Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
UJIAN NASIONAL ONLINE, WHY YES?
Pro kontra di masyarakat terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah berlangsung cukup lama, bahkan dapat dikatakan sejak UN tersebut mulai dilaksanakan (2005). Masyarakat yang pro maupun kontra terhadap pelaksanaan UN tersebut tentu memiliki alasan masing-masing. Yang pro UN menganggap bahwa UN adalah salah satu sarana untuk mengukur kompetensi peserta didik. Selain itu, adanya standar kelulusan yang berskala nasional merupakan bagian dari politik pendidikan. Apa kata dunia jika Indonesia tidak memiliki standar kelulusan peserta didik, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah.
Yang kontra terhadap UN menganggap bahwa pelaksanaan UN tidak adil dan tidak fair, karena tidak mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh perbedaan dan keragaman prasarana dan sarana yang dimiliki sekolah serta kemampuan guru di berbagai daerah. Dari Sabang sampai Merauke, yang di perkotaan dan di pedesaan, peserta didik diuji dengan soal yang sama, padahal fasilitas belajarnya tidak sama, kemampuan gurunya juga tidak sama. Selain itu, pelaksanaan UN tidak fair karena ternyata di beberapa daerah terjadi kecurangan, dimana siswa telah mendapat jawaban soal ujian beberapa menit sebelum UN dilaksanakan. Hal ini bukan rahasia lagi, karena sudah ada yang membawa persoalan ini sampai ke pengadilan. Contoh kasus dalah hasil temuan kelompok Air Mata Guru di Medan. Jika hal ini benar, berarti ada yang tidak beres (something wrong) terhadap proses pelaksanaan UN. Ketidakberesan tersebut dapat saja terjadi mulai dari hulu sampai ke hilir. Panitia Ujian Nasional juga
manusia kan?.Setelah Mahkamah Konsitusi memutuskan bahwa ada kesalahan dalam pelaksanaan UN selama ini, maka pro kontra terhadap UN pun muncul lagi. Di awal tahun 2010 ini DPR telah menyetujui pelaksanaan UN, meskipun ada beberapa fraksi yang menolak. Persetujuan tersebut dicapai dengan catatan bahwa harus dilakukan perbaikan secara “metodologis”, termasuk sistem pengawasannya. UN tahun 2010 juga akan melakukan Ujian Ulangan bagi yang tidak lulus. Dalam dua tahun terakhir memang tidak ada ujian ulangan. Mendiknas pernah menegaskan bahwa pro kontra terhadap UN tidak akan pernah selesai. Jika demikian keadaannya, adakah solusi terbaik terhadap pelaksanaan UN yang dapat memuaskan semua pihak.
Solusi tepat
Salah satu solusinya adalah dengan melaksanakan Ujian Nasional Online (UNO). Melalui UNO ini setiap siswa kelas tiga akan mengikuti ujian nasional secara online, baik melalui internet sekolah maupun yang ditunjuk oleh sekolah. Keberadaan internet sekolah sampai awal tahun 2010 sudah tersambung lebih dari 300 sambungan, dan pemerintah juga telah mencanangkan agar internet tersambung ke seluruh desa.
Mengapa UNO? Melalui UNO keuntungan yang diperoleh adalah: (a) tingkat kecurangan akan dapat dihindari karena soal tidak bocor, (b) peserta didik akan termotivasi untuk lebih giat belajar sumber belajar online dengan berselancar melalui internet, (c) biaya operasional ujian nasional dapat dikurangi, (d) menurunnya tingkat kecemasan peserta didik, orangtua, guru, dan kepala sekolah, dan ini yang paling penting (e) munculnya kejujuran peserta didik dan seluruh stakeholder. Pelaksanaan ujian nasional online dilaksanakan dengan catatan bagi yang gagal diperbolehkan mengulang sekali. Namun demikian, kelemahannya juga ada terutama bagi peserta didik di daerah sulit dijangkau (hard to reach), terisolir, dan tertinggal. UNO ini bukan untuk penentu kelulusan tapi untuk pemetaan mutu pendidikan.
Ada baiknya Pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan ujian nasional online(UNO) secara bertahap. Misalnya tahun 2011 hanya untuk tingkat SMTA/sederajat, tahun 2012 untuk tingkat SMTA dan SMP, dan tahun 2013 untuk tingkat SD, SMP/sederajat, dan SMTA/sederjat. Untuk itu diperlukan analisis komprehensif tentang kalkulasi biaya, untung rugi secara riel, manajemen, dan metode pelaksanaannya dapat suatu analisis komprehensif.
Kat-Kata Bijak Einstein
Meski ia mengatakan, "Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran." namun nama "Einstein" sangat identik dengan kata "Jenius". Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat sang maskot ilmuwan modern.
"Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan"
"Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan"
"Aku Berpikir terus menerus berbulan bulan dan bertahun tahun, sembilan puluh sembilan kali dan kesimpulannya salah. Untuk yang keseratus aku benar."
"Kalau mereka ingin menemuiku, aku ada disini. Kalau mereka ingin bertemu dengan pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka. (Ketika istrinya memintanya berganti untuk menemui Duta Besar Jerman)"
"Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya."
"Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi."
"Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuanLogika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana."
"Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikn aku benar, namun sebaliknya sebuah eksperimen saja bisa membuktikan aku salah."
"Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antaramasa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada."
"Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli."
"Mencari kebenaran lebih bernilai dibandingkan menguasainya."
"Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak."
"Sudah saatnya cita-cita kesuksesan diganti dengan cita-cita pengabdian."
"Lebih mudah mengubah plutonium dari pada mengubah sifat jahat manusia."
"Tidak ada yang lebih merusak martabat pemerintah dan hukum negeri dibanding meloloskan undang-undang yang tidak bisa ditegakkan."
"Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya."
"Generasi-generasi yang akan datang akan kehilangan keyakinan bahwa manusia akan berjalan di muka bumi dengan darah dan daging."
"Nilai manusia terletak pada apa yang bisa dia terima."
"Kalau nilai 9 itu kesuksesan dalam kehidupan, maka nilai 9 sama dengan x ditambah y ditambah z. Bekerja adalah x, y adalah bermain, dan z adalah untuk berdiam diri."
"Orang berjiwa besar akan selalu menghadapi perlawanan hebat dari orang2
"PICIK"."
"Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan,
maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru"
"Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini
adalah pajak penghasilan."
"Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan.
Ada suatu lompatan dalam kesadaran,
sebutlah itu intuisi atau apapun namanya,
solusinya muncul begitu saja dan
kita tidak tahu bagaimana atau mengapa."
"Kebahagiaan dalam melihat dan
memahami merupakan anugerah
terindah alam."
"Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita.
Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban.
Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban."
"Usaha pencarian kebenaran dan keindahan
merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita
untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat."
"Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk
suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang
bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan
alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang."
"If you can't explain it simply, you don't understand it well enough."
"In the middle of difficulty lies opportunity."
Di tengah kesulitan ada kesempatan.
"True art is characterized by an irresistible urge in the creative artist."
"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them."
Kita tidak bisa menyelesaian suatu masalah dengan jalan berpikir yang sama ketika kita menemukan masalah tersebut.
"It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity."
"The secret to creativity is knowing how to hide your sources."
Rahasia kreatifitas adalah mengetahui bagaimana menyembunyikan sumber kreatifitas tersebut.
"Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan"
"Aku Berpikir terus menerus berbulan bulan dan bertahun tahun, sembilan puluh sembilan kali dan kesimpulannya salah. Untuk yang keseratus aku benar."
"Kalau mereka ingin menemuiku, aku ada disini. Kalau mereka ingin bertemu dengan pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka. (Ketika istrinya memintanya berganti untuk menemui Duta Besar Jerman)"
"Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya."
"Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi."
"Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuanLogika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana."
"Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikn aku benar, namun sebaliknya sebuah eksperimen saja bisa membuktikan aku salah."
"Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antaramasa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada."
"Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli."
"Mencari kebenaran lebih bernilai dibandingkan menguasainya."
"Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak."
"Sudah saatnya cita-cita kesuksesan diganti dengan cita-cita pengabdian."
"Lebih mudah mengubah plutonium dari pada mengubah sifat jahat manusia."
"Tidak ada yang lebih merusak martabat pemerintah dan hukum negeri dibanding meloloskan undang-undang yang tidak bisa ditegakkan."
"Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya."
"Generasi-generasi yang akan datang akan kehilangan keyakinan bahwa manusia akan berjalan di muka bumi dengan darah dan daging."
"Nilai manusia terletak pada apa yang bisa dia terima."
"Kalau nilai 9 itu kesuksesan dalam kehidupan, maka nilai 9 sama dengan x ditambah y ditambah z. Bekerja adalah x, y adalah bermain, dan z adalah untuk berdiam diri."
"Orang berjiwa besar akan selalu menghadapi perlawanan hebat dari orang2
"PICIK"."
"Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan,
maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru"
"Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini
adalah pajak penghasilan."
"Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan.
Ada suatu lompatan dalam kesadaran,
sebutlah itu intuisi atau apapun namanya,
solusinya muncul begitu saja dan
kita tidak tahu bagaimana atau mengapa."
"Kebahagiaan dalam melihat dan
memahami merupakan anugerah
terindah alam."
"Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita.
Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban.
Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban."
"Usaha pencarian kebenaran dan keindahan
merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita
untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat."
"Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk
suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang
bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan
alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang."
"If you can't explain it simply, you don't understand it well enough."
"In the middle of difficulty lies opportunity."
Di tengah kesulitan ada kesempatan.
"True art is characterized by an irresistible urge in the creative artist."
"We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them."
Kita tidak bisa menyelesaian suatu masalah dengan jalan berpikir yang sama ketika kita menemukan masalah tersebut.
"It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity."
"The secret to creativity is knowing how to hide your sources."
Rahasia kreatifitas adalah mengetahui bagaimana menyembunyikan sumber kreatifitas tersebut.
Menuju Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan
Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani deklarasi “Education for All”. Berkaitan dengan deklarasi ini dan sekaligus juga sebagai wujud keseriusan Indonesia mensukseskannya, maka Indonesia telah mencanangkan Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun 1984 dan 10 berikutnya, yaitu pada tahun 1994, Indonesia mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajar 6 Tahun diharapkan anak-anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapat menikmati layanan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak-anak usia SD dapat menyelesaikan pendidikan SD. Demikian juga halnya melalui pencanangan Wajib Belajar 9 Tahun diharapkan anak-anak usia SMP (13-15 tahun) dapat menyelesaikan pendidikan SMP.
Berbagai program yang diarahkan untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan Wajib Belajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Berkaitan dengan hal ini, satu hal yang menjadi keprihatinan di berbagai negara adalah mengenai anak-anak yang karena satu dan lain hal terpaksa tidak dapat menyelesaikan pendidikan SD sehingga mereka ini menjadi warga negara yang buta aksara. Demikian juga dengan anak-anak yang terpaksa tidak dapat menyelesaikan pendidikan SMP, maka mereka akan cenderung masuk ke dalam kelompok tenaga kerja kasar.
Hakekat dari “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu setidak-tidaknya untuk mendapatkan layanan pendidikan dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untuk dapat mewujudkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warga negara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan” sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing.
Sebagai unit organisasi sosial terkecil, orang tua dari setiap keluarga tergugah dan terpanggil untuk setidak-tidaknya membimbing dan membelajarkan anak-anaknya, baik melalui pendidikan formal persekolahan, lembaga pendidikan non-formal, maupun melalui lembaga pendidikan informal. Mengirimkan anak untuk belajar melalui lembaga pendidikan sekolah sudah jelas yaitu mulai dari taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan pendidikan tinggi.
Apabila karena satu dan lain hal, seorang anak tidak memungkinkan untuk mengikuti pendidikan persekolahan, maka orang tua dapat mengirimkan anaknya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran pada pendidikan non-formal, seperti Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Seandainya seorang anak tidak memungkinkan juga mengikuti pendidikan melalui pendidikan formal dan non-formal, maka masih ada model pendidikan alternatif yang dapat ditempuh, yaitu “Sekolah di Rumah” (Home Schooling). Dalam kaitan ini, orang tua dapat mengidentifikasi lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan atau unit-unit pendidikan prakarsa anggota masyarakat yang menyelengggarakan “Sekolah di Rumah” dan kemudian mengirimkan anaknya untuk mengikuti pendidikan di lembaga atau unit pendidikan tersebut. Atau, orang tua sendiri dengan latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, dapat membimbing dan membelajarkan anak-anaknya sehingga pada akhirnya sang anak dapat mengikuti ujian persamaan (Upers), baik pada satuan pendidikan SD, SMP atau SMA.
