Tampilkan postingan dengan label Carpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Carpen. Tampilkan semua postingan
Very--Very Siboek Banget Malam ini
Huft........malam ini sibuk bener ya......tumben g seprti biasanya......kenapa? pasti temen2 nanya gitu.....
niech lagi bantuin mbak..mbak yang lagi ngelamar CPNS.....yang ini belum selesai bantu...eh yang sana udah minta bantuan..terus yang lainnya lagie....ich....mana mbak...mbaknya ada yang bentak2 Q lagie .....huft....
eitszzz............jangan cemberut......tetep jaga senyumnya......yach..dalam hatiku ini juga berkata...nie mbak e kok GAPTEK banget yach.....dah di ajarin..pake ngeyel lagie.....tapi saya selalu mencoba untuk tersenyum dan tersenyum.......saya bimbing pelan2 dan akhirnya bisa....
eits...belum sempet duduk di tempat saya (server) dah di panggil lagi dengan client yang lainnya.....
"mas...mas...bantuin aku dunk....nie gimana?" teriak client lainnya......
"Ok, mbak..bentar ya....." jawab saya...
Ya beginilah sibuknya menjadi OP Warnet......harus sabar menghadapi client yang sangat berbeda latar belakang......ada yang suka marah..marah...ada yang murah senyum...ada yang cemberut......dan pastinya masih banyak lagie yang lainlah............
Setelah saya menyelesaikan print2nan dari mbak e yang banyak tadi.....yach...saya langsung aktifin dech FB Q....biasa ngecek status..dan senggol 2 temen2 FBkers....hehehehejadi On Line lagi dunk......kayak lagunya Saykoji ajach....dah ah.....beberapa menit kemudian ada client yang masuk...seprti biasa saya sapa dengan lembut dan senyumku yang menarik......"silahkan mas...." sapa saya.....dan diapun menjawab..."iya mas..nomor berapa yang kosong.." kata client....silahkan nomor 4......
Client tadi langsung masuk ke bilik 4.....beberapa saat kemudian....client tadi memanggil saya....
"mas ni mousenya g jalan...."
"ok saya kesitu....minta di restart lagi dech..." jawab saya
kejadian ini g hanya sekali atau dua kali..bahkan sering..di setiap komputer yang habis mati..biasanya tiba2 kalo dinyalain ya kejadian ini kambuh...mouse g bisa jalan/gerak....ini yang menurut sya kadang yang membuat sebel si pelanggan setia. yach namanya aja komputer..mau gimana lagie....
sambil saya menghirup udara segar di teras warnet ini...saya melihat ruko sebelah masih sibuk nglembur buat bilik....rencana sich yang saya dengar katanya ruko sebelah mau mendirikan/buka warnet juga....yach..jadi saingan dech....besuk kami dari halilintar net punya rencana....iya rencana..tapi saya belum tau apa yang akan direncanakan oleh si bos.....yach saya ngikut aja, yang penting kita mencoba untuk saingan secara sehat..itu pasti.....
dah dulu ah....saya mau nonton TV...dah g mud lagi mau nulis....besuk nulis lagie.....bye temen2.....
niech lagi bantuin mbak..mbak yang lagi ngelamar CPNS.....yang ini belum selesai bantu...eh yang sana udah minta bantuan..terus yang lainnya lagie....ich....mana mbak...mbaknya ada yang bentak2 Q lagie .....huft....
eitszzz............jangan cemberut......tetep jaga senyumnya......yach..dalam hatiku ini juga berkata...nie mbak e kok GAPTEK banget yach.....dah di ajarin..pake ngeyel lagie.....tapi saya selalu mencoba untuk tersenyum dan tersenyum.......saya bimbing pelan2 dan akhirnya bisa....
eits...belum sempet duduk di tempat saya (server) dah di panggil lagi dengan client yang lainnya.....
"mas...mas...bantuin aku dunk....nie gimana?" teriak client lainnya......
"Ok, mbak..bentar ya....." jawab saya...
Ya beginilah sibuknya menjadi OP Warnet......harus sabar menghadapi client yang sangat berbeda latar belakang......ada yang suka marah..marah...ada yang murah senyum...ada yang cemberut......dan pastinya masih banyak lagie yang lainlah............
Setelah saya menyelesaikan print2nan dari mbak e yang banyak tadi.....yach...saya langsung aktifin dech FB Q....biasa ngecek status..dan senggol 2 temen2 FBkers....hehehehejadi On Line lagi dunk......kayak lagunya Saykoji ajach....dah ah.....beberapa menit kemudian ada client yang masuk...seprti biasa saya sapa dengan lembut dan senyumku yang menarik......"silahkan mas...." sapa saya.....dan diapun menjawab..."iya mas..nomor berapa yang kosong.." kata client....silahkan nomor 4......
Client tadi langsung masuk ke bilik 4.....beberapa saat kemudian....client tadi memanggil saya....
"mas ni mousenya g jalan...."
"ok saya kesitu....minta di restart lagi dech..." jawab saya
kejadian ini g hanya sekali atau dua kali..bahkan sering..di setiap komputer yang habis mati..biasanya tiba2 kalo dinyalain ya kejadian ini kambuh...mouse g bisa jalan/gerak....ini yang menurut sya kadang yang membuat sebel si pelanggan setia. yach namanya aja komputer..mau gimana lagie....
sambil saya menghirup udara segar di teras warnet ini...saya melihat ruko sebelah masih sibuk nglembur buat bilik....rencana sich yang saya dengar katanya ruko sebelah mau mendirikan/buka warnet juga....yach..jadi saingan dech....besuk kami dari halilintar net punya rencana....iya rencana..tapi saya belum tau apa yang akan direncanakan oleh si bos.....yach saya ngikut aja, yang penting kita mencoba untuk saingan secara sehat..itu pasti.....
dah dulu ah....saya mau nonton TV...dah g mud lagi mau nulis....besuk nulis lagie.....bye temen2.....
“Bualan” Ajo Sidi buat Kakek Garin
Oleh Wildan Nugraha
MUNGKIN, untuk situasi kita sekarang ini cerpen “Robohnya Surau Kami” AA Navis adalah contoh karya yang makin menemukan aktualisasinya. Dalam cerpen ini, melalui “bualan” tokoh Ajo Sidi, disebutkan bahwa bumi Indonesia adalah mahakaya-raya, namun manusianya malas-malas, saling berkelahi, saling menipu, saling memeras antara mereka sendiri sehingga hasil tanahnya orang lainlah yang mengambil.
“Robohnya Surau Kami”, karya salah seorang pengarang terbaik kita, Ali Akbar Navis (17 November 1924–22 Maret 2003), menceritakan Kakek Garin, seorang penjaga sekaligus imam surau yang taat beribadah. Hingga usia tua dia hidup membujang. Ia mendapatkan uang dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari bagi hasil pemunggahan kolam ikan yang terletak di depan surau, dan dari fitrah Id warga kepadanya sekali setahun. Ia juga kadang mendapat upah dari kepandaiannya mengasah pisau dan gunting, namun kepandaian ini tidak dijadikannya profesi, tapi hobi semata.
Semua “baik-baik saja” sebelum suatu kali Ajo Sidi, seorang pembual, mengunjunginya minta diasahkan pisau. Dan tragis, beberapa hari kemudian, Kakek Garin didapati bunuh diri, menggorok leher sendiri. Tokoh “Aku”—sebagai pencerita—merasa pasti bahwa penyebab kemuram-durjaan Kakek adalah tersindir oleh dongengan Ajo Sidi. Dalam bualannya, Ajo Sidi menceritakan orang-orang yang sudah berpulang. Ia bercerita tentang Haji Saleh yang bersama sekian banyak orang “saleh” lainnya (bahkan ada yang sudah sampai empat belas kali ke Mekkah dan bergelar syekh pula) kena murka Tuhan di Padang Mahsyar, dan akhirnya harus masuk ke neraka, padahal mereka merasa sebagai umat yang paling taat beribadah, menyembah, menyebut, memuji-muji kebesaran Tuhan, mempropagandakan keadilan-Nya, bahkan “kitab-Mu pun kami hafal di luar kepala kami”. Kritik Tuhan tajam ke kepada Haji Saleh dan teman-temannya: “Aku beri kau negeri kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena peribadatan tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat.”
“Robohnya Surau Kami” mendapat tanggapan luas sejak pemuatannya di majalah Kisah tahun 1955. Cerpen ini memang bisa disebut kontroversial, ada yang setuju ada yang tidak. Bahkan di Malang Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan organisasi Islam lainnya menggelar seminar khusus untuk menilai cerpen ini. Di Yogyakarta, HMI Universitas Gajah Mada mengadaptasi cerpen ini dalam sebuah lakon ke atas pentas. Lakon ini dimainkan secara monolog oleh seorang pemain dan suara Tuhan keluar dari loudspeaker.
Yang hendak disampaikan AA Navis memang bukan sesuatu yang “nyaman”. Melalui cerpen ini, menurut Adilla (2003), Navis secara kritis melihat situasi kehidupan beragama masyarakat kita yang memandang ibadah itu terbatas pada mengaji, puasa, naik haji, dan shalat. Navis menawarkan bahwa kerja itu juga ibadah. Bekerja dengan tekun pada jalan yang baik, mengolah hasil bumi, kekayaan alam, atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan juga ibadah. Lebih jauh, tambah Adilla, kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia. Usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara-saudara yang lain dalam rangka mencari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Usaha untuk kehidupan dunia dan akhirat haruslah seimbang. Atau seperti pernah dikatakan kritikus Sapardi Djoko Damono, melalui cerpen ini, “Navis mengingatkan kita akan pentingnya mencari nafkah, bekerja keras, mengucurkan peluh di dunia ini—di samping menyebut-nyebut dan memuji nama Allah. Kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita.”
Kiranya jelas, Navis melalui “Robohnya Surau Kami” telah dengan tajam melukiskan betapa agama kehilangan spiritnya manakala ia dihayati semata-mata sebagai seremoni, sebagai ritual rutin. Pandangan Navis ini dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam yang berkembang di kalangan ulama muda di Padangpanjang, kota kelahiran dan tempat ia menghabiskan masa remajanya. Navis seolah hendak menyindir mereka yang cenderung mengambil jalan fatalis dalam hidupnya, “takut” serta “pasrah” terhadap apa pun ketentuan-Nya, namun tanpa disadari mengarah juga terhadap sikap egois dan individualistik yang justru tidak searah dengan semangat Islam. Dalam biografinya yang dikerjakan Abrar Yusra (1994), Navis berkata di antaranya: “Sikap agama dan budaya Islam di Indonesia mulanya amat dipengaruhi oleh tarikat. Orang-orang tarikat berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan menyatukan diri. Di situ amalannya, hanya itu. Maka tak ada pilihan lain. Karena itu orang Islam di Indonesia tak berkembang pemikirannya. Orang hanya menghabiskan waktu untuk zikir, takbir, dan lain-lain. Kepedulian sosial jadi tumpul. Dinamika hilang. Tak mengherankan jika kondisi mereka miskin. Kalau ada orang yang berbeda, yang berbuat lain, maka dipandang bersifat duniawi.”
