dalam menyumbangkan ilmu pengetahuan. Hampir tidak ditemukan pemikir Islam yang menyumbang kemajuan ilmu kontemporer kecuali hanya sibuk mencari pembenaran teks (Islamisasi). Islam pada posisi ini memerankan diri layaknya badan fatwa yang memberikan stempel halal atau haram terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan. Selain tidak produktif, gerak Islam yang demikian juga sangat defensif. Islam berposisi bertahan terhadap segala serangan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan baik dalam bidang sains dan humaniora di dunia Barat, tetapi enggan terjun langsung dalam pergulatan ilmu pengetahuan.
Menggumpalnya Islam sebagai sebuah identitas tunggal dan absolut berakar dari struktur keyakinan yang tidak mampu memilah antara yang sakral dan yang profan, terutama dalam melihat teks al-Qur’an. Islam dominan cenderung melihat teks al-Qur’an mutlak sepenuhnya maksud Tuhan. Tidak ada ilmu dan kebenaran di luar al-Qur’an. Sehingga hasil pemahaman terhadap teks yang kemudian menjadi praktik diklaim sebagai indentitas Islam yang otentik. Padahal, teks terbatas dan hasil pemahaman pun terbatas. Karena pemahaman terbatas, maka praktik yang dihasilkan dari pemahaman teks tidak bisa dijadikan sebagai identitas, apalagi sebagai identitas otentik Islam. Karena al-Qur’an menggunakan bahasa manusia (Q.S.12: 02). Dan bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh maksud Tuhan yang Maha Luas (Q.S.17:109).
Oleh karena itu, Islam harus keluar dari kungkungan identitas keislaman yang kaku. Identitas Islam tidak tunggal, tidak stagnan, tidak terkatakan, dan tidak berwujud. Artinya, identitas Islam bukan bahasa atau simbol-simbol melainkan jiwa dari simbol dan bahasa tersebut. Sebagai sebuah jiwa dia tidak mengendap dalam satu ruang semata, melainkan berada dalam tiap-tiap ruang. Sebab jika Islam itu begitu luas, sehingga tidak bisa mengendap hanya dalam satu simbol yang kemudian dijadikan sebagai identitas. Orang yang dianggap baik oleh Tuhan bukan orang yang bersurban, cantik, hitam, atapun putih, melainkan orang yang berjiwa mulia. Dengan demikian, sesuatu yang Islami bukan karena dia menampilkan simbol-simbol tertentu yang dianggap sebagai identitas Islam, melainkan nilainya. Itulah esensi Islam sebagai petunjuk manusia (hudan li al-nass). Wallahu A’lam
Sumber : Agus Hilman
Ditengah problem zaman kekinian dimana tatanan dunia jauh berbeda dengan beberapa abad sebelumnya, merelevansikan kembali agama kian menguak. Pada satu sisi Islam dipaksa untuk keluar dari diskursus modernisasi karena sudah usang, tetapi pada sisi lain perdebatan Islam dan modernisme belum menemukan titik usai hingga kini. Sekalipun demikian, arus besar perkembangan pemikiran Islam sudah mulai bergeser dari usaha mendamaikan antara ilmu agama dan ilmu sekuler (modernisasi Islam) sejak tahun 1970-an ke diskursus otentisitas Islam, seperti Islam global vis a vis Islam lokal. Arus pertama dan arus kedua sama-sama ingin mengajak Islam agar bersuara di tengah zaman modern dan pascamodern. Jika pemikiran pertama bergulat pada ranah penyamaan pondasi Islam dan modernisme, tetapi yang kedua pada aspek pemunculan identitas Islam.