Pada satuan lembaga, baik yang sepenuhnya bernafaskan pendidikan maupun yang tidak, hendaknya memiliki komitmen yang sama yaitu untuk membelajarkan anak-anak dari orang tua yang bekerja pada masing-masing lembaga. Bentuk komitmen dari lembaga tidak harus dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan tetapi dapat saja dalam bentuk beasiswa. Bagi lembaga industri atau perusahaan, bentuk komitmennya dapat saja dalam bentuk pemberian beasiswa atau berfungsi sebagai orang tua asuh setidak-tidaknya bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja di industri atau perusahaan.
Apabila semua komponen bangsa bergerak serempak bagaikan sebuah orkestra, masing-masing komponen bangsa memberikan yang terbaik yang ada padanya demi pencerdasan kehidupan bangsa, maka tidak akan diragukan lagi bahwa orkestra akan menghasilkan/ memberikan lagu yang terbaik (the best). Analoginya di bidang pendidikan, bahwa melalui gerakan masyarakat, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri menerapkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, maka penuntasan wajib belajar 6 tahun dan 9 tahun akan dapat lebih cepat tercapai.
Seiring dengan rencana alokasi anggaran untuk sektor pendidikan pada APBN Tahun 2009 sebesar 20%, tentunya diharapkan akan dapat lebih mempercepat penuntasan Wajib Belajar 6 dan 9 Tahun serta terbuka kemungkinan untuk mempersiapkan pencanangan Wajib Belajar 12 Tahun. Dengan menjadikan pendidikan sebagai gerakan masyarakat dan ditunjang oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta komitmen untuk mewujudkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, maka dalam beberapa tahun ke depan diharapkan hasil atau dampaknya dalam bentuk keunggulan kompetetif akan dirasakan secara nasional dan juga diapresiasi secara regional/internasional.
UN Tidak Jadi Tolak Ukur Kelulusan Siswa
Pendidikan Nasional
JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan ujian nasional (UN) tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kelulusan siswa.
”Saya berpendapat ujian nasional tidak satu-satunya alat ukur yang bisa kita tentukan, tapi dengan memadukan aspek lain,” kata Presiden dalam pembukaan Rapat Terbatas Bidang Pendidikan dan Kesehatan di Kantor Presiden, Jakarta , Kamis (7/1).
Presiden mengatakan hal tersebut setelah mendengar banyaknya pro dan kontra yang muncul berkaitan dengan ujian nasional .
Oleh karena itu, Kepala Negara menilai pemerintah perlu mempertimbangkan dua opsi. Pertama, ujian nasional sebagai alat ukur pertama, namun ketika seorang siswa tidak berhasil, maka masih ada peluang untuk melaksanakan ujian ulang.
Opsi kedua adalah dengan memakai metode Ebtanas, seperti zaman dulu. ”Kalau opsi kedua, perlu kajian.
Yang penting lebih objektif untuk mengukur prestasi siswa. Kalau 3 tahun ya 3 tahun. Kebijakan utuh penting ditetapkan dengan tepat dan benar,” kata Presiden.
Ujian Susulan Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, seusai mengikuti ratas, mengatakan untuk tahun 2010 ujian nasional tetap dilakukan. Tetapi siswa diberikan peluang untuk melakukan ujian susulan bila gagal pada ujian nasional.
Jika setelah ujian susulan peserta didik tetap tidak lulus Mendiknas mengatakan ada satu kesempatan lagi yaitu mengikuti ujian paket C. Dia mengatakan adanya uji an susulan tidak akan memengaruhi proses penerimaan siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Pemerintah telah memajukan jadwal ujian nasional.
“Agar ujian susulan tidak terlalu ’mepet’ dengan pendaftaran jen jang studi berikutnya, maka kita mengajukan waktu pelaksanaan ujian nasional dimajukan pada minggu ketiga Maret 2010,” tegas Mendiknas.
Mendiknas mengatakan ujian nasional 2010 berbeda dengan 2009 lalu. Pada 2009, saat siswa tidak lulus, kemudian mengikuti ujian paket C. “Kalau 2010, kita berikan kesempatan ujian ulang terlebih dahulu.”
Dia menambahkan faktor penentu kelulusan siswa dalam ujian nasional 2010 adalah nilai rata-rata peserta dari SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK tahun 2010, minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya.
”Sekarang 5,5, boleh ada angka 4, dan untuk hal ini, arahan Pak Presiden harus digiatkan sosialisasinya,” kata Mendiknas.
Selain itu, lanjut dia, merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, siswa dinyatakan lulus jika memenuhi 4 kriteria.
Pertama, sudah selesai seluruh program pendidikan, kedua, siswa yang baik budi pekertinya. “Jadi kalau ada anak yang nakalnya di luar kewajaran ya tidak bisa diluluskan,” kata dia. Ketiga, lulus ujian mata pelajaran sekolah, dan keempat, lulus ujian nasional.
ito/P-1
Penulis Berita : ito/P-1
JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan ujian nasional (UN) tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kelulusan siswa.
”Saya berpendapat ujian nasional tidak satu-satunya alat ukur yang bisa kita tentukan, tapi dengan memadukan aspek lain,” kata Presiden dalam pembukaan Rapat Terbatas Bidang Pendidikan dan Kesehatan di Kantor Presiden, Jakarta , Kamis (7/1).
Presiden mengatakan hal tersebut setelah mendengar banyaknya pro dan kontra yang muncul berkaitan dengan ujian nasional .
Oleh karena itu, Kepala Negara menilai pemerintah perlu mempertimbangkan dua opsi. Pertama, ujian nasional sebagai alat ukur pertama, namun ketika seorang siswa tidak berhasil, maka masih ada peluang untuk melaksanakan ujian ulang.
Opsi kedua adalah dengan memakai metode Ebtanas, seperti zaman dulu. ”Kalau opsi kedua, perlu kajian.
Yang penting lebih objektif untuk mengukur prestasi siswa. Kalau 3 tahun ya 3 tahun. Kebijakan utuh penting ditetapkan dengan tepat dan benar,” kata Presiden.