Di sisi lain, seperti pernah ditulis oleh Umar Junus (1994), sebenarnya “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang silepsis (ambigu). Tokoh “Aku” memang menolak pandangan kolot Kakek, malah membencinya, namun sekaligus ia menyayangkan kematiannya, kematian yang menyebabkan “surau kami” roboh dan hilangnya syiar agama. Pun terhadap Ajo Sidi: ia tidak menyangkal “kebenaran” dongeng Ajo Sidi; tapi sekaligus menganggap Ajo Sidi sama sekali tidak bertanggung jawab. Saat tahu Kakek Garin meninggal, Ajo Sidi tetap pergi kerja dan hanya meninggalkan pesan kepada istrinya agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.
Haidar Bagir, dalam wawancara sebuah harian Ibu Kota beberapa waktu yang lalu, berkata bahwa dia pernah menulis artikel tentang pendidikan agama kita yang gagal. Kata pemimpin Mizan itu, meski banyak orang pergi haji, umrah, zikir akbar, ternyata sebagai bangsa kita belum juga beranjak lebih baik. Sebabnya karena kita diajar agama hanya dari sisi legal formalistik—shalat lima waktu sudah jadi muslim yang baik. Pernyataan-pernyataan seperti itu, yang “nakal” seperti juga dari Navis, tentu tidak harus dipusingkan karena justru berharga. Barangkali di antaranya yang tersirat dan penting terus dikejar: apakah ritual-ritual itu termanifestasikan dalam akhlak? Karena toh banyak koruptor shalat. Bila shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu bukannya berarti kegemaran korupsi tidak keji dan mungkar—hanya karena rasanya kita belum pernah mendengar ada koruptor dipukuli lalu dibakar massa seperti maling sepatu bekas?
“Robohnya Surau Kami” disebut-sebut pengamat sastra sebagai salah satu cerpen bernuansa Islam terbaik dengan warna Indonesia. Ia dipublikasikan pertama kali lebih dari limapuluh tahun silam; telah berusia tua, tapi tetap aktual—bila bukan semakin aktual saja karena “Haji Saleh dan kawan-kawannya” ternyata banyak saja di Tanah Air?
Buku Bacaan:
Adilla, Ivan. 2003. A.A. Navis: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.
Junus, Umar. 1994. “Navis dan/sebagai Teks/Wacana: Kemarau yang Mengg/Halang Robohnya Surau Kami” Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Ed. Abrar Yusra dan Priyo Utomo. Jakarta: Gramedia.
Navis, A.A. 2002. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia.
Yusra, Abrar. 1994. Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Jakarta: Gramedia.
(Esai ini dimuat di Sabili No 3 Th XV 23 Agustus 2007/10 Sya’ban 1428)
Wildan Nugraha, kelahiran Bandung, 12 September 1982. Kuliah di Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, esai dan tinjauan buku dimuat di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Galamedia, Radar Bandung, Sabili, Annida, Buletin Wanadri. Tinggal di Jl Leuwi Anyar VII No 37, Bandung 40234. Telepon: 022-5226967. HP: 0817613420. Juga dapat dikontak melalui email: wildanugraha@yahoo.com, dan wildan.nugraha@gmail.com.
MUNGKIN, untuk situasi kita sekarang ini cerpen “Robohnya Surau Kami” AA Navis adalah contoh karya yang makin menemukan aktualisasinya. Dalam cerpen ini, melalui “bualan” tokoh Ajo Sidi, disebutkan bahwa bumi Indonesia adalah mahakaya-raya, namun manusianya malas-malas, saling berkelahi, saling menipu, saling memeras antara mereka sendiri sehingga hasil tanahnya orang lainlah yang mengambil.
“Robohnya Surau Kami”, karya salah seorang pengarang terbaik kita, Ali Akbar Navis (17 November 1924–22 Maret 2003), menceritakan Kakek Garin, seorang penjaga sekaligus imam surau yang taat beribadah. Hingga usia tua dia hidup membujang. Ia mendapatkan uang dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari bagi hasil pemunggahan kolam ikan yang terletak di depan surau, dan dari fitrah Id warga kepadanya sekali setahun. Ia juga kadang mendapat upah dari kepandaiannya mengasah pisau dan gunting, namun kepandaian ini tidak dijadikannya profesi, tapi hobi semata.
Semua “baik-baik saja” sebelum suatu kali Ajo Sidi, seorang pembual, mengunjunginya minta diasahkan pisau. Dan tragis, beberapa hari kemudian, Kakek Garin didapati bunuh diri, menggorok leher sendiri. Tokoh “Aku”—sebagai pencerita—merasa pasti bahwa penyebab kemuram-durjaan Kakek adalah tersindir oleh dongengan Ajo Sidi. Dalam bualannya, Ajo Sidi menceritakan orang-orang yang sudah berpulang. Ia bercerita tentang Haji Saleh yang bersama sekian banyak orang “saleh” lainnya (bahkan ada yang sudah sampai empat belas kali ke Mekkah dan bergelar syekh pula) kena murka Tuhan di Padang Mahsyar, dan akhirnya harus masuk ke neraka, padahal mereka merasa sebagai umat yang paling taat beribadah, menyembah, menyebut, memuji-muji kebesaran Tuhan, mempropagandakan keadilan-Nya, bahkan “kitab-Mu pun kami hafal di luar kepala kami”. Kritik Tuhan tajam ke kepada Haji Saleh dan teman-temannya: “Aku beri kau negeri kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena peribadatan tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat.”
“Robohnya Surau Kami” mendapat tanggapan luas sejak pemuatannya di majalah Kisah tahun 1955. Cerpen ini memang bisa disebut kontroversial, ada yang setuju ada yang tidak. Bahkan di Malang Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan organisasi Islam lainnya menggelar seminar khusus untuk menilai cerpen ini. Di Yogyakarta, HMI Universitas Gajah Mada mengadaptasi cerpen ini dalam sebuah lakon ke atas pentas. Lakon ini dimainkan secara monolog oleh seorang pemain dan suara Tuhan keluar dari loudspeaker.
Yang hendak disampaikan AA Navis memang bukan sesuatu yang “nyaman”. Melalui cerpen ini, menurut Adilla (2003), Navis secara kritis melihat situasi kehidupan beragama masyarakat kita yang memandang ibadah itu terbatas pada mengaji, puasa, naik haji, dan shalat. Navis menawarkan bahwa kerja itu juga ibadah. Bekerja dengan tekun pada jalan yang baik, mengolah hasil bumi, kekayaan alam, atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan juga ibadah. Lebih jauh, tambah Adilla, kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia. Usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara-saudara yang lain dalam rangka mencari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Usaha untuk kehidupan dunia dan akhirat haruslah seimbang. Atau seperti pernah dikatakan kritikus Sapardi Djoko Damono, melalui cerpen ini, “Navis mengingatkan kita akan pentingnya mencari nafkah, bekerja keras, mengucurkan peluh di dunia ini—di samping menyebut-nyebut dan memuji nama Allah. Kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita.”
Kiranya jelas, Navis melalui “Robohnya Surau Kami” telah dengan tajam melukiskan betapa agama kehilangan spiritnya manakala ia dihayati semata-mata sebagai seremoni, sebagai ritual rutin. Pandangan Navis ini dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam yang berkembang di kalangan ulama muda di Padangpanjang, kota kelahiran dan tempat ia menghabiskan masa remajanya. Navis seolah hendak menyindir mereka yang cenderung mengambil jalan fatalis dalam hidupnya, “takut” serta “pasrah” terhadap apa pun ketentuan-Nya, namun tanpa disadari mengarah juga terhadap sikap egois dan individualistik yang justru tidak searah dengan semangat Islam. Dalam biografinya yang dikerjakan Abrar Yusra (1994), Navis berkata di antaranya: “Sikap agama dan budaya Islam di Indonesia mulanya amat dipengaruhi oleh tarikat. Orang-orang tarikat berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan menyatukan diri. Di situ amalannya, hanya itu. Maka tak ada pilihan lain. Karena itu orang Islam di Indonesia tak berkembang pemikirannya. Orang hanya menghabiskan waktu untuk zikir, takbir, dan lain-lain. Kepedulian sosial jadi tumpul. Dinamika hilang. Tak mengherankan jika kondisi mereka miskin. Kalau ada orang yang berbeda, yang berbuat lain, maka dipandang bersifat duniawi.”
Di sisi lain, seperti pernah ditulis oleh Umar Junus (1994), sebenarnya “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang silepsis (ambigu). Tokoh “Aku” memang menolak pandangan kolot Kakek, malah membencinya, namun sekaligus ia menyayangkan kematiannya, kematian yang menyebabkan “surau kami” roboh dan hilangnya syiar agama. Pun terhadap Ajo Sidi: ia tidak menyangkal “kebenaran” dongeng Ajo Sidi; tapi sekaligus menganggap Ajo Sidi sama sekali tidak bertanggung jawab. Saat tahu Kakek Garin meninggal, Ajo Sidi tetap pergi kerja dan hanya meninggalkan pesan kepada istrinya agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.
Haidar Bagir, dalam wawancara sebuah harian Ibu Kota beberapa waktu yang lalu, berkata bahwa dia pernah menulis artikel tentang pendidikan agama kita yang gagal. Kata pemimpin Mizan itu, meski banyak orang pergi haji, umrah, zikir akbar, ternyata sebagai bangsa kita belum juga beranjak lebih baik. Sebabnya karena kita diajar agama hanya dari sisi legal formalistik—shalat lima waktu sudah jadi muslim yang baik. Pernyataan-pernyataan seperti itu, yang “nakal” seperti juga dari Navis, tentu tidak harus dipusingkan karena justru berharga. Barangkali di antaranya yang tersirat dan penting terus dikejar: apakah ritual-ritual itu termanifestasikan dalam akhlak? Karena toh banyak koruptor shalat. Bila shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu bukannya berarti kegemaran korupsi tidak keji dan mungkar—hanya karena rasanya kita belum pernah mendengar ada koruptor dipukuli lalu dibakar massa seperti maling sepatu bekas?