Islam dimunculkan seolah memberikan jawaban atas segala problem manusia. Sekilas, Islam terlihat bangkit di era sekarang ini. Islam dicobahadirkan oleh pemeluknya dalam beragam wajah dengan memberikan ruang spiritualitas yang selama ini tercerabut oleh nalar positivistik. Rating stasiun-stasiun televisi tiba-tiba naik setelah menayangkan program yang berbau Islam. Setiap tahun jamaah haji Indonesia tidak pernah surut, sekalipun lilitan ekonomi bangsa terus melorot. Lain bilik, manusia berani membantai sesama ketika agamanya diusik oleh orang yang dia anggap sebagai yang lain (the other). Pertanyaanya kemudian, mungkinkah wajah Islam (agama) yang demikian akan mampu membebaskan manusia dari problem yang dihadapi manusia kontemporer ? Apakah itu yang dinamakan kebangkitan spiritualitas agama ?
Islam sudah terlanjur diiamni oleh para pemeluknya tidak hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi satu sistem yang menyuguhkan aturan-aturan di dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam nalar yang demikian, Islam merupakan ajaran yang universal (kaffah), mencakup jawaban segala komponen persoalan manusia. Islam layaknya panacea (obat segala penyakit) bagi seluruh totalitas persoalan yang dihadapi manusia. Setiap ada persoalan, Islam akan menyelesaikannya. Demikianlah Islam yang diyakini para pemeluknya selama berabad-abad lamanya. Maka muncul kemudian, , ekonomi Islam, dan Islam-islam lainnya. Kata Islam seolah niscaya hadir dalam bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak menampilkan Islam, sesuatu itu menjadi tidak Islami. Term Islami direduksi hanya sebatas simbol.
Arus globalisasi yang menyeragamkan identitas pada satu sisi dan membangkitkan kontestasi identitas lokal pada sisi lain, menggiring kerinduan manusia akan identitas "azali" mereka. Kontestasi mengandaikan adanya ketegangan antar-identitas, yakni identitas dominan vis a vis devian. Islam yang niscayanya menjadi pendamai identitas yang bersitegang (Q.S.49:13), justru membakukan dirinya menjadi identitas baru. Islam tiba-tiba muncul dimana-mana. Alih-alih akan memberikan solusi krisis identitas manusia, justru saat itulah agama menjadi problem. Pembakuan menjadi identitas akan menjadikan Islam mudah untuk dibajak dalam melindungi segala kepentingan yang bukan kepentingan mulia agama.
Menarik Islam (agama) menjadi identitas mendorong hasrat politisasi terhadap agama. Saat terjadi aksi teror dan konflik antaragama di Poso misalnya, justru kesalahan diletakkan terhadap mereka yang mempolitisir Islam, tetapi luput melihat faktor yang mendorong terjadinya politisasi Islam itu sendiri. Islam yang diendapkan menjadi identitas mengundang hasrat untuk dipolitisir. Tidak hanya untuk akumulasi kekuasaan di dalam Pemilu atau Pilkada tetapi juga untuk mengumpulkan kapital, seperti maraknya tayangan televisi yang memainkan simbol-simbol yang dianggap oleh pemeluknya sebagai identitas Islam. Oleh karena itu, praktik politisasi terhadap Islam merupakan akibat dari memperlakukan Islam sebagai sebuah identitas.
Para aras selanjutnya pergumulan tidak hanya tejadi dalam Islam secara eksternal, tetapi juga menjadi masalah di dalam tubuh Islam sendiri. Konflik Islam bercorak Arab berhadap-hadapan dengan Islam yang berakulturasi dengan budaya nusantara. Haruskah Islam yang bercorak nusantara dengan peci dan sarungnya digerus oleh supremasi identitas dominan Islam yang berocrak Arab dengan surban dan jubahnya ? Corak yang pertama diposisikan sebagai yang salah dan menyimpang, sementara yang pertama dianggap sebagai pemegang otentisitas Islam. Inilah yang sedang terjadi dalam Islam Indonesia. Kerinduan untuk membangun corak Islam sebagaimana formasi negeri jazirah Arab dengan dikeluarkannya Perda-perda Syari’at Islam yang tanpa refleksi dan kotemplasi makna merupakan bentuk dari dominannya corak Islam yang kedua.