Ujian Susulan Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, seusai mengikuti ratas, mengatakan untuk tahun 2010 ujian nasional tetap dilakukan. Tetapi siswa diberikan peluang untuk melakukan ujian susulan bila gagal pada ujian nasional.
Jika setelah ujian susulan peserta didik tetap tidak lulus Mendiknas mengatakan ada satu kesempatan lagi yaitu mengikuti ujian paket C. Dia mengatakan adanya uji an susulan tidak akan memengaruhi proses penerimaan siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Pemerintah telah memajukan jadwal ujian nasional.
“Agar ujian susulan tidak terlalu ’mepet’ dengan pendaftaran jen jang studi berikutnya, maka kita mengajukan waktu pelaksanaan ujian nasional dimajukan pada minggu ketiga Maret 2010,” tegas Mendiknas.
Mendiknas mengatakan ujian nasional 2010 berbeda dengan 2009 lalu. Pada 2009, saat siswa tidak lulus, kemudian mengikuti ujian paket C. “Kalau 2010, kita berikan kesempatan ujian ulang terlebih dahulu.”
Dia menambahkan faktor penentu kelulusan siswa dalam ujian nasional 2010 adalah nilai rata-rata peserta dari SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK tahun 2010, minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya.
”Sekarang 5,5, boleh ada angka 4, dan untuk hal ini, arahan Pak Presiden harus digiatkan sosialisasinya,” kata Mendiknas.
Selain itu, lanjut dia, merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, siswa dinyatakan lulus jika memenuhi 4 kriteria.
Pertama, sudah selesai seluruh program pendidikan, kedua, siswa yang baik budi pekertinya. “Jadi kalau ada anak yang nakalnya di luar kewajaran ya tidak bisa diluluskan,” kata dia. Ketiga, lulus ujian mata pelajaran sekolah, dan keempat, lulus ujian nasional.
ito/P-1
Penulis Berita : ito/P-1
6 MASALAH BESAR PENDIDIKAN DI INDONESIA
Menikmati pendidikan belasan tahun di Indonesia membuat saya miris. Penilaian berorientasi hasil, bukan proses. Pembinaan mengabaikan EQ dan SQ. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental positif. Trilogi dasar aspek pendidikan kognitif-psikomotor -afektif bahkan sengaja diabaikan.
UAN yang setahun lalu telah lewat dan akan di mulai lagi tahun ini. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Namun banyak yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan demi anak didik dan sekolah terangkat citranya. Guru, kepala sekolah, dan bahkan pejabat daerah terlibat jadi tim sukses. Passing grade ditetapkan, tapi sarana, prasarana, dan sumberdaya belum terkondisikan. Begitu hasil jeblok, segala cara agar murid lulus, bukan dengan introspeksi. We want to look good, but didn’t want to be really good.
Sebagian menyayangkan jerih payah tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas diterima SPMB Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tapi gagal dalam UAN. Murid cerdas justru terbebani mentalnya. Apalagi, andaikata tak lulus, mereka musti mengulang Paket C yang prestisenya kalah jauh. Dorongan belajar pada akhirnya justru sulit dibangkitkan dan hasil maksimal mustahil diperoleh.
Di sisi lain, kualitas pendidikan di Indonesia memang sedemikian rendahnya. Dengan passing grade yang cukup rendah dibanding negara tetangga, masih banyak juga yang tidak lulus. Ketika ada wacana untuk menaikkan standar, protes di sana-sini. Solusinya? Mungkin kembalikan saja ke sistem Ebtanas lama yang dirasa lebih “fair” dan tidak mengundang banyak masalah .sembari menunggu format UAN yang benar-benar pas buat Negara ini.
Atau, sebelum UAN, misalnya sekolah mengadakan seleksi intern sehingga hanya benar-benar murid yang siap yang bisa mengikuti UAN. Atau, UAN dilakukan dengan beberapa passing grade: yang nilainya sekian bisa mendaftar S1, yang sekian hanya bisa mendaftar diploma, yang kurang bisa mengulang tahun depan. Di Singapura, hanya murid tertentu yang qualified yang bisa lanjut S1, sementara sisanya masuk ke program diploma/poltek (atau TAFE kalau di Australia ).
Atau, mencontek di negara maju, murid yang lulus UAN mendapat ijasah UAN, sementara yang tidak hanya memperoleh ijasah sekolah atau tanda tamat belajar. Di Inggris misalnya, setelah pendidikan wajib 16 tahun, murid bisa langsung kerja atau ambil A-Level selama dua tahun untuk persiapan kuliah. Di akhir program ada tes nasional dimana murid yang mendapat nilai A pada mata pelajaran utama bisa langsung masuk universitas favorit seperti Oxford , Cambridge , Imperial College, dan sebagainya..
Yang jelas, jika KBK/KTSP diterapkan, kita semua musti konsisten. Evaluasi harus berdasarkan proses. UAN tak perlu dipaksakan sebagai penentu kelulusan. Tapi sejauh mana kesiapan kita (terutama di daerah) untuk menerapkannya? Itu PR kita bersama.
Pada bulan januari ini adalah bulan yang efektif untuk merefleksi masalah pendidikan kita, ada masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia . 6 masalah besar ini berdasarkan dampaknya yang sangat dirasakan oleh masyarakat
1. Kapitalisasi pendidikan
Melalui kebijakan “membadan usahakan dunia pendidikan”, pendidikan dihadapkan pada biaya yang sangat mahal. Beberapa sekolah negeri yang berkatagori SBI dan Nasional Plus mematok harga masuk 5-10 juta, belum lagi spp bulanan > 200.000, walhasil anak-anak miskin tidak mungkin mendapatkan sekolah bermutu. PTN bergensi yang sudah BHMN pun berlomba-lomba meningkatkan uang masuk, jalur biasa saja (spmb) bisa seharga 10 juta untuk uang masuk, maka jalur luar biasa konon paling sedikitnya 60 juta. walhasil KAPITALISASI pendidikan akan memicu DISKRIMINASI PENDIDIKAN.