“Robohnya Surau Kami” disebut-sebut pengamat sastra sebagai salah satu cerpen bernuansa Islam terbaik dengan warna Indonesia. Ia dipublikasikan pertama kali lebih dari limapuluh tahun silam; telah berusia tua, tapi tetap aktual—bila bukan semakin aktual saja karena “Haji Saleh dan kawan-kawannya” ternyata banyak saja di Tanah Air?
Buku Bacaan:
Adilla, Ivan. 2003. A.A. Navis: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.
Junus, Umar. 1994. “Navis dan/sebagai Teks/Wacana: Kemarau yang Mengg/Halang Robohnya Surau Kami” Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Ed. Abrar Yusra dan Priyo Utomo. Jakarta: Gramedia.
Navis, A.A. 2002. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia.
Yusra, Abrar. 1994. Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Jakarta: Gramedia.
(Esai ini dimuat di Sabili No 3 Th XV 23 Agustus 2007/10 Sya’ban 1428)
Wildan Nugraha, kelahiran Bandung, 12 September 1982. Kuliah di Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, esai dan tinjauan buku dimuat di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Galamedia, Radar Bandung, Sabili, Annida, Buletin Wanadri. Tinggal di Jl Leuwi Anyar VII No 37, Bandung 40234. Telepon: 022-5226967. HP: 0817613420. Juga dapat dikontak melalui email: wildanugraha@yahoo.com, dan wildan.nugraha@gmail.com.
PERKEMBANGAN NOVEL INDONESIA
Perkembangan Novel IndonesiaKetika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Seiring dengan perkembangan puisi, prosa Indonesia pun berkembang pula. Seperti puisi, prosa pun mengenal prosa lama dan prosa baru atau prosa modern. Prosa lama bersifat anonim; dengan penjenisannya meliputi dongeng, hikayat, fabel, sage. Sedangkan prosa baru, dengan diukur dari panjang pendeknya, meliputi cerpen, novelet, dan novel/roman.
Prosa Indonesia baru pun mulai muncul tahun 1920-an, dengan ditandai munculnya novel monumental berjudul Siti Nurbaya, buah karya Marah Rusli. Lalu zaman Pujangga Baru muncul pula Sutan Takdir Alisjahbana dengan roman berjdul Layar Terkembang. Lalu, menjelang kemerdekaan muncul Armiyn Pane yang menulis novel Belenggu yang dianggap novel modern pada zamannya.
Tahun 1945 perlu dicatat nama Idrus sebagai prosaic cerpen. Buku kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain Ke Roma menjadi buku yang cukup terkenal. Selain itu juga novel singkat yang digarap dengan nada humor berjudul Aki.
Tahun 1949 muncul novel karya Achdiat Karta Miharja berjudul Atheis. Atheis termasuk novel yang cukup berhasil karena hamir semua unsurnya menonjol dan menarik unuk dibaca. Dengan mengambil latar Pasundan berhasil mengangkat sebuah tema terkikisnya sebuah kepercayaan keagamaan. Hasan, tokoh utama dalam novel ini, adalah orang yang 180 derajat berbalik dari taat beragama tiba-tiba menjadi seorang yang atheis karena pengaruh pergaulannya dengan Rusli dan Anwar yang memang berpaham komunis.
Tahun 1955 muncul cerpen yang sangat terkenal, berjudul Robohnya Surau Kami, buah karya Ali Akbar Navis (lebih dikenal dengan A.A. Navis). Cerpen ini sarat dengan kritik sosial menyangkut kesalahan orang dalam menganut agama. Navis nambapknya ingin mendobrak paham keagamaan masyarakat Indonesia yang mengira beribadah hanyalah sekedar melaksanakan shalat, puasa, atau mengaji Quran; sedangkan kegiatan lain di luar ibdah formal, sepertimencari nafkah, peduli pada sesama dan alam dibaikan. Lewat tokoh Haji Shaleh yang tiba-tiba masuk neraka karena ulahnya di dunia yang mengabaikan kepentingan keluarga.
Tahun 1968 muncul novel berjudul Merahnya Merah, garapan Iwan Simatupang, sebuah novel yang cukup absurd, terutama dalam hal gaya bercerita. Namun demikian, novel ini banyak memperoleh pujian dan sorotan para kritikus sastra, baik dalam maupun luar negeri.
Tahun 1975 nuncul novel Harimau! Harimau!, buah karya Mochtar Lubis, menceritakan tentang tujuh orang pencari damar yang berada di tengah sutan selama seminggu. Mereka adalah Pak Haji, Wak Katok, Sutan, Talib, Buyung, Sanip dan Pak Balam. Di tengah hutan itu mereka berhadapan dengan seekor harimau yang tengah mencari mangsa. Empat orang di antara tujuh orang itu (Pak Balam, Sutan, Talib, dan Pak Haji). Kecuali Pak Haji yang meinggal karena tertembak senapan Wak Katok, tiga yang lalinnya meninggal karena diterkam Harimau.
Haimau! Harimau! Sarat dengan pesan moral, yaitu bahwa setiap manusia harus mengakui dosanya agar terbebas dari bayang-bayang ketakutan. Pak Balam, orang yang pertama terluka karena diterkam harimau, mengakkui dosa-dosanya di masa muda, dan menyuruh para pendamar yang lain juga mengakui dosa-dosanya. Semua memang mengakui, hanya Wak Katok yang enggan mengakuinya.
Tahun 1982, muncul novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari, sebuah novel yang berhasil mendeskripsikan adat orang Jawa, khususnya Cilacap.
Tahun 1990, Ramadhan K.H. menulis novel berjudul Ladang Perminus, sebuah novel yang mengisahkan tentang korupsi di tubuh Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Novel ini seolah-olah menelanjangi tindakan korupsi di tubuh Pertamina, sebagai perusahaan pertambanyak minyak nasional.
Dan novel paling mutakhir adalah Saman, 1998, karya Ayu Utami. Ayu Utami termasuk novelis yang membawa pembaharuan dalam perkembangan novel Indonesia. Dalam Saman, Ayu Utami tidak sungkan-sungkan membahas masalah seks, sesuatu yang di Indonesia dianggap kurang sopan untuk diungkap. Tapi mungkin zamannya sudah berubah, kini masalah sesks sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk diungkapkan. Ironis, bahwa yang mengungkap secara detail dan sedikit jorok dalam nobvel ini adalah justru seorang wanita, Ayu Utami.
Dan untuk tahun 2000-an ini, tepatnya tahun 2003 yang baru silam, telah terbit novel termuda, dari penulis termuda pula yang menulis novel berjudul Area X, sebuah novel futurisktik tentang Indonesia tahun 2048, mengenai deribonucleic acid dan makhlluk ruang angkasa. Novel ini ditulis oleh Eliza Vitri Handayani, seorang siswi kelas 2 SMA Nusantara Magelang, sebuah SMA favorit di Indonesia.
Begitulah perkembangan genre sastra prosa di Indonesia.
Novel merupakan salah satu karya sastra yang tidak asing lagi bagi kita. Sejarahnya, novel hadir sebagai alat untuk merepresentatifkan kehidupan manusia yang tertuang dalam karya fiksi. Lalu yang jadi pertanyaan adalah bagaimana perkembangan novel dari masa ke masa, terutama novel Indonesia.
Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.
Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.
Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.
Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.
Dari masa ke masa
Pada pertengahan abad ke-19, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi telah meletakkan dasar-dasar penulisan prosa dengan teknik bercerita yang disandarkan pada pengumpulan data historis yang bertumpu pada lawatan-lawatan biografls. Akan tetapi, karya prosa yang diakui menjadi karya pertama yang memenuhi unsur-unusr struktur sebuah novel modern baru benar-benar muncul di awal abad ke-20. Novel yang dimaksud adalah novel karya Mas Marco Kartodikromo dan Merari Siregar. Sementara itu, tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Nasional dengan ditandai lahirnya novel Azab dan Sengsara. Pada masa awal abad ke-20, begitu banyak novel yang memiliki unsur wama lokal. Novel-novel tersebut, antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Kalau Tak Untung, Harimau! Harimau!, Pergolakan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara itu, novel Belenggu karya Armjn Pane, hingga saat ini lazim dikatakan sebagai tonggak munculnya novel modern di Indonesia.
Dari waktu ke waktu, novel terus mengalami perkembangan. Masing-masing novel tersebut mewakili semangat dari setiap zaman di mana novel itu muncul. Di awal tahun 2000 muncul jenis novel yang dikatakan sebagai chicklit, teenlit,dan metropop. Ketiga jenis tersebut sempat dianggap sebagai karya yang tidak layak disejajarkan dengan karya sastra pendahulu mereka oleh kelompok-kelompok tertentu. Di antara karya-karya tersebut yang tergolong ke dalam jajaran best seller, antara lain Cintapuccino karya Icha Rahmanti, Eiffel I’m In Love karya Rahma Arunita, Jomblo karya Aditya Mulya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, walau bagaimana pun juga, seperti yang telah dikemukakan di awal, setiap karya sastra mewakili zaman tertentu. Begitu juga dengan karya-karya tersebut yang kini berdampingan kemunculannya bersama Supernova karya Dee, Dadaisme karya Dewi Sartika, Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, 5 cm karya Donny Dhirgantoro, dan novel-novel terbaru lainnya yang memiliki kekuatan serta pembaca sasaran masing-masing.
Sebelum Balai Pustaka
Lalu, bagaimana perkembangan novel Indonesia Sebelum Balai Pustaka? sebelum berdirinya Balai Pustaka, tahun 1917. Sejauh kepustakaan yang dapat dirunut, terbukti belum pernah ada ahli atau -pengamat kesusastraan Indonesia yang berusaha mengungkap khazanah kesusastraan sebelum Balai Pustaka tersebut, secara menyeluruh dan khusus. Seandainya pun pernah ada yang melakukan, rata-rata terbatas pada topik-topik yang sangat spesifik. Dalam hubungan ini pantas disebut, misalnya, penelitian yang lebih dari memadai yang pernah dilakukan oleh Claudine Salmon, berjudul Literature in Malay bz the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography (1981), atau yang dilakukan oleh no Joe Lan dengan bukunya Sastera
Indonesia-Tionghoa, atau seperti juga yang dilakukan oleh John B. Kwee dengan disertasinya berjudul Chinese Maley Literature of the Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942 (1977). Ketiga peneliti tersebut jelas sekali hanya mengkhususkan pembicaraannya pada khazanah kesusastrann yang ditulis oleh pengarang Peranakan Cina.