Dalam ranah pengembangan ilmu pengetahuan, Islam yang mengidentitas tidak lagi menjadi produktif dalam menyumbangkan ilmu pengetahuan. Hampir tidak ditemukan pemikir Islam yang menyumbang kemajuan ilmu kontemporer kecuali hanya sibuk mencari pembenaran teks (Islamisasi). Islam pada posisi ini memerankan diri layaknya badan fatwa yang memberikan stempel halal atau haram terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan. Selain tidak produktif, gerak Islam yang demikian juga sangat defensif. Islam berposisi bertahan terhadap segala serangan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan baik dalam bidang sains dan humaniora di dunia Barat, tetapi enggan terjun langsung dalam pergulatan ilmu pengetahuan.
Menggumpalnya Islam sebagai sebuah identitas tunggal dan absolut berakar dari struktur keyakinan yang tidak mampu memilah antara yang sakral dan yang profan, terutama dalam melihat teks al-Qur’an. Islam dominan cenderung melihat teks al-Qur’an mutlak sepenuhnya maksud Tuhan. Tidak ada ilmu dan kebenaran di luar al-Qur’an. Sehingga hasil pemahaman terhadap teks yang kemudian menjadi praktik diklaim sebagai indentitas Islam yang otentik. Padahal, teks terbatas dan hasil pemahaman pun terbatas. Karena pemahaman terbatas, maka praktik yang dihasilkan dari pemahaman teks tidak bisa dijadikan sebagai identitas, apalagi sebagai identitas otentik Islam. Karena al-Qur’an menggunakan bahasa manusia (Q.S.12: 02). Dan bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh maksud Tuhan yang Maha Luas (Q.S.17:109).
Oleh karena itu, Islam harus keluar dari kungkungan identitas keislaman yang kaku. Identitas Islam tidak tunggal, tidak stagnan, tidak terkatakan, dan tidak berwujud. Artinya, identitas Islam bukan bahasa atau simbol-simbol melainkan jiwa dari simbol dan bahasa tersebut. Sebagai sebuah jiwa dia tidak mengendap dalam satu ruang semata, melainkan berada dalam tiap-tiap ruang. Sebab jika Islam itu begitu luas, sehingga tidak bisa mengendap hanya dalam satu simbol yang kemudian dijadikan sebagai identitas. Orang yang dianggap baik oleh Tuhan bukan orang yang bersurban, cantik, hitam, atapun putih, melainkan orang yang berjiwa mulia. Dengan demikian, sesuatu yang Islami bukan karena dia menampilkan simbol-simbol tertentu yang dianggap sebagai identitas Islam, melainkan nilainya. Itulah esensi Islam sebagai petunjuk manusia (hudan li al-nass). Wallahu A’lam
Sumber : Agus Hilman
Filsafat Hidup Rasulullah
Firman Allah : " Dan barang siapa ber Tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
( keperluan )-nya ". ( QS Ath Thalaq : 3 )
Firman Allah : " Dan apa saja yang engkau Infaqkan, maka Allah akan mengganti. Dan DIA-lah sebaik-baik Pemberi Rizqi ". ( QS Saba' : 39 )
Seorang muslim yang sejati adalah apabila ia telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola dalam hidupnya. Kita ikuti sikap dan tindak-tanduknya, demikian pula filsafat hidupnya harus diteladani.
Bagaimana filsafat hidup Rasulullah? Filsafat hidup adalah hal yang abstrak, yakni bagaimana seseorang memandang suatu persoalan hidup, cara memecahkan atau menyelesaikannya. Ada beberapa filsafat hidup yang dianut oleh manusia:
1. Pertama : Dalam hidup ini yang penting perut kenyang dan badan sehat.
2. Kedua : Dalam hidup ini mengikuti ke mana arah angin berhembus, angin berhembus ke Timur, ikut ke Timur, angin berhembus ke Barat, ikut ke Barat, suapaya selamat dan mendapatkan apa yang diinginkan.
3. Ketiga : Dalam hidup ini yang penting "GUE SENENG" masa bodoh dengan urusan orang lain.
4. Keempat : Dalam hidup ini harus baik di dunia dan baik di akhirat.
Sebagai muslim sudah selayaknya kita berfilsafat sebagaimana filsafat hidup Rasulullah SAW.Filsafat hidup Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. Pertama : Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria orang yang baik itu? Rasulullah menjawab:
Yang artinya: "Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain".Jika ia seorang hartawan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga, sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Inilah ciri-ciri orang yang baik. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat, dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan golongannya sendiri.