2. UJIAN AKHIR NASIONAL
Menteri pendidikan yang keras kepala tetap bersikukuh bahwa “UAN” adalah penentu LULUS TIDAKNYA SISWA. Kekeras kepalaan Mentri Pendidikan bisa dimaklumi, latar belakangnnya sebagai ekonom MAFIA BERKELEY menjadikan pemikirannya pun hanya berkutat pada suku bunga, inflasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang semuanya dinilai dari superfacial atau makro saja. Maka ketika landasan ekonomi diterapkan pada pendidikan, analoginya adalah nilai UAN=indikator pertumbuhan ekonomi, yang hanya dilihat dari B..IND=inflansi, MATH=suku bunga, Pelajaran lainnya=investasi. Walaupun parameter kelulusan hanya berdasarkan pada UAN bertentangan dengan filosofi kurikulum 2006 (KTSP) yang sangat menjunjung proses, Mentri Pendidikan tidak perduli. SHOW MUST BE GO ON (resiko jika menteri pendidikan dipegang oleh orang yang tidak mengerti pendidikan). Walhasil guru berbuat curang demi murid. Kasus Deli Serdang bukan satu-satunya kasus. Murid pun stress….Jika ada penelitian tentang stress, maka bisa diprediksi…STRESS pada siswa dan guru bahkan orang tua sangat tinggi setiap UAN. Tetapi tentu saja, UAN menguntungkan lembaga bimbingan belajar. Maka saya sarankan…semua sekolah di Indonesia ditutup saja!!!!!semuanya diganti BIMBINGAN BELAJAR!!!!Karena apakah itu SBI, Nasional Plus, atau … jika yang dihargai pada akhirnya hanya nilai UAN yang bisa didapatkan hanya lewat drill tanpa perlu proses!!!! JADI UAN ADALAH PEMANDULAN KREATIFITAS BANGSA, DAN PEMICU KETIDAK JUJURAN/BUDAYA KORUPSI
3. Pendidikan untuk mencetak buruh
SMK menjadi primadona dalam tiga tahun terakhir ini, mengapa? SMK diimagekan sebagai sekolah yang cepat menghasilkan uang. Anak TK, ketika menyaksikan iklan SMK berkata pada kakaknya, “masuk SMK aja nanti dikasih uang, kan ada iklannya”. Sungguh melihat fakta ini, kita jadi teringat pendidikan di zaman kolonial Belanda, sekolah pertukangan dan pangepraja dibuka semurah-murahnya dan sebanyak-banyaknya, tujuannya adalah menghasilkan para buruh dan pegawai bagi kepentingan Belanda. Kini setelah 63 tahun Indonesia MERDEKA, sudah cukup banyak sarjana , master, dan doktor sebagai konseptor bangsa, maka PEMERINTAH SBY mengembar-gemborkan lagi, untuk menjadikan anak-anak bangsa ini cukup SEBAGAI BURUH, yang kemudian bisa diekspor sebagai TKI….Ironis…!!!!
4. Penganaktirian Madrasah dan Pesantren
Madrasah masih menjadi anak tiri dalam pendidikan. Sekolah yang punya keunggulan dari sisi akhlak ini acapkali dipandang sebelah mata. Sejak zaman penjajahan pesantren dan madrasah adalah kawah candra dimuka lahirnya para pejuang yang membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Mungkin ketakutan ini masih menyelimuti kebijakan pendidikan Indonesia yang lebih pro sekuler ketimbang islam. Walhasil…madrasah nasibnya sangat mengkhawatirkan…dan senantiasa tertinggal….padahal madrasah ada dan hidup ditengah masyarakat yang marjinal, sehingga memajukan madrasah berarti mengeluarkan masyarakat dari kemarjinalan.
5. Wajib belajar
Mahalnya biaya sekolah, membuat orang miskin memilih perut ketimbang pendidikan. Program sekolah gratis hanya ilusi, pada kenyataannya orang miskin tetap mengeluarkan biaya untuk seragam, sepatu, transfortasi, dan buku. Untuk masuk SD/SMP saja, biaya seragam, sepatu, dan buku tulis bisa mencapai 500.000, sedangkan untuk transfortasi bisa memakan biaya 6000 per hari, belum lagi jajan harian anak di sekolah misalkan 1000 perhari. Walhasil 7.000 sehari harus dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya disebuah sekolah gratis…..bagi orang miskin biaya ini cukup besar, karena 7.000 lebih baik digunakan untuk membeli 1 liter beras, daripada sekolah. Satu sisi banyak sekolah yang tidak menginginkan jadi sekolah gratis, karena pamornya jadi turun dan guru pun tidak mendapat income tambahan???? ? Ironisnya WAJIB BELAJAR SUDAH DIDENGUNGKAN SEJAK 30 TAHUN YANG LALU, DAN SAMPAI SEKARANG BELUM BISA TERCAPAI BAHKAN MAKIN MEMBURUK????
6. Sarana & Prasarana Pendidikan
Sarana & Prasarana yang tidak sama antara sekolah satu dengan yang lainnya sangat menentukan dalam siswa menyerap pelajaran yang diberikan sang guru. Jadi standar Nilai yang ditentukan Oleh Depdiknas belum saatnya di terapkan di Indonesai hal ini disebabkan oleh beberapa factor di atas.Mari kita sama – sama satukan tekad tolak
HARUS DIAKUI….SECARA SISTEM NEGARA KITA SEDANG MENUJU “KEBANGKRUTAN” SECARA TOTAL.
Pengertian Wirausaha
Pengertian Kewirausahaan berasal dari kata enterpteneur yang berarti orang yang membeli barang dengan harga pasti meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang yang akan dijual. Wirausaha sering juga disebut wiraswasta yang artinya sifat-sifat keberanian, keutamaan, keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Meski demikian wirausaha dan wiraswasta sebenarnya memiliki arti yang berbeda . Wiraswasta tidak memiliki visi pengembangan usaha sedangkan wirausaha mampu terus berkembang dan mencoba usaha lainnya.
Istilah lainnya yang semakna dengan wirausaha adalah wiraswasta. Istilah wiraswasta lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada wirausaha. Padahal, keduanya bermakna sama dan merupakan padanan dari kata entrepreneur. Kata wiraswasta berasal dari gabungan wira-swa-sta dalam bahasa sansekerta. Wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau pejuang; swa berarti sendiri atau mandiri; sta berarti berdiri; swasta berarti berdiri ditas kaki sendiri atau dengan kata lain berdiri di atas kemampuan sendiri.
Sedangkan wirausahawan mengandung arti secara harfah, wira berarti berani dan usaha berarti daya upaya atau dengan kata lain wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih kesuksesan.