Peneliti lain yang pernah mencoba menunjukkan khazanah kesusastraan Indonesia dari sisi yang lain hampir-hampir belum pernah ada, dan masih sangat sedikit, Dari yang sedikit ini, tampak hanya Pramoedya Ananta Toer yang cukup mempunyai perhatian, khususnya dalam mengungkap khazanah novel sebelum Balai Pustaka yang ditulis oleh pribumi atau peranakan Eropa. Dua buah buku Pramoedya yang masing-masing berjudul Tempo Doeloe (19E2) dan Sang Pemu1a (19P5), menunjukkan perhatiannya itu.
Dalam hubungan ini perlu di jelaskan sedikit bahwa sebenarnya ada beberapa ahli yang mempunyai cukup perhatian mengenai khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka yang melihat tidak hanya sesisi saja. Hanya sayang sekali, para ahli tersebut agaknya belum melakukan penelitian yang mendalam, sehingga mereka pada umumnya hanya dapat menuliskannya dalam bentuk artikel kecil di sebuah majalah. Di antara para ahli yang sedemikian itu, dapat disebutkan disini misalnya C.W. Watson dalam “Some Preliminary
Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian Literature” (dalam Bra, 1971), W.Q. Sykorsky dalam “Some Additional Remarks on the Antecedents of Modern Indonesian literature” 1980), dan beberapa tulisan Jakob Sumardjo yang tersebar di berbagai penerbitan.
Penelitian ini setidaknya ingin melengkapi atau ingin mengungkap khazanah kesusastraan Indonesia sebelum Balai Pustaka itu, secara menyeluruh dan 1engkap, yang tentu saja bertolak dari data-data yang berhasil diperoleh dan di temukan selama dilangsungkannya penelitian yang enam bulan ini.
Novel Modern
Ada perkembangan menarik dalam penulisan novel di negeri ini. Bukan saja masalah berapa ratus judul per bulan jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lampau, melainkan juga apa yang novel-novel tersebut kisahkan. Ada berbagai tema mulai perempuan, seks, sains, sejarah, agama, spiritual, sosial, etnis, hingga politik. Perkembangan pilihan tema itu tentu tidak lepas dari hal-hal di luar masalah penulisan novel itu sendiri. Perkembangan itu tak lain dari risiko perkembangan pemikiran manusia saat ini yang semakin hari semakin spesifik.
Keinginan untuk memasukkan berbagai hal dalam novel ini dengan melihat perkembangan masalah dalam masyarakat mulai menarik perhatian dan penting untuk diperhatikan. Kecenderungan kontemporer ini antara lain direspons dalam novel d.I.a., Cinta dan Presiden karya Noorca M Massardi. Seorang budayawan, penulis, dan jurnalis kawakan.
Oase Budaya : Geliat Dari Forum Kingkar Pena
-- Dwi Fitria
Bertopangkan nilai-nilai keagamaan, karya sastra tidak muncul sekadar seni dan hiburan.
DI tengah-tengah booming film-film horor yang marak membanjiri bioskop-bioskop di Tanah Air, muncul sebuah film fenomenal, Ayat-ayat Cinta (AAC) yang dibesut oleh sutradara Hanung Bramantyo. Film ini mengusung sesuatu yang berbeda dari tema horor yang banyak mewarnai film-film seangkatannya. AAC mengangkat tema islami. Kesuksesan film ini masih suatu anomali bagi banyak orang. Di luar semua itu, film itu sukses menyedot jutaan penonton.
Film itu sendiri diangkat dari novel laris karya Habiburahman El Shirazy, yang menjadi semakin laris setelah difilmkan. Per-Juni 2007 lalu, novel ini telah dicetak ulang hingga 24 kali. Kabar terakhir, novel Ayat-ayat Cinta telah terjual sebanyak 700 ribu kopi.
Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta Fahri, seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, dengan pilihan pelik yang ia hadapi ketika keadaan membuatnya harus berpoligami.
Habiburahman El Shirazy sendiri tergabung dalam Forum Lingkar Pena, sebuah forum yang mewadahi penulis-penulis yang sebagian besar punya latar belakang Islam. Habiburahman bukanlah satu-satunya eksponen yang punya nama besar dalam komunitas ini. Helvy Tiana Rosa, motor penggerak Lingkar Pena, dan Asma Nadia yang kini menjadi ketua FLP, adalah dua nama lain yang juga telah meninggalkan jejak tersendiri dalam khasanah Sastra Indonesia.
Pada 2005 lalu, cerpen Helvy, Jaring-Jaring Merah dinobatkan sebagai cerpen terbaik dalam sepuluh tahun terakhir oleh majalah sastra Horison. Helvy baru saja menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul Bukavu. Sementara Asma Nadia, kerap menulis buku-buku fiksi seperti Istana Kedua, maupun nonfiksi semisal serial La Tahzan yang laris di kalangan pembaca terutama para pembaca remaja. Forum Lingkar Pena yang berlatar belakang Islam, mau tidak mau kerap membuat keduanya diasosiasikan dengan karya-karya sastra Islam.
Mengolah nilai Islam
Keduanya tidak menolak bahwa karya-karya mereka kental mengusung nilai-nilai islami. Tapi ini tidak berarti bahwa karya yang lahir dari kedua penulis bersaudara itu berisi dakwah per-se dan berusaha dengan vulgar menggurui pembacanya.
“Dakwah pada dasarnya adalah mengajak kepada kebaikan. Tetapi tidak berarti bahwa menulis karya dengan mengangkat nilai-nilai islami akan terjebak menceramahi atau menggurui,” ujar Asma. “Jika biasanya kawan-kawan sastrawan lain berangkat membuat karya sebagai satu bentuk ungkapan kegelisahan, begitu juga dengan kami. Kami juga berangkat dari kegelisahan yang sama.
Asma memiliki kepedulian terhadap masalah perempuan, hak asasi manusia, dan poligami. Kegelisahannya memandang realitas berhubungan dengan hal-hal ini mewarnai karya-karyanya. Yang membuat berbeda adalah, ia menggunakan kacamata Islam untuk memandang masalah ini dalam karya-karyanya.
“Islam adalah sebuah sistem yang integral. Jadi saat berbicara mengenai karya, sama seperti hal lain yang saya lakukan dalam hidup saya, karya haruslah mengandung nilai ibadah,” ujar Helvy. “Dakwah menurut Islam adalah sesuatu yang baik. Tapi sebagai penulis kita harus bisa membungkusnya dengan estetika sehingga tak serta-merta semata menjadi ceramah. Kuncinya ada pada bagaimana menyampaikan pesan tanpa berdakwah secara verbal. Dakwah itu harus dibungkus dengan estetika, teknik serta komposisi yang menarik,” ujar Helvy.
Baik Helvy maupun Asma sama-sama melihat nilai-nilai Islam sebagai nilai-nilai universal yang humanis. Ini bisa dilihat dari banyak pengarang di luar Islam yang baik secara sadar atau tak sadar mengangkat nilai-nilai Islam dalam karya-karya mereka.
“Sebetulnya harus dibedakan antara sastra Islam dan sastra islami, saya pernah menulis sebuah makalah tentang masalah ini, sastra Islam adalah sastra yang penulisnya memang beragama Islam, dan punya komitmen untuk menyebarkan nilai-nilai, versi ustad-ustadlah,” ujar Helvy.
Sementara sastra islami adalah sastra yang ditulis orang-orang non-Muslim, tapi amat terlihat bahwa nilai-nilai yang disampaikan oleh si pengarang bernuansa Islam. Helvy mengambil contoh Kahlil Gibran. “Ia bukan orang Islam, tapi karya-karyanya sangatlah islami,” ujar Helvy.
Hal ini bisa terjadi karena Islam mengandung muatan yang melintas batas-batas agama. “Berbicara Islam, sama juga artinya berbicara tentang peristiwa sosial, kemiskinan, juga hak asasi manusia,” kata Asma.
Tanggung jawab penulis
Baik Asma maupun Helvy, tidak terlalu ambil pusing soal label sastra Islam yang kerap dilekatkan kepada mereka. “Saya tidak pernah mempermasalahkan apakah karya saya dianggap karya islami atau Sufi, semua tergantung pada pandangan pembacanya,” kata Helvy.
Namun berbeda dengan banyak sastrawan lain yang menganggap bahwa ketika sebuah karya diterbitkan maka pengarangnya tak lagi berhak melakukan apa pun, Helvy mengambil sikap yang berseberangan.
“Pertanggungjawaban penulis tak berhenti sampai di situ. Amat penting bagi penulis untuk memahami bagaimana bukunya akan memberi makna kepada pembacanya. Misi saya adalah menulis buku yang bisa membawa pencerahan dan membuat pembacanya bergerak ke arah yang lebih baik, sehingga mereka menjadi makin baik setelah membacanya. Ada saja karya sastra yang entah mengapa berakibat buruk pada pembacanya, ada keinginan membunuh orang misalnya,” ujar Helvy.
Helvy mengambil contoh pembunuhan terhadap John Lennon. Mark David Chapman membunuh Lennon dengan menembaknya lima kali dari belakang pada 8 Desember 1980. Ketika ditangkap Chapman membawa-bawa buku The Catcher in The Rye karya J.D Salinger. Pembunuh Lennon ini menyatakan bahwa buku itu bisa menjelaskan perspektif dan motifnya melakukan pembunuhan.
“Seorang pengarang tidak bisa lepas tangan setelah buku dilempar ke pasar. Ia masih memiliki tanggung jawab sosial terhadap pembacanya,” kata Helvy.
Baik Asma maupun Helvy sama-sama mengatakan bahwa secara keseluruhan karya-karya mereka mendapatkan sambutan yang amat positif. Dan predikat sastra Islam yang kerap ditempelkan kepada karya-karya mereka tidak menyurutkan antusiasme pembaca.
“Respons yang diberikan kepada karya saya datang dari berbagai kalangan usia, juga berbagai kalangan masyarakat. Ada ibu-ibu berusia 55 tahun dan 65 tahun yang memberikan tanggapan kepada buku saya. Selain itu saya juga mendapatkan respons dari pembaca beragama lain,” ujar Asma Nadia.
Helvy memulai karier kepenulisannya di majalah Annida, dan ia tidak menampik bahwa sebagian besar pembacanya berasal dari kalangan Muslim, sebab memang pembaca beragama Islamlah yang menjadi sasaran konsumen majalah tersebut.