Pokoknya segala kemampuan/potensi hidupnya dapat dinikmati orang lain, dengan kata lain orang baik adalah orang yang dapat memfungsikan dirinya ditengah-tengah masyarakat dan bermanfaat.
Sebaliknya kalau ada orang yang tidak bisa memberi manfaat untuk orang lain atau masyarakat sekitarnya bahkan segala kenikmatan hanya dinikmatinya sendiri, berarti orang itu jelek. Adanya orang seperti itu tidak merubah keadaan dan perginyapun tidak merugikan masyarakat.
Jadi filsafat hidup Rasulullah SAW menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk memegang filsafat hidup. Orang yang hanya menanam rumput untuk makanan ternak ia akan mendapatkan rumput tapi padinya tidak dapat, sebaliknya orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan padi dan sekaligus mendapatkan rumput, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri. Begitu juga dengan kita yang hidup ini, kalau niat dan motivasinya sekedar mencari rumput (uang) iapun akan memperolehnya, tetapi tidak dapat padinya atau tidak akan memperoleh nilai ibadah dari seluruh pekerjaannya.
Oleh karena itu dalam menjalankan kehidupan, niatkan untuk ibadah dengan suatu keyakinan bahwa pekerjaan dan tempat kerja kita, kita yakini sebagai tempat mengabdi kepada Nusa, Bangsa dan Negara, dan sebagai upaya menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka setiap hendak berangkat ke tempat bekerja berniatlah beribadah, Insya Allah seluruh pekerjaan kita akan bernilai ibadah, dan mendapatkan pahala.
Alangkah ruginya orang yang hidup ini niatnya hanya mencari "rumput" walau hal itu penting, tetapi kalau niatnya hanya itu saja, orang tersebut termasuk orang yang rugi, karena ia tidak akan mendapatkan nilai ibadah dari pekerjaannya.
Yang namanya ibadah bukan hanya shalat, zakat, puasa atau membaca Al-Qur'an saja, tetapi bekerja, mengabdi kepada masyarakat, Negara dan Bangsa dengan niat Lillahi Ta'ala ataupun ibadah. Hal ini penting untuk diketahui, karena ada yang berfilsafat: Kalau ada duitnya baru mau kerja, kalau tidak ada duitnya malas bekerja.
2. Kedua : Rasul pernah ditanya, wahai Rasulullah! Orang yang paling baik itu yang bagaimana? Rasul menjawab :
Yang artinya : "Sebaik-baiknya diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya".
Sudah barang tentu orang yang semacamn ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya kalau ada orang yang amalnya baik tapi umurnya pendek masyarakat akan merasa kehilangan. Rasulullah juga mengatakan,"Seburuk-buruknya manusia yaitu mereka yang panjang umurnya tapi jelek perbuatannya".
Jadi sebenarnya kalau ada orang semacam itu mendingan umurnya pendek saja, supaya masyarakat sekitarnya tidak banyak menderita dan agar ia tidak terlalu berat tanggung jawabnya di hadapan Allah. Orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya itulah orang yang baik.
Permasalahannya sekarang bagaimana agar kita mendapat umur yang panjang. Sementara orang ragu, bukankah Allah telah menentukan umur seseorang sebelum lahir? Pernyataan ini memang benar, tapi jangan lupa Allah adalah Maha Kuasa menentukan umur yang dikehendaki-Nya.
Adapun resep agar umur panjang sebagaimana resep Rasulullah :Secara lahiriyah, kita semua sependapat untuk hidup sehat, harus hidup teratur, makan yang bergizi serta menjaga kondisi dengan berolahraga yang teratur.