Berdasarkan makna-makna tersebut, kata wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan di bidang usaha. Dengan kalimat lain, wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewiraswastaan atau kewira-usahaan. Ia bersikap berani unuk mengambil resiko. Ia juga memiliki leutamaan, kreatifitas, dan teladan dalam menangani usaha atau perusahaan. Keberaniannya berpijak pada kemampuan sendiri atau kemandiriannya.
Pengertian lainnya menyebutkan kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Raymond dan russel memberikan definisi tentang wirausaha dengan menekankan pada aspek kebebasan berusaha yang dinyatakannya sebagai berikut : An entrepreneur is an independent growth oriented owner operator. Menurut Gede Pratama, ada beberapa sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha diantaranya :
- Wirausaha adalah seorang pencipta perubahan (the change creator)
- Wirausaha selalu melihat [erbedaan sebagai peluang
- Wirausaha selalu bereksperimen dengan pembaharuan
- Wirausaha adalah seorang pakar tentang dirinya
- Wirausaha melihat pengetahuan dan pengalaman hanyalah alat untuk memacu kreativitas
- Wirausaha berani memaksa diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain
Sedangkan menurut Robin, kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi tanpa memperhatikan sumber daya yang mereka kendalikan. Wirausahawan atau entrepreneur juga diartikan sebagai seorang penemu bisnis yang sama sekali baru dan mampu mengembangkan menjadi perusahaan yang mencapai kesuksesan. Contohnya adalah Microsoft, Wal-Mart, dan Aqua. Seseorang entrepreneur memiliki cirri-ciri diantaranya:
- focus yang terkendali
- berenergi yang tinggi
- kebutuhan akan prestasi
- bertoleransi terhadap keraguan
- percaya diri
- berorientasi terhadap tindakan.
Para wirausahawan adalah orang-orang yang mengetahui bagaimana menentukan keputusan dalam pekerjaan dan bagga terhadap prestasinya. Menurut Joseph Schumpeter menyebutkan , “entrepreneur is the person who perceives an opportunity and creates an organization to pursue it. “ (bygrave, 1994:2). Dengan kata lain, seseorang wirausahawan atau entrepreneur harus memiliki dorongan yang kuat untuk mencapai keberhasilan. David Mc. Clelland berpendapat, ada sifat yang baku dalam diri seriap manusia, yaitu : need of power, need of affiliation, and need of achievement.
Pada abad ke-20, konotasi dari entrepreneur yang berarti innovator mulai dikenal. Inovasi adalah kegiatan memperkenalkan sesuatu yang baru, yang merupakan tugas seseorang entrepreneur sebagai sebuah proses dinamis dalam meningkatkan kesejahteraan.
Perkembangan definisi mengarahkan pada definisi baru “perilaku berpikir strategis dan pengambilan resiko yang dilakukan oleh individu maupun organisasi”. Definisi ini memberikan penjelasan bahwa definisi entrepreneur adalah indivisu yang mengambil segala resiko untuk mengejar dan menjangkau peluang serta situasi yang berbeda dengan kemungkinan kegagalan dan ancaman serta hambatan.
Pada Negara yang berkembang, motivasi menguasai bisnis sangat penting untuk menunjang daya saing yang kompetitif. Setelah itu, barulah kemudian menumbuhkan motivasi yang berkumpul, yaitu keinginan untuk saling berbagi informasi melalui kelompok-kelompok tertentu agar timbul peluang dan kesempatan dalam berusaha. Agar peluang tersebut terlaksana, harus dibangun kehausan akan prestasi, diantaranya, menggerakkan diri sendiri sehingga timbul keinginan untuk berwirausaha. Untuk tugas kuliah Heru Cahyono Accounting Academy Muhammadiyah Klaten
Sifat yang perlu dimiliki seorang wirausaha
Seorang wirausahawan haruslah seorang yang mampu melihat ke depan. Melihat kedepan bukan melamun kosong, tetapi melihat, berpikir dengan penuh perhitungan mencari pilihan dari berbagai alternatif masalah dan pemecahannya. Dari berbagai penelitian di Amerika Serikat untuk menjadi wirausahawan seseorang harus memiliki :
(BN.Marbun,1993:63)1. Percaya Diri
Kepercayaan (keteguhan), ketidaktergantungan, kepribadian mantap, optimisme.
2. Berorientasi pada tugas dan hasil
Kebutuhan atau haus akan prestasi, berorientasi laba atau hasil, tekun dan tabah, tekad,kerja keras motivasi, energik penuh inisiatif
3. pengambil resiko
mampu mengambil resiko, suka pada tantangan
4. kepemimpinan
mampu meminpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran dan kritik
5. keoorisinilan
inovatif, kreatif, fleksibel, banyak sumber, serba bisa mengetahui banyak
6. berorientasi kepada masa depan.
pandangan ke depan, perseptif
Mentalitas Yang Merusak Jiwa Wiraswasta
Salah satu faktor memburuknya perekonomian nasional saat ini adalah rendahnya mental wiraswasta yang dimiliki bangsa kita. Akibatnya, daya juang, need for achievement, atau dorongan berusaha sebagian masyarakat kita rendah. Di pihak lain, bangsa kita yang kebetulan berada di level atas, lebih suka menjadi makelar. Lebih menggadaikan aset bangsa kepada pihak asing daripada berusaha memberdayakan SDM sendiri untuk mengelolanya. Akibat lanjutannya, banyak pakar mensinyalir, kebijakan-kebijakan kita banyak dikendalikan oleh the invisible hand ( meminjam istilah Pak Amien Rais ) yang memegang tengkuk birokrasi kita. Sehingga, bisa dikatakan kita ini terjajah dalam alam kemerdekaan.
Persoalannya, faktor apa saja yang membuat kita miskin mental wiraswasta ? Sejak kapan hal itu terjadi ?
Untuk menjelaskan hal ini, akan dikutip uraian Prof. Dr. Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Menurut ahli budaya ini, mentalitas bangsa kita yang tidak selaras dengan tuntutan pembangunan berasal dari dua faktor, yakni faktor yang bersumber dari budaya kita sendiri dan faktor kondisi setelah revolusi.