“Tapi ini tak berarti pembaca karya saya terbatas di kalangan Muslim saja. Ada karya-karya saya yang sudah diterjemahkan ke bahasa-bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Swedia. Mungkin ini berarti karya saya juga bisa diterima oleh kalangan di luar Islam,” kata Helvy.
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 31 Agustus 2008
Bertopangkan nilai-nilai keagamaan, karya sastra tidak muncul sekadar seni dan hiburan.
DI tengah-tengah booming film-film horor yang marak membanjiri bioskop-bioskop di Tanah Air, muncul sebuah film fenomenal, Ayat-ayat Cinta (AAC) yang dibesut oleh sutradara Hanung Bramantyo. Film ini mengusung sesuatu yang berbeda dari tema horor yang banyak mewarnai film-film seangkatannya. AAC mengangkat tema islami. Kesuksesan film ini masih suatu anomali bagi banyak orang. Di luar semua itu, film itu sukses menyedot jutaan penonton.
Film itu sendiri diangkat dari novel laris karya Habiburahman El Shirazy, yang menjadi semakin laris setelah difilmkan. Per-Juni 2007 lalu, novel ini telah dicetak ulang hingga 24 kali. Kabar terakhir, novel Ayat-ayat Cinta telah terjual sebanyak 700 ribu kopi.
Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta Fahri, seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, dengan pilihan pelik yang ia hadapi ketika keadaan membuatnya harus berpoligami.
Habiburahman El Shirazy sendiri tergabung dalam Forum Lingkar Pena, sebuah forum yang mewadahi penulis-penulis yang sebagian besar punya latar belakang Islam. Habiburahman bukanlah satu-satunya eksponen yang punya nama besar dalam komunitas ini. Helvy Tiana Rosa, motor penggerak Lingkar Pena, dan Asma Nadia yang kini menjadi ketua FLP, adalah dua nama lain yang juga telah meninggalkan jejak tersendiri dalam khasanah Sastra Indonesia.
Pada 2005 lalu, cerpen Helvy, Jaring-Jaring Merah dinobatkan sebagai cerpen terbaik dalam sepuluh tahun terakhir oleh majalah sastra Horison. Helvy baru saja menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul Bukavu. Sementara Asma Nadia, kerap menulis buku-buku fiksi seperti Istana Kedua, maupun nonfiksi semisal serial La Tahzan yang laris di kalangan pembaca terutama para pembaca remaja. Forum Lingkar Pena yang berlatar belakang Islam, mau tidak mau kerap membuat keduanya diasosiasikan dengan karya-karya sastra Islam.
Mengolah nilai Islam
Keduanya tidak menolak bahwa karya-karya mereka kental mengusung nilai-nilai islami. Tapi ini tidak berarti bahwa karya yang lahir dari kedua penulis bersaudara itu berisi dakwah per-se dan berusaha dengan vulgar menggurui pembacanya.
“Dakwah pada dasarnya adalah mengajak kepada kebaikan. Tetapi tidak berarti bahwa menulis karya dengan mengangkat nilai-nilai islami akan terjebak menceramahi atau menggurui,” ujar Asma. “Jika biasanya kawan-kawan sastrawan lain berangkat membuat karya sebagai satu bentuk ungkapan kegelisahan, begitu juga dengan kami. Kami juga berangkat dari kegelisahan yang sama.
Asma memiliki kepedulian terhadap masalah perempuan, hak asasi manusia, dan poligami. Kegelisahannya memandang realitas berhubungan dengan hal-hal ini mewarnai karya-karyanya. Yang membuat berbeda adalah, ia menggunakan kacamata Islam untuk memandang masalah ini dalam karya-karyanya.
“Islam adalah sebuah sistem yang integral. Jadi saat berbicara mengenai karya, sama seperti hal lain yang saya lakukan dalam hidup saya, karya haruslah mengandung nilai ibadah,” ujar Helvy. “Dakwah menurut Islam adalah sesuatu yang baik. Tapi sebagai penulis kita harus bisa membungkusnya dengan estetika sehingga tak serta-merta semata menjadi ceramah. Kuncinya ada pada bagaimana menyampaikan pesan tanpa berdakwah secara verbal. Dakwah itu harus dibungkus dengan estetika, teknik serta komposisi yang menarik,” ujar Helvy.
Baik Helvy maupun Asma sama-sama melihat nilai-nilai Islam sebagai nilai-nilai universal yang humanis. Ini bisa dilihat dari banyak pengarang di luar Islam yang baik secara sadar atau tak sadar mengangkat nilai-nilai Islam dalam karya-karya mereka.
“Sebetulnya harus dibedakan antara sastra Islam dan sastra islami, saya pernah menulis sebuah makalah tentang masalah ini, sastra Islam adalah sastra yang penulisnya memang beragama Islam, dan punya komitmen untuk menyebarkan nilai-nilai, versi ustad-ustadlah,” ujar Helvy.
Sementara sastra islami adalah sastra yang ditulis orang-orang non-Muslim, tapi amat terlihat bahwa nilai-nilai yang disampaikan oleh si pengarang bernuansa Islam. Helvy mengambil contoh Kahlil Gibran. “Ia bukan orang Islam, tapi karya-karyanya sangatlah islami,” ujar Helvy.
Hal ini bisa terjadi karena Islam mengandung muatan yang melintas batas-batas agama. “Berbicara Islam, sama juga artinya berbicara tentang peristiwa sosial, kemiskinan, juga hak asasi manusia,” kata Asma.
Tanggung jawab penulis
Baik Asma maupun Helvy, tidak terlalu ambil pusing soal label sastra Islam yang kerap dilekatkan kepada mereka. “Saya tidak pernah mempermasalahkan apakah karya saya dianggap karya islami atau Sufi, semua tergantung pada pandangan pembacanya,” kata Helvy.
Namun berbeda dengan banyak sastrawan lain yang menganggap bahwa ketika sebuah karya diterbitkan maka pengarangnya tak lagi berhak melakukan apa pun, Helvy mengambil sikap yang berseberangan.
“Pertanggungjawaban penulis tak berhenti sampai di situ. Amat penting bagi penulis untuk memahami bagaimana bukunya akan memberi makna kepada pembacanya. Misi saya adalah menulis buku yang bisa membawa pencerahan dan membuat pembacanya bergerak ke arah yang lebih baik, sehingga mereka menjadi makin baik setelah membacanya. Ada saja karya sastra yang entah mengapa berakibat buruk pada pembacanya, ada keinginan membunuh orang misalnya,” ujar Helvy.
Helvy mengambil contoh pembunuhan terhadap John Lennon. Mark David Chapman membunuh Lennon dengan menembaknya lima kali dari belakang pada 8 Desember 1980. Ketika ditangkap Chapman membawa-bawa buku The Catcher in The Rye karya J.D Salinger. Pembunuh Lennon ini menyatakan bahwa buku itu bisa menjelaskan perspektif dan motifnya melakukan pembunuhan.
“Seorang pengarang tidak bisa lepas tangan setelah buku dilempar ke pasar. Ia masih memiliki tanggung jawab sosial terhadap pembacanya,” kata Helvy.
Baik Asma maupun Helvy sama-sama mengatakan bahwa secara keseluruhan karya-karya mereka mendapatkan sambutan yang amat positif. Dan predikat sastra Islam yang kerap ditempelkan kepada karya-karya mereka tidak menyurutkan antusiasme pembaca.
“Respons yang diberikan kepada karya saya datang dari berbagai kalangan usia, juga berbagai kalangan masyarakat. Ada ibu-ibu berusia 55 tahun dan 65 tahun yang memberikan tanggapan kepada buku saya. Selain itu saya juga mendapatkan respons dari pembaca beragama lain,” ujar Asma Nadia.
Helvy memulai karier kepenulisannya di majalah Annida, dan ia tidak menampik bahwa sebagian besar pembacanya berasal dari kalangan Muslim, sebab memang pembaca beragama Islamlah yang menjadi sasaran konsumen majalah tersebut.
“Tapi ini tak berarti pembaca karya saya terbatas di kalangan Muslim saja. Ada karya-karya saya yang sudah diterjemahkan ke bahasa-bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Swedia. Mungkin ini berarti karya saya juga bisa diterima oleh kalangan di luar Islam,” kata Helvy.
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 31 Agustus 2008
Sehari di Palangkaraya
Mahmud Jauhari Ali
Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar
=====“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.
=====“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.
=====“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.
=====“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.
Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.
=====“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.
=====“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.
=====Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.
=====Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.
***
=====“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.
Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.
=====“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.
=====Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.
=====“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.
=====Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.
=====Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.
***
=====Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.
=====Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.
Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.
=====“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.
Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar
=====“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.
=====“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.
=====“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.
=====“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.
Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.
=====“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.
=====“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. Aku pun balik bertanya kepadanya tentang kabarnya dengan bahasa yang serupa, tetapi memakai dialek Dayak Ma’anyanku yang khas pula.
=====Saat itu kulihat wajahnya yang dibalut kulit kuning langsat sepertiku memancarkan kebahagian atas kedatanganku. Telah dua tahun kutinggalkan kota cantik Palangkaraya. Selama itu pulalah kami tak bertemu muka secara langsung. Kami biasanya berkomunikasi melalui ponsel dan juga facebook di internet. Sungguh pertemuan kali ini membuat kami sangat bahagia.
=====Kulihat bangunan-bangunan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari bangunan tempat ibadah, pusat perbelanjaan, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Kulihat kembali lapangan Mantingai yang tetap indah di mataku. Dulu kami sering bermain basket di lapangan yang luas itu. Di lapangan itu pula aku ajak dia menyaksikan Mutsabaqah Tilawatil Quran yang pernah diselenggarakan di Palangkaraya beberapa tahun silam. Dia beragama Kristen Protestan dan aku seorang mualaf yang dilahirkan dalam keluarga Katolik yang taat. Walaupun kami berbeda keyakinan dan prinsip hidup, kami tetaplah akrab satu sama lain. Persahabatan kami ibarat makna filosofis dari rumah khas suku Dayak yang kami junjung, yakni rumah betang. Rumah khas kami itu memiliki makna berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.
***
=====“Kuman helu!”, ajak isterinya saat kami sedang asyik berbincang di serambi depan rumahnya.
Ajakan makan istrinya itu pun kami balas dengan tindakan nyata menuju ruang makan dan menyantap habis makanan di piring kami masing-masing. Daging ayam bakarnya sungguh lezat dengan nasi hangat yang pas di lidah kami. Makanan ini mengingatkanku kembali pada kenangan-kenanganku pada masa lalu di kota ini.