Secara spiritual orang yang ini panjang umur ada dua resepnya:1. Pertama : Suka bersedekah yakni melepaskan sebahagian hartanya di jalan Allah untuk kepentingan masyarakat, anak yatim, fakir miskin maupun untuk kepentingan agama. Dengan kata lain orang yang kikir atau bakhil sangat mungkin umurnya pendek.
2. Kedua : Suka silahturahmi, Silah berarti hubungan dan rahmi berati kasih sayang, jadi suka mengakrabkan hubungan kasih sayang dengan sesama, saling kunjung atau dengan saling kirim salam.
Sementara para ahli tafsir menyatakan sekalipun bukan umur itu yang bertambah misalnya 60 tahun, karena sering silahturahmi meningkat menjadi 62 tahun, banyak sedekahnya menjadi 65 tahun. Kalau bukan umurnya yang bertambah, setidak-tidaknya berkah umur itu yang bertambah. Umurnya tetap tapi kualitas dari umur itu yang bertambah.
3. Ketiga : Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul Menjawab :
Yang artinya : "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung".
Kalau kita bandingkan dengan tahun kemarin, ilmu dan ibadahnya, dedikasinya, etos kerja, disiplin kerja meningkat, dan akhlaknya semakin baik, orang tersebut adalah orang yang beruntung. Dengan kata lain filsafat hidup Rasulullah yang ketiga adalah "Tiada hari tanpa peningkatan kualitas hidup".
Pernyataan Rasul yang kedua :
Yang artinya: "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi".
Jika amalnya, akhlaknya, ibadahnya, kedisplinannya dan dedikasinya tidak naik dan juga tidak turun maka orang tersebut termasuk orang yang merugi.
Sementara orang bertanya: Kenapa dikatakan rugi padahal segala-galanya tidak merosot? Bagaimana dikatakan tidak rugi, mata sudah bertambah kabur, uban sudah bertabu, giginya sudah pada gugur dan sudah lebih dekat dengan kubur, amalnya tidak juga bertambah, kualitas hidup tidak bertambah maka ia adalah rugi. Dan Rasul mengatakan selanjutnya :
Yang artinya : "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka orang semacam itu dilaknat oleh Allah".
Oleh karena itu pilihan kita tidak ada lain kecuali yang pertama, yakni tidak ada hari tanpa peningkatan kualitas hidup. Sebagai umat Islam, kedispilinan, dedikasi, kepandaian, kecerdasan, keterampilan harus kita tingkatkan, agar kita termasuk orang yang beruntung.
4. Keempat : Rasul pernah ditanya : "Wahai Rasulullah! Suami dan isteri yang paling baik itu bagaimana? Rasul menjawab : "Suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya selalu lembut terhadap isterinya, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyakiti perasaan isterinya, tetap menghormati dan menghargai isterinya.
Sebab ada sikap seorang suami yang suka mengungkit-ungkit segala kekurangan isterinya, sehingga dapat menyinggung perasaannya, yang demikian termasuk suami yang tidak baik biarpun keren dan uangnya banyak. Hakekatnya suami yang tidak baik yaitu suami yang kasar terhadap isterinya. Dan seorang laki-laki yang mulia ialah yang bisa memuliakan kaum wanita, tidak suka menyepelekan. Sampai-sampai Rasul masih membela kepada kaum wanita beberapa saat sebelum Beliau wafat. Beliau sempat berpesan: "Aku titipkan nasib kaum wanita kepadamu". Diulangnya tiga kali. Karena kaum wanita kedudukannya serba lemah. Jadi kalau seoarang suami memiliki akhlak yang tidak baik maka penderitaan sang isteri luar biasa. Hal ini perlu kita ingat karena segala sukses yang dicapai oleh sang suami pada hakekatnya adalah karena andil sang isteri. Demikian juga andil isteri yang membantu mencarikan nafkah.