Salah satu karakter budaya bangsa kita adalah feodalisme. Feodalisme ini, salah satunya, mengejawantah pada nilai yang terlampau banyak berorientasi vertikal, ke arah tokoh, pembesar, atasan atau senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni dan rasa bertanggungjawab sendiri.
Salah satu karakter budaya bangsa kita adalah feodalisme. Feodalisme ini, salah satunya, mengejawantah pada nilai yang terlampau banyak berorientasi vertikal, ke arah tokoh, pembesar, atasan atau senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni dan rasa bertanggungjawab sendiri.
Rendahnya kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri berasal dari sifat tak percaya kepada diri sendiri. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Koentjaraningrat, menunjukkan bahwa sifat tak percaya kepada diri sendiri ini memburuk terutama di antara penduduk perkotaan di Indonesia, yakni pada golongan pegawai. Sifat ini tampaknya dapat dikembalikan kepada nilai budaya dalam mentalitas para pegawai dan priyayi, yang terlampau banyak berorientas vertikal terhadap tokoh-tokoh atasan dan senior.
Budaya feodalisme telah menjadikan bangsa kita, setidaknya, terbagi pada dua strata; strata bangsawan atau priyayi di satu sisi, dan strata rakyat jelata di sisi lain. Golongan bangsawan dianggap sebagai patron bagi rakyat jelata. Segala sesuatu harus mengacu kepada kelompok bangsawan. Karena menganggap golongan lain sebagai patron, maka kedudukan kelompok rakyat jelata menjadi tersubordinasikan. Mereka memposisikan diri berada di bawah kelompok lain. Berdasarkan kaidah yang berlaku, kelompok yang di bawah harus menurut titah; harus meniru kebiasaan-kebiasaan; dan bangga menjadi abdi kelompok atas. Dan kelompok bawah ini tidak boleh punya kemauan sendiri. Segala macam kemauan diserahkan pada kemauan kelompok atas. Inilah yang menyebabkan sebagian besar bangsa kita tidak punya kemauan berusaha atas kemampuan sendiri.
Budaya feodalisme telah menjadikan bangsa kita, setidaknya, terbagi pada dua strata; strata bangsawan atau priyayi di satu sisi, dan strata rakyat jelata di sisi lain. Golongan bangsawan dianggap sebagai patron bagi rakyat jelata. Segala sesuatu harus mengacu kepada kelompok bangsawan. Karena menganggap golongan lain sebagai patron, maka kedudukan kelompok rakyat jelata menjadi tersubordinasikan. Mereka memposisikan diri berada di bawah kelompok lain. Berdasarkan kaidah yang berlaku, kelompok yang di bawah harus menurut titah; harus meniru kebiasaan-kebiasaan; dan bangga menjadi abdi kelompok atas. Dan kelompok bawah ini tidak boleh punya kemauan sendiri. Segala macam kemauan diserahkan pada kemauan kelompok atas. Inilah yang menyebabkan sebagian besar bangsa kita tidak punya kemauan berusaha atas kemampuan sendiri.
Sifat tak berdisipilin, kalau dirunut ternyata, juga terdapat dalam mentalitas pegawai yang terlampau berorientasi vertikal. Banyak orang Indonesia, sampai saat ini, berpenampilan disiplin hanya ketika diawasi dari atas. Ketika pengawasan surut, hilanglah dorongan hati untuk mentaati berbagai peraturan. Sifat ini juga muncul dalam bentuk ketidaktekunan dan kesungguhan dalam bekerja atau berusaha. Saat diawasi, mereka kelihatan tekun dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Begitu pengawasan berkurang, berkurang pula ketekunan dan kesungguhan.
Kurang tanggungjawab ini, menurut Koentjaraningrat pula, bisa juga disebabkan oleh tradisi gotong royong. Siapa pun mengakui jika tradisi ini cukup baik dan perlu dilestarikan. Namun, ternyata, ia punya wajah lain yang justru kurang menguntungkan jika salah penempatan.
Tradisi gotong royong memberi rasa aman kepada pendukungnya. Jika salah satu anggota tertimpa bencana atau kesulitan, maka yang lain akan ramai-ramai membantu. Dalam masyarakat demikian, orang jarang merasa bertanggungjawab secara pribadi dalam menghadapi aneka macam kesulitan. Perasaan semacam ini ternyata dapat menghambat munculnya tanggung jawab pribadi.
Tradisi gotong royong memberi rasa aman kepada pendukungnya. Jika salah satu anggota tertimpa bencana atau kesulitan, maka yang lain akan ramai-ramai membantu. Dalam masyarakat demikian, orang jarang merasa bertanggungjawab secara pribadi dalam menghadapi aneka macam kesulitan. Perasaan semacam ini ternyata dapat menghambat munculnya tanggung jawab pribadi.
Selain yang berasal dari tradisi feodalisme, mentalitas bangsa kita yang menghambat pembangunan juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pasca kemerdekaan. Kondisi ini melahirkan mental suka mengabaikan kualitas dan ambil jalan pintas.
Kepekaan kita terhadap mutu suatu barang, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sudah hampir hilang. Para ahli menduga bahwa mentalitas yang sering mengabaikan mutu ini adalah kosekuensi kemiskinan yang menghebat yang kita alami setelah kemerdekaan. Kemiskinan membuat kita tak sempat memikirkan kualitas, yang penting tersedia barang dan bisa dimanfaatkan. Kita juga sudah cukup puas jika suatu pekerjaan telah diselesaikan, apapun mutunya tak jadi soal. Yang penting selesai dan segera bisa dimanfaatkan.
Kepekaan kita terhadap mutu suatu barang, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen sudah hampir hilang. Para ahli menduga bahwa mentalitas yang sering mengabaikan mutu ini adalah kosekuensi kemiskinan yang menghebat yang kita alami setelah kemerdekaan. Kemiskinan membuat kita tak sempat memikirkan kualitas, yang penting tersedia barang dan bisa dimanfaatkan. Kita juga sudah cukup puas jika suatu pekerjaan telah diselesaikan, apapun mutunya tak jadi soal. Yang penting selesai dan segera bisa dimanfaatkan.
Sebagai contoh dari kebiasaan mengabaikan mutu adalah kebijakan yang diambil oleh dunia pendidikan kita. Ketika jumlah penduduk mengalami peningkatan luar biasa, dan sarana pendidikan tidak mampu mengimbanginya, maka pemerintah mengambil kebijakan bahwa murid-murid harus segera diluluskan supaya tempatnya segera bisa diganti calon murid lain yang sedang antri. Apapun mutunya tak jadi soal, yang penting sebagian besar penduduk muda usia pernah mengenyam pendidikan.