=====“Ka kueh hindai?” temanku tiba-tiba membangunkan diriku dari kenangan masa lalu dengan pertanyaannya kepadaku.
=====Kujawablah dengan satu jawaban singkat, yakni aku hendak ke tanah kubur calon istriku dulu. Aku memang berniat untuk berziarah di sana sejak dari rumahku kemarin di Tamiang Layang, Barito Timur. Ingin kukenang suaranya yang lembut saat berbicara denganku dan tanteku saat kami bertemu. Meskipun orang tua kami telah merestui hubungan kami, jarang sekali kami bertemu muka dan tak pernah pula kami berdua-duaan. Seandainya dia masih hidup, mungkin kini ia menemaniku sebagai istriku. Tapi sekali lagi tidak, kini ia telah tiada dan aku ingin menghirup aroma tanah kuburnya di kota ini.
=====“Jasadmu yang dulu berdiri tegak di hadapanku kini terbujur kaku di bawah sana. Dik, aku masih teringat dengan ucapanmu dulu tentang senyuman. Aku memang orang yang keras hati dan tak mudah tersenyum. Hari-hariku kuisi dengan keseriusan hingga wajahku tak menunjukkan keramahan di mata orang lain. Tapi kini, aku tak seperti dulu lagi. Hidupku telah kuisi dengan rasa persaudaraan dan keramahan.”, ucapku lirih di hadapan makamnya setelah aku berdoa di sana.
=====Aku tak pernah berbicara dengan bahasa daerahku atau bahasa orang Ngaju kepadanya. Ia adalah pendatang dari pulau Sumatera. Kami selalu berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang singkat dan teramat singkat.
=====Hari pun berubah mendung dan tak lama kemudian menjadi bulir-bulir yang membasahi tubuhku dan tubuh temanku. Kutinggalkan tanah kubur yang tadi kupandangi dengan hati yang di dalamnya bercampur aduk berbagai perasaan.
***
=====Malamnya aku bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lama tak kutemui. Kami terlibat percakapan yang seru dan mengasyikkan di bawah tenda warung dekat jembatan Kahayan yang megah. Sungguh malam ini merupakan malam bahagia bagiku. Ingin rasanya setiap malam kulalui dengan mereka di sini. Namun, besok aku harus segera kembali ke tanah kelahiranku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana. Aku berharap ‘kan kutemui kembali malam seperti ini di malam-malam berikutnya.
=====Keesokan harinya aku dibonceng temanku dengan sepeda motornya. Walaupun sudah banyak perubahan di sana-sini, tetapi udara pagi pun masih terasa sama saat aku berangkat ke kantor dulu di kota ini. Suasananya juga masih sama. Oh, rasanya aku kembali ke masa lalu. Sedih rasanya hari ini harus kutinggalkan kota yang pernah lama kutinggali ini. Sehari semalam tak cukup sebenarnya mengobati kerinduanku pada semua yang pernah kukenal di sini.
Akhirnya, kupandangi wajah temanku dari balik kaca bus yang bergerak maju meninggalkannya dan kota yang cantik ini.
=====“Yakinlah teman, walau kita tak lagi bersama seperti dulu, aku akan selalu berusaha mengingatmu dan mengingat sejuta kenanganku di tanah kelahiranmu ini.”, ucapku dalam hati terdalamku.
FOLLOWUP DAD I IMM Klaten di Gua Cerme
Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Klaten mengadakan follow up Darul Arqom Dasar I di Srunggo, Bantul, Djogdjakarta, 19-20 Juli 2009. Acara tersebut di hadiri oleh peserta perwakilan tiap Universitas yang ada di Klaten, yang bermaksud untuk mengembangkan taraf Regiliusitas, Intelektualitas, Humanisitas sebagai seorang mahasiswa dan sebagai orang yang berpendidikan memang semestinya harus bersikap kritis dan cepat tanggap dengan adanya informasi-informasi atau kejadian-kejadian yang memang kejadian itu harus kita laksanakan secara bersama-sama.
Kami berangkat dari Klaten (sierad) sabtu jam 13.30 WIB dan samapai di sana kira-kira jam 15.30an. Selesai meenaruh barang-barang yang kami bawa tadi, kami taruh di bawah tanah yang dilapisi oleh karpet mungil yang cukup panjang dan mungkin jika temen-temen masuk bisa muat, dan tidak kurang.
Beberapa waktu kemudian acara pembukaan dimulai dan acara ta'arufpun di mulai di luar rumah, tapi sebelum kami melakukan semua aktivitas yang ada dua di atas, bahwa kami membuat tatib yang harus kami laksanakan dan semua pantangan-pantangan yang harus kami hindari dan kami laksanakan pula.
Selesai membuat tatib pelaksanaan kegiatan yang akan kami laksanakan 2 hari ini, yaiyu ta'aruf, yang mana ta'aruf ini mempererat tali persaudaraan antar teman-dan menambah rasa persahabatan antar kawan-kawan dalam kegiatan ini.
Malamnya kita bersama-sama sholat maghrib di sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat persemaian kami, kurang lebih 200 meter. Setelah sholat maghrib kami mentadaburi Al-Qur'an secara bersama-sama, dan mas Huda mengajari adek-adek masjid mengaji, dan tak lupa pak Aris pun juga ikut mas Huda mengajari adek-adek masjid sampai tiba sholat isya'.
Makan malam kami juga sekalian di masjid situ, dan di lanjutkan materi tentang Kemuhammadiyahan, yang dibawakan oleh/pemateri beliau Bpk. Aris, bapak ini termasuk Bpk. yang masih mempunyai jiwa muda tinggi. Malemnya selesai materi tentang Kemuhammadiyahan kami naik ke atas untuk kembali ke markas dan mempersiapkan untuk acara berikutnya.
Malam ini kira-kira pukul 23.00 WIB kami bersama-sama membawa gelas kosong untuk kami bawa ke atas, karena acara berikutnya diskusi yang bertempat di Post I dan kita harus naik beberapa anak tangga, kita semua berkumpul di post tersebut. Semua peserta yang berjumlah kurang lebih 30an di bagi menajdi tiga kelompok yang nantinya akan di beri tugas masing-masing untuk membahas sebuah tema/opini yang memang harus kami kita selesaikan bersama.
Kelompok pertama membahas tentang Pemilu "Sudah Cocokkah Masyarakart dengan Sistem Demokrasi yang diterapkan kepada masyarakat kita?" dan menghasilkan kesimpulan bahwa sistem pemerintahan sekarang terhadap masyarakat masih kurang di mengerti oleh masyarakat pada umumnya. Kelompok kedua membahas tentang evolasui manusia menurut Darwin, dan kami menyimulkan kami sebgai umat islam tetap menolak bahwa trori iutu sangat salah. Kelompok ketiga membahas tetang terorisme, korupsi, dan Nepotisme yang terjadi di masyarakat Indonesia khususnya jajaran DPR. Selesai dari diskusi bersama-sama, waktunya untuk istirahat malam dan tidur.
adzan subuh berkumandang, saya dan teman-teman yang lain bergegas untuk pergi ke masjid dan ada yang mandi. Pagi-pagi menunggu sarapan pagi untuk persiapan masuk ke gua cerme. Ketika kami sebelum masuk ke dalam Gua itu, kami juga menyempatkan waktu untuk foto-foto bersama teman-temanku di sini.
Pertama kali masuk gua itu perassan kami senang sekali, kami bersorak-sorak gembira dan tertawa senang ria. Kami mulai langkahkan kaki kami perlahan-lahan untuk mencari dasar tanah yang bagus dan terkurang dari batu dan krikil.
Kami berangkat dari Klaten (sierad) sabtu jam 13.30 WIB dan samapai di sana kira-kira jam 15.30an. Selesai meenaruh barang-barang yang kami bawa tadi, kami taruh di bawah tanah yang dilapisi oleh karpet mungil yang cukup panjang dan mungkin jika temen-temen masuk bisa muat, dan tidak kurang.
Beberapa waktu kemudian acara pembukaan dimulai dan acara ta'arufpun di mulai di luar rumah, tapi sebelum kami melakukan semua aktivitas yang ada dua di atas, bahwa kami membuat tatib yang harus kami laksanakan dan semua pantangan-pantangan yang harus kami hindari dan kami laksanakan pula.
Selesai membuat tatib pelaksanaan kegiatan yang akan kami laksanakan 2 hari ini, yaiyu ta'aruf, yang mana ta'aruf ini mempererat tali persaudaraan antar teman-dan menambah rasa persahabatan antar kawan-kawan dalam kegiatan ini.
Malamnya kita bersama-sama sholat maghrib di sebuah masjid yang tidak jauh dari tempat persemaian kami, kurang lebih 200 meter. Setelah sholat maghrib kami mentadaburi Al-Qur'an secara bersama-sama, dan mas Huda mengajari adek-adek masjid mengaji, dan tak lupa pak Aris pun juga ikut mas Huda mengajari adek-adek masjid sampai tiba sholat isya'.
Makan malam kami juga sekalian di masjid situ, dan di lanjutkan materi tentang Kemuhammadiyahan, yang dibawakan oleh/pemateri beliau Bpk. Aris, bapak ini termasuk Bpk. yang masih mempunyai jiwa muda tinggi. Malemnya selesai materi tentang Kemuhammadiyahan kami naik ke atas untuk kembali ke markas dan mempersiapkan untuk acara berikutnya.
Malam ini kira-kira pukul 23.00 WIB kami bersama-sama membawa gelas kosong untuk kami bawa ke atas, karena acara berikutnya diskusi yang bertempat di Post I dan kita harus naik beberapa anak tangga, kita semua berkumpul di post tersebut. Semua peserta yang berjumlah kurang lebih 30an di bagi menajdi tiga kelompok yang nantinya akan di beri tugas masing-masing untuk membahas sebuah tema/opini yang memang harus kami kita selesaikan bersama.
Kelompok pertama membahas tentang Pemilu "Sudah Cocokkah Masyarakart dengan Sistem Demokrasi yang diterapkan kepada masyarakat kita?" dan menghasilkan kesimpulan bahwa sistem pemerintahan sekarang terhadap masyarakat masih kurang di mengerti oleh masyarakat pada umumnya. Kelompok kedua membahas tentang evolasui manusia menurut Darwin, dan kami menyimulkan kami sebgai umat islam tetap menolak bahwa trori iutu sangat salah. Kelompok ketiga membahas tetang terorisme, korupsi, dan Nepotisme yang terjadi di masyarakat Indonesia khususnya jajaran DPR. Selesai dari diskusi bersama-sama, waktunya untuk istirahat malam dan tidur.
adzan subuh berkumandang, saya dan teman-teman yang lain bergegas untuk pergi ke masjid dan ada yang mandi. Pagi-pagi menunggu sarapan pagi untuk persiapan masuk ke gua cerme. Ketika kami sebelum masuk ke dalam Gua itu, kami juga menyempatkan waktu untuk foto-foto bersama teman-temanku di sini.