5. Kelima : Rasul pernah ditanya, "Wahai Rasulullah! Orang yang benar itu yang bagaimana? Rasul menjawab,"Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar. Oleh karena itu para filosof mengatakan, "Orang yang benar adalah bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang benar adalah mereka yang sanggup mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang dan bila terlanjur melakukannya, ia memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan yang salah itu. Ibarat anak sekolah mengerjakan soal, kalau salah tidak jadi masalah, asal setelah dikoreksi tidak mengulangi kesalahannya. Sampai-sampai ada ungkapan yang tidak enak didengar tapi benar menurut tuntunan Islam, yaitu: Bekas maling itu lebih baik dari pada bekas santri. Kita tahu bahwa santri adalah orang yang taat beragama, sedangkan maling penjahat, pemerkosa, dan sebagainya tapi setelah bertaubat menjadi orang yang baik, kembali ke jalan yang benar. Orang yang demikian matinya menjadi khusnul khotimah. Memang yang ideal, orang yang baik itu dari muda sampai tua baik terus, tapi hal itu jarang.
Kesalahan yang sudah terlanjur, selama masih mau bertaubat tidak jadi masalah. Oleh karena itu, segala hukuman, seperti hukuman administrasi dalam kepegawaian, selalu didasarkan atas beberapa pertimbangan. Apakah kesalahannya tidak bisa ditolerir, apakah orang tersebut perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atau tidak. Apakah kesalahannya terpaksa atau karena kebodohannya? Maka berbagai pertimbangan perlu dilakukan sehingga ada kesempatan bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, agar dia bisa kembali menjadi orang yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :
Yang artinya: "Walaupun engkau pernah melakukan kesalahan sehingga langit ini penuh dengan dosamu, asal saja kamu bertaubat, pasti akan terima oleh Allah".
6. Keenam : Suka memberi. Sabda Nabi :
Yang artinya : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".
Orang yang suka memberi, martabatnya lebih terhormat daripada orang yang suka menerima. Allah berfirman :
Yang artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261)
Tidak ada orang yang suka sedekah, kemudian jatuh miskin. Umumnya yang jatuh miskin karena suka judi, togel, dan minuman keras. Dan resep kaya menurut Islam adalah kerja keras, hidup hemat, dan suka sedekah.
7. Ketujuh : Rasul pernah ditanya oleh para sahabat : "Wahai Rasul! Si pulan itu orang yang luar biasa hebatnya. Dia selalu berada dalam masjid, siang malam melakukan shalat, puasa, I'tikaf, berdo'a. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabat, "Apakah orang itu punya keluarga?" Sahabat menjawab, "Punya Ya Rasul". Kata Rasul : "Orang tersebut adalah orang yang tidak baik!. Saya ini suka ibadah tapi disamping itu sebagai seorang suami, berusaha mencari nafkah. Sampai Rasul menyatakan : " Tergolong tidak baik orang yang hanya mementingkan urusan ukhrawi tetapi melalaikan urusan dunia".
Juga tidak benar orang yang hanya mementingkan urusan duniawi tapi melalaikan urusan ukhrawi. Yang paling baik adalah seimbang antara kepentingan duniawi dengan kepentingan ukhrowi dan tidak berat sebelah.
Remaja Islam, Remaja Dakwah
Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.
Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.
Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Muj?dalah [58]: 11)
Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.
Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk ?kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya.****Heru Cahyono
Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.
Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Muj?dalah [58]: 11)
Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.
Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk ?kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya.****Heru Cahyono
Remaja Islam Sekarang
Ikhwan/akhwat yang dimuliakan Allah SWT.., mungkin kita sebagai REMAJA ISLAM harusnya sadar bahwa kejayaan islam ada di tangan kita, seharusnya kita sadar bahwa kita harus menjadi ujung tombak untuk berda'wah menyampaikan risalah islam ke pada orang lain, agar tidak terjerumus kedalam kekafiran, akan tetapi remaja muslim sekarang sudah terlarut akan indahnya buaian dunia fana ini. Fakta sekarang dari kehancuran remaja islam adalah, tidak mau melaksanakan sholat ketika sudah medengar adzan, dan ketika sholat pun sering di tunda-tunda, banyak remaja islam yang suka melihat acara-acara di televisi yang sesungguhnya itu akan merusak aqidah keislaman kita, tetapi jarang remaja yang berbondong-bondong untuk mendatangi majelis ta'lim (kecuali di podok pesantren lho yaa..?hehehehe...,), banyak para remaja islam yang bacaan kesehariannya itu cuma novel, komik dan koran, tetapi Al-quran yang menjadi kitab suci kita jarang kita baca, apa lagi membaca bahkan ada sebagian remaja islam yang tidak punya Al quran. Berapa banyak remaja yang mabid tiap malam di masjid?tetapi berapa banyak jika dibandingkan dengan remaja yang sering tongkrongan di pinggir jalan?.Itu lah fakta dari remaja islam jaman sekarang ini. Dan anehnya mereka bangga meyandang gelar STMJ alias "Sholat Terus Maksiat Jalan".