Adapun mental suka mengambil jalan pintas adalah mentalitas yang bernafsu segera mencapai tujuan tanpa kerja keras, setahap demi setahap. Dalam masyarakat kita saat ini, tampak banyak usahawan baru yang mau mencapai dan memamerkan taraf hidup yang gemerlap dan penuh kemewahan dengan cepat, melalui cara yang tidak wajar, atau dengan mengambil keuntungan sebesar-besar ‘mumpung’ ada kesempatan tanpa menghiraukan jangka panjangnya.
Seorang karyawan atau pegawai, terutama pegawai negeri, yang ingin segera mencapai fasilitas-fasilitas pangkat atau tingkatan tinggi dalam waktu sesingkat mungkin tanpa mau berjuang, tak segan-segan untuk menyuap. Dengan suap ini, tanpa bertele-tele bisa naik pangkat. Di sini, wawasan keilmuan, kerja keras, prestasi, maupun ketrampilan hanya dipandang sebelah mata. Yang penting ada uang pelicin, kedudukan pasti didapat.
Seorang yang belum kerja pun, untuk mendapatkan pekerjaan, terutama untuk menjadi pegawai negeri dan tentara, mereka tak segan-segan menyuap supaya lolos dalam seleksi masuk, tanpa peduli berapapun tarifnya. Mereka ini tak mau tahu bahwa tujuan diadakan test seleksi adalah untuk menyaring agar diperoleh pegawai-pegawai yang kapabel dengan bidang yang akan dimasuki. Mereka tak mau berjuang mencari ilmu untuk meningkatkan kapabilitasnya. Mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk menyuap.
Fenomena suka ambil jalan pintas ini mulai muncul ketika penjajah meninggalkan negeri ini. Pada saat itu, banyak lowongan-lowongan pekerjaan yang ditinggalkan penjajah. Sedangkan lowongan tersebut harus segera diisi supaya kehidupan bernegara bisa segera berjalan, meski mereka kurang kapabel.
Seorang yang belum kerja pun, untuk mendapatkan pekerjaan, terutama untuk menjadi pegawai negeri dan tentara, mereka tak segan-segan menyuap supaya lolos dalam seleksi masuk, tanpa peduli berapapun tarifnya. Mereka ini tak mau tahu bahwa tujuan diadakan test seleksi adalah untuk menyaring agar diperoleh pegawai-pegawai yang kapabel dengan bidang yang akan dimasuki. Mereka tak mau berjuang mencari ilmu untuk meningkatkan kapabilitasnya. Mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk menyuap.
Fenomena suka ambil jalan pintas ini mulai muncul ketika penjajah meninggalkan negeri ini. Pada saat itu, banyak lowongan-lowongan pekerjaan yang ditinggalkan penjajah. Sedangkan lowongan tersebut harus segera diisi supaya kehidupan bernegara bisa segera berjalan, meski mereka kurang kapabel.
Memang, di tempat-tempat lain, mental ingin mencapai jalan pintas itu juga ada. Bedanya, di negeri kita hal itu tampil sangat ‘telanjang’, terutama pada masa orde baru dan era reformasi ini. Sedangkan di sebagian negera-negara lain, perilaku ingin jalan pintas ini tidak begitu menonjol, karena ‘nafsu’ itu dikendalikan dan dikekang.
Menurut Koentjaraningrat, dorongan tersebut bisa dikendalikan, karena dalam pandangan umum pada masyarakat lain tadi masih ada kesadaran akan guna dari garis panjang kemajuan hidup. Bisa dikekang karena di sana ada norma-norma yang memaksa orang menuruti garis panjang kemajuan hidup itu secara demi selangkah.
Jika kita amati sifat-sifat di atas, jelas bahwa mentalitas-mentalitas tersebut sangat bertentangan dengan karakter yang harus dimiliki seorang wiraswastawan. Selanjutnya, menurut uraian di atas, suatu bangsa yang kekurangan manusia bermental wiraswasta akan mengalami kemacetan pertumbuhan ekonomi dan keterbelakangan. Bukankah seperti keadaan bangsa kita saat ini ?
(Tugas dari Campus by : Heru Cahyono)
Pengertian Bisnis
Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan 1 orang atau lebih individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan/laba.
Bisnis merupakan sebuah usaha, dimana setiap pengusaha harus siap untung & siap rugi. Bisnis tidak hanya tergantung dengan modal uang. reputasi, keahlian, ilmu, sahabat & kerabat dapat menjadi modal bisnis.
Sistem Informasi Bisnis ialah Bisnis → berasal dari kata business → busy → sibuk yang artinya sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan, suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya” (ilmu ekonomi), Konteks : individu, komunitas ataupun masyarakat.
Pengertian dan Fungsi Bisnis
Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang & jasa dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (bussinessis then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society) [Huat, T Chwee,1990].
Bisnis merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan [Griffin & Ebert].
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa (create of good and service) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi.
Aspek-aspek Bisnis :
a) Kegiatan individu dan kelompok;
b) Penciptaan nilai;
c) Penciptaan barang dan jasa; dan
d) Keuntungan melalui transaksi.
Fungsi bisnis dilihat dari kepentingan mikroekonomi dan makroekonomi :
1. Fungsi Mikro Bisnis, Kontribusi terhadap pihak yang berperan langsung.
Pekerja / Karyawan : pekerja menginginkan gaji yang layak dari hasil kerjanya sementara manajer menginginkan kinerja yang tinggi yang ditunjukkan besarnya omzet penjualan dan laba.
Dewan Komisaris : memantau kegiatan dan mengawasi manajemen, memastikan kegiatan akan berjalan tercapainya tujuan.
Pemegang Saham : pemegang saham memiliki kepentingan dan tanggung jawab tertentu terhadap perusahaan.
2. Fungsi Makro Bisnis, Kontribusi terhadap pihak yang terlibat secara tidak langsung.
Masyarakat sekitar perusahaan : memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan.
Bangsa dan Negara : tanggungjawab kepada Bangsa dan Negara yang diwujudkan dalam bentuk kewajiban membayar