Pertama kali masuk gua itu perassan kami senang sekali, kami bersorak-sorak gembira dan tertawa senang ria. Kami mulai langkahkan kaki kami perlahan-lahan untuk mencari dasar tanah yang bagus dan terkurang dari batu dan krikil.
Perempatan Mantingan

Hari ini Kamis 9 Juli 2009, pagi-pagi saya bangun tidur... eh jam 6 waduh kesiangan gue...saya langsung lari ke kamar mandi, 10 menit kemudian saya ganti pakaian dan mengambil air wudhu, coz tadi belum sholat shubuh... saya raih jaket kulit yang ada di belakang pintu, saya pakai jaket itu dan menggendong tas yang ada laptopnya, ku pakai septu boot saya, dan go go go go...!!!!!
Eits mampir dulu diwarung soto, sarapan pagi, biar g laper. "Soto biasa mbak, sama jeruk angetnya..." "Yups udah buk beraPA??"cepat-cepat saya jalan menuju di pemberhentian bus, 5 menit kemudian bus yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga, langsung saya naik bus dan saya duduk di paling ujung depan deket sopir. 2 jam baru nyampe solo waduh lama banget ya bus ini, ya udahlah, saya langsung menuju ke Sumber Kencono Bus, bus itu lengganan saya kalo mau pergi jauh...
Pukul 09.00 WIB bbus yang saya naiki keluar dari Terminal Tertonadi, bus ini berjalan sangat cepat, jadi saya hanya 1 jam lebih dikit bisa nyampe di Jatim. Sesamapip di perempatan Mantingan saya SMS istri saya, saya minta jemput...agak lama sich dia jemput aku, tapi akhirnya setelah nuggu kurang lebih 15 menit dia datang, dan saya langsung menghampirinya, saya langsung naik sepeda motornya.
Di perjalanan kerumahnya kita sempet ngobrol-ngobrol kesana-kemari dan becanda dengan tertawa riang kecil. Sesampai di rumahnya saya langsung bersalaman dengan ibunya, bapaknya g ada coz kerja di Kalimantan, sedikit saya dan ibunya ngobrol.. "saya heru, ni sapa??" sambil memegang pipi anak kecil yang di gendongnya" "Egha mas", "Umurnya berapa?", "6 Bulan", "wah masih kecil ya, udah bisa apa ni bu Egha??", "dia masih tengkurep, baru bisa itu", "ehm...cantik ya Egha, kayak kakaknya", ya udah di enakkan dulu ya dek, saya ke belakang dulu", kata ibunya Rhyni.
Karna cintaQ lagi keluar beli Gorengan, saya sendirian di ruang tamu, tapi saya g inggal diem, karna saya lagi kebelet pipis, akhirnya saya memutuskan untuk kebelakang. "Lega sudah, habis dari belakang saya langsung ke teras rumah, dan saya menikmati pijatan-pijatan batu yang saya injak, enak sekali rasanya, serasa aliran darahku menjadi cepat".
Ada cowok yang naik sepeda motor Mio yang markir di depan rumah Rhyni, terus saya mendekati dan dia menyapa saya duluan, "Rhyni ada g mas?", saya jawab; "Dia lagi keluar mas??baru saja tadi, temennya ya mas??"ya, ehm lama g ya mas", "entar ya saya tanya ma ibu dulu", "mas masuk dulu yuk, bentar lagi Rhyni pulang kok, tunggu dulu ya.."tak lama kemudian rini datang dengan memegang sebingkis gorengan di plastiknya..
Hidangan telah disediakan dan kami pun disuruh menyantapnya dan meminumnya, langsung saja Rhyni ngobrol ma temennya tadi, saya tak sengaja mendengarkan perbincangan mereka berdua, ternyata lagi bahas Panitia Tour ke Paris. Cowok itu mengajak Rhyni untuk rapat, tapi Rhyni menolaknya, ya iyalah hari ini kan lagi ada tamu spesial, dari jauh pula, yaitu saya Heru. Selesai sudah perbincangan mereka dan akhirnya cowok itu pulang, mungkin dia agak kecewa dengan semua keputusan Rhyni.
Langsung saja saya ma CintQ duduk di sofa dan menikmati Tahu Susur yang sudah di sediakan tadi, kita mulai ngobrol dan becanda.."Loh kok udah pake cincin, siapa yang beliin?tanyaku sambil memegang tangan yang indah itu. "Saya beli waktu di Cilacap kemarin", "kok tulisannya Rhyan?" Tanyaku, "Tu nama samaranku sayang, abiz saya senang dengan nama itu..." jawabnya. "ya udah kalo begitu, tapi mas bawa cincin buat u lo, nich, dipakai ya..sambil memegang tangannya", lalu cincin yang saya berikan ke Dia langsung dia pakai di jarinya..setelah lama kita ngobrol dan becanda saya ajak dia untuk sholat dhuhur coz udah adzan, selesai sholat saya langsung ngecek komputer CintaQ, katanya sich mati.
Saya mulai lepas semua kabel yang berhbungan dengan komputer dan saya ambil CPU itu, saya turunin dari meja dan saya buka CPU itu, saya cek RAMnya dan saya lepas lalu saya pasang di bilik pertama dan saya bersihkan. Semua sudah saya cek, lalu saya sambungkan kabel yang tadi saya lepas, lalu saya nyalakan komputer itu dan abra kadabra komputer nyala dan CintaQ tersenyum sipu senang, dan ibunyapun nanya, yang rusak apanya dek? saya jawab saja kalo komputernya tidak rusak, hanya kotor saja dalamnya dan hanya saya pindah RAMnya dari bilik kedua ke bilik pertama. Ibunya pun tersenyum sipu.
Setelah nyala komputer itu saya buka dan saya instal model windows yang lebih menarik, dan saya kasih antivirus yang memang saya punya yaitu Avira, saya scan komputer itu dan saya Defragh agar komputernya normal kembali. CintaQpun tersenyum lagi, selesai sudah saya menginstal beberapa fasilitas yang saya punya, sayapun buka laptop saya dan saya aktifkan bloetothku, HP CintaQ sebelumnya mati, tapi tadi kami coba-coba dan akhirnya mau nyala, dan saya ambil foto2 hasil kemarin di Paris berdua dan adeknya, banyak foto yang saya ambil dan saya copy di Laptop saya, dia membawakan saya minum yang berwarna kuning, ternyata Extrajos yang diberikan ke saya, saya minum tapi g sampe abiez.
jam 14.30 saya langsung mempersiapkan apa-apa yang saya bawa tadi dan saya langsung pamitan pulang sama ibu, saya di antar oleh CintaQ menuju ke Jalan Raya untuk memperhentikan bus Sumber Kencono. Tapi agak lama saya menunggu bus, tapi saya g tinggal diam, di pingir jalan di bawah pahon saya ngobrol-ngobrol kesana-kemari ama kekasihku ini, kami ngobrol tentang motor, saya bilang "itu lo cin motor yang rencana mas beli kalo g' Yamaha Vixion, Satria F", "Mending Satria F mas, lebih simple dan harganya agak murah dibandingkan dengan Vixion", ya boleh, buat kekasihku, karena u suka, mas besuk beli yang Satria F ajach","Kalo mas suka Vixion Gpp mas..", "Mz pilih Satria F aja, kan u juga suka, mas juga suka kok..." yau dah besuk beli yang Satria F ajach....Eh mas BUsnya udah datang tuh, ya udah saya pulang dulu ya cin, da da da ....
Sampai disini aja yach cerita saya perjalanan di rumah mertua dan bertemu dengan calon istri...see nekt letter..:-)
Ketika Iblis membentangkan sajadah
Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.
"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".
Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.
Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.
"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".
Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.
Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.
Game Seratus Ribu
“Bip bip bip bip ! ! ! Selamat ! ! !” gemuruh suara anak-anak.
“Yes ! Aku berhasil menaklukannya. Aku harus mencoba semua games!” teriakan nongki mengagetkan seiesi “Sani’s Play station “. Bahkan Dedi sampai menutup telinganya. Yang lain geleng-geleng kepala seraya melanjutkan game masing-masing. Tapi rupanya dedi masih tampak takjub dengan games yang baru diselesaikan nongki.
“Wah hebat kamu Nong. Aku sudah 7 kali mencoba, tapi tak pernah berhasil!” dedi berkomentar. Nongki tersenyum bangga sambil menepuk dadanya.
“Nih Nongki, urusan PS ini jagonya!”
Bisa ditebak, Dedi lansung manyun. Dan kalau sudah begini, Bang sani tersenyum melihat tingkah laku pelanggan kecilnya. Ia tak pernah mempermasalahkan kalau Nongki sering berbuat gaduh. Bukankah dia pelanggan yang paling setia?
Entah berapa puluh ribu yang di habiskan Nongki tiap bulan untuk bermain PS alias Play Station. Hampir tiap pulang sekolah dia mampir di “Sani’s Play station “ deket rumahnya. Tangannya terasa gatal kalau tidak memencet tombol remote sehari saja. Dia dengan senang hati merelakan uang jajannya. Padahal kalau di tabung, wah, seminggu bisa terkumpul 60ribu.
Tapi yang jadi masalah, kebiasaan ini sudah berdampak buruk, dan ibu nya sudah mulai khawatir. Nongki selalu sudah mengantuk saat waktu belajar tiba di malam hari. Bagaimana tidak? Pulang sekolah sampai maghrib dia bermain PS. Sampai rumah sudah lemas.
“Nongki, ingat, ujian semester sebentar lagi lho,” kata ibu,” untuk semetara main PS nya istirahat dulu ya.”
Nongki tak menjawab.
“Kapan kamu mau belajar? Selepas maghrib kamu sudah teler. Makan malam pun sering terlewatkan,” lanjut ibu lagi.
“Ibu tak keberatan kamu main PS, tapi tahu waktulah. Belajar itu paling penting.”
Kalau sudah dimarahi ibu begini Nongki diam saja. Tetapi besok, kebiasaanya itu masih di teruskan juga.