"Da'wah...."?. Kata ini kelihatannya sangat berat untuk di ucapkan apa lagi dijalankan untuk para remaja islam sekarang.Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak lidahpun kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Kita menganggap bahwa da'wah adalah tugas dari para orang yang menyandang gelar ustadz,haji bahkan L.C..!!Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya mendengarkan seperti Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan.Sebenarnya DA'WAH adalah tanggung jawab seluruh umat muslim, cuman karena tugas da'wah ini cukup berat, dan tidak semua orang bisa bertahan menunaikannya jadi secara tidak langsung di serahkan kepada mereka yang benar-benar memahami semua tentang islam.
Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Muj?dalah [58]: 11)
Jalan yang harus ditempuh untuk tegaknya syari'ah islamiyah adalah ber da'wah, maka dari itu da'wah adalah kewajiban yang harus dipikul oleh setiap orang yang mengaku dirinya islam. Alhamdulillah di era sekarang perjalan da'wah bisa lebih luas. Tidak seperti jaman orde baru yang dilarang mengumpulkan orang-orang untuk membicarakan kepentingan dan kemajuan golongan tertentu. Hal ini bisa kita lihat di film "Sang Murabbi..". Di Film ini sang tokoh utama yang bernama Ustdz. Rahmat Abdullah yang rela keluar masuk kampung, naik turun gunung hanya untuk berda'wah tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Berikut adalah lirik dari nasyid yang berjudul Sang Murabbi. Apabila kita benar-benar menghayati setiap kalimat di lirik ini, pasti kita akan tahu betul tanggung jawab setiap muslim untuk berda'wah, Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk berjihad di jalan-Nya..,Amin...
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani..
"Da'wah...."?. Kata ini kelihatannya sangat berat untuk di ucapkan apa lagi dijalankan untuk para remaja islam sekarang.Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak lidahpun kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Kita menganggap bahwa da'wah adalah tugas dari para orang yang menyandang gelar ustadz,haji bahkan L.C..!!Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya mendengarkan seperti Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan.Sebenarnya DA'WAH adalah tanggung jawab seluruh umat muslim, cuman karena tugas da'wah ini cukup berat, dan tidak semua orang bisa bertahan menunaikannya jadi secara tidak langsung di serahkan kepada mereka yang benar-benar memahami semua tentang islam.
Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Muj?dalah [58]: 11)
Jalan yang harus ditempuh untuk tegaknya syari'ah islamiyah adalah ber da'wah, maka dari itu da'wah adalah kewajiban yang harus dipikul oleh setiap orang yang mengaku dirinya islam. Alhamdulillah di era sekarang perjalan da'wah bisa lebih luas. Tidak seperti jaman orde baru yang dilarang mengumpulkan orang-orang untuk membicarakan kepentingan dan kemajuan golongan tertentu. Hal ini bisa kita lihat di film "Sang Murabbi..". Di Film ini sang tokoh utama yang bernama Ustdz. Rahmat Abdullah yang rela keluar masuk kampung, naik turun gunung hanya untuk berda'wah tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Berikut adalah lirik dari nasyid yang berjudul Sang Murabbi. Apabila kita benar-benar menghayati setiap kalimat di lirik ini, pasti kita akan tahu betul tanggung jawab setiap muslim untuk berda'wah, Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk berjihad di jalan-Nya..,Amin...
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani..
Langganan:
Postingan (Atom)