Diam-diam bapak memperhatikan tingkah Nongki. Apa sich yang membuat Nongki ketagihan PS seperti ini?. Benar yang dikatakan Ibu, Nongki sudah kecanduan!. Harus ditanggulangi ini! Aha, tiba-tiba Bapak punya ide!
Hari minggu jam 7 pagi, Bapak memberi kejutan pada nongki.
“Hari ini Bapak ingin main PS,” kata Bapak usai mandi sambil mengenakan kaos. Seketika mata Nongki terbelalak. Berbinar, kemudian ia tersenyum. Ia tak dapa menyembunyikan kegembiraannya.
“Beneran nih pak?” Tanya Nongki ragu-ragu, seolah tak percaya.
“Betul, ayo kita berangkat sekarang,” kata Bapak tenang.
“Ah, jam segini Bang Sani belum buka,” jawab Nongki.
“Lha, kalau kita datang main dan bayar, pastilah dibuka.”
Iya juga ya, Nongki garuk-garuk kepala. Mereka berdua pun langsung bersiap-siap menuju rumah Bang sani. Nongki memakai kaos T-shirt kesayangannya. Di gandengnya tangan Bapak menuju “Sani’s Play station “, karena dia masih tak percaya.
Tapi rupanya Bapak ingin Nongki dulu yang main, diapun menurut. Satu jam berlalu. Nongki tambah asyik dengan PS-nya dan lupa Bapak. Bapak sih tenang saja. Itu sudah diperkirakannya.
“Bapak nggak apa-apa nih, nungguin Nongki?”
“Oh, taka pa-apa. Tenang sajalah. Bapak akan bayar semuanya.” Kali ini Nongki melotot, bola matanya hampir copot. Wah kesempatan nih!
“Berarti Nongki bisa coba semua games dong Pak,” ujarnya semangat. Bapak mengangguk.
Enam jam berlalu. Nongki mulai kelelahan. Tangannya pegal memencet tombol remote. Nongki terkejut melihat kedua jempol tangannya membengkak. Ia memutuskan berhenti main PS.
“Bapak, Nongki capek. Sudah saja ah.”
“Lho Bapak masih belum capek menungguimu kok. Bukannya mau main games? Ayo, mumpung Bapak yang bayar semua. Kapan lagi Nongki bisa main PS sepuasnya begini?”
Iya juga sih. Nongki pun melanjutkan permainannya. Dari meja kasir, Bang Sani tersenyum melihat tingkah Nongki. Dia membayangkan uang yang bakal diterimanya. Tak rugi buka pagi-pagi tadi.
Lalu tak terasa 3 jam berlalu. Kali ini pergelangan tangan nongki serasa mau putus. Tak terasa air matanya mengalir.
“Bapak, Nongki mau pulang,” katanya memelas. Sungguh dia tak tahan lagi.
“Games nya kan masih banyak. Lihat tuh. Banyak yang belum dicoba. Bang Sani, mana lagi yang baru?” kata Bapak tenang.
“Bapak, Nongki sudah nggak tahan. Lapar lagi,”
Katanya meringis. Tapi Bapak hanya menggeleng kecil. Dan tak diduga, tiba-tiba Nongki benar-benar menangis. Dia sudah sangat kelelahan bermain PS.
“Bapak please, Nongki menyerah, benar-benar menyerah!”
Melihat Nongki seperti itu, Bapak pun jadi tak tega. Bapak segera membayar ongkos sewa PS. Mata Nongki terbelalak lagi. Sementara Bang Sani tersenyum manis. Tentu saja! Seratus ribu yang dibayar Bapak. Sambil menggandeng tangan Nongki keluar, Bapak berkata : “Besok main lagi ya”
“Ampun pak. Tidak lagi. Nongki jera”
“Betul nih. Jera hari ini saja?”
Nongki benar-benar sudah pusing dan muak sekarang. Perutnya lapar bukan main, kaki pegal,dan lihatlah jempolnya sudah jadi bengkak, sementara pergelangan tangannya sakit sekali.
“Tidak pak, selamanya Nongki tidak akan bermain PS lagi,” Nongki menjawab sambil menghapus air matanya.
Itulah akhir episode “Games Seratus Ribu, Main Sembilan Jam.”
“Yes ! Aku berhasil menaklukannya. Aku harus mencoba semua games!” teriakan nongki mengagetkan seiesi “Sani’s Play station “. Bahkan Dedi sampai menutup telinganya. Yang lain geleng-geleng kepala seraya melanjutkan game masing-masing. Tapi rupanya dedi masih tampak takjub dengan games yang baru diselesaikan nongki.
“Wah hebat kamu Nong. Aku sudah 7 kali mencoba, tapi tak pernah berhasil!” dedi berkomentar. Nongki tersenyum bangga sambil menepuk dadanya.
“Nih Nongki, urusan PS ini jagonya!”
Bisa ditebak, Dedi lansung manyun. Dan kalau sudah begini, Bang sani tersenyum melihat tingkah laku pelanggan kecilnya. Ia tak pernah mempermasalahkan kalau Nongki sering berbuat gaduh. Bukankah dia pelanggan yang paling setia?
Entah berapa puluh ribu yang di habiskan Nongki tiap bulan untuk bermain PS alias Play Station. Hampir tiap pulang sekolah dia mampir di “Sani’s Play station “ deket rumahnya. Tangannya terasa gatal kalau tidak memencet tombol remote sehari saja. Dia dengan senang hati merelakan uang jajannya. Padahal kalau di tabung, wah, seminggu bisa terkumpul 60ribu.
Tapi yang jadi masalah, kebiasaan ini sudah berdampak buruk, dan ibu nya sudah mulai khawatir. Nongki selalu sudah mengantuk saat waktu belajar tiba di malam hari. Bagaimana tidak? Pulang sekolah sampai maghrib dia bermain PS. Sampai rumah sudah lemas.
“Nongki, ingat, ujian semester sebentar lagi lho,” kata ibu,” untuk semetara main PS nya istirahat dulu ya.”
Nongki tak menjawab.
“Kapan kamu mau belajar? Selepas maghrib kamu sudah teler. Makan malam pun sering terlewatkan,” lanjut ibu lagi.
“Ibu tak keberatan kamu main PS, tapi tahu waktulah. Belajar itu paling penting.”
Kalau sudah dimarahi ibu begini Nongki diam saja. Tetapi besok, kebiasaanya itu masih di teruskan juga.
Diam-diam bapak memperhatikan tingkah Nongki. Apa sich yang membuat Nongki ketagihan PS seperti ini?. Benar yang dikatakan Ibu, Nongki sudah kecanduan!. Harus ditanggulangi ini! Aha, tiba-tiba Bapak punya ide!
Hari minggu jam 7 pagi, Bapak memberi kejutan pada nongki.
“Hari ini Bapak ingin main PS,” kata Bapak usai mandi sambil mengenakan kaos. Seketika mata Nongki terbelalak. Berbinar, kemudian ia tersenyum. Ia tak dapa menyembunyikan kegembiraannya.
“Beneran nih pak?” Tanya Nongki ragu-ragu, seolah tak percaya.
“Betul, ayo kita berangkat sekarang,” kata Bapak tenang.
“Ah, jam segini Bang Sani belum buka,” jawab Nongki.
“Lha, kalau kita datang main dan bayar, pastilah dibuka.”
Iya juga ya, Nongki garuk-garuk kepala. Mereka berdua pun langsung bersiap-siap menuju rumah Bang sani. Nongki memakai kaos T-shirt kesayangannya. Di gandengnya tangan Bapak menuju “Sani’s Play station “, karena dia masih tak percaya.
Tapi rupanya Bapak ingin Nongki dulu yang main, diapun menurut. Satu jam berlalu. Nongki tambah asyik dengan PS-nya dan lupa Bapak. Bapak sih tenang saja. Itu sudah diperkirakannya.
“Bapak nggak apa-apa nih, nungguin Nongki?”
“Oh, taka pa-apa. Tenang sajalah. Bapak akan bayar semuanya.” Kali ini Nongki melotot, bola matanya hampir copot. Wah kesempatan nih!
“Berarti Nongki bisa coba semua games dong Pak,” ujarnya semangat. Bapak mengangguk.
Enam jam berlalu. Nongki mulai kelelahan. Tangannya pegal memencet tombol remote. Nongki terkejut melihat kedua jempol tangannya membengkak. Ia memutuskan berhenti main PS.
“Bapak, Nongki capek. Sudah saja ah.”
“Lho Bapak masih belum capek menungguimu kok. Bukannya mau main games? Ayo, mumpung Bapak yang bayar semua. Kapan lagi Nongki bisa main PS sepuasnya begini?”
Iya juga sih. Nongki pun melanjutkan permainannya. Dari meja kasir, Bang Sani tersenyum melihat tingkah Nongki. Dia membayangkan uang yang bakal diterimanya. Tak rugi buka pagi-pagi tadi.
Lalu tak terasa 3 jam berlalu. Kali ini pergelangan tangan nongki serasa mau putus. Tak terasa air matanya mengalir.
“Bapak, Nongki mau pulang,” katanya memelas. Sungguh dia tak tahan lagi.
“Games nya kan masih banyak. Lihat tuh. Banyak yang belum dicoba. Bang Sani, mana lagi yang baru?” kata Bapak tenang.
“Bapak, Nongki sudah nggak tahan. Lapar lagi,”
Katanya meringis. Tapi Bapak hanya menggeleng kecil. Dan tak diduga, tiba-tiba Nongki benar-benar menangis. Dia sudah sangat kelelahan bermain PS.
“Bapak please, Nongki menyerah, benar-benar menyerah!”
Melihat Nongki seperti itu, Bapak pun jadi tak tega. Bapak segera membayar ongkos sewa PS. Mata Nongki terbelalak lagi. Sementara Bang Sani tersenyum manis. Tentu saja! Seratus ribu yang dibayar Bapak. Sambil menggandeng tangan Nongki keluar, Bapak berkata : “Besok main lagi ya”
“Ampun pak. Tidak lagi. Nongki jera”
“Betul nih. Jera hari ini saja?”
Nongki benar-benar sudah pusing dan muak sekarang. Perutnya lapar bukan main, kaki pegal,dan lihatlah jempolnya sudah jadi bengkak, sementara pergelangan tangannya sakit sekali.
“Tidak pak, selamanya Nongki tidak akan bermain PS lagi,” Nongki menjawab sambil menghapus air matanya.
Itulah akhir episode “Games Seratus Ribu, Main Sembilan Jam.”
Langganan:
Postingan (Atom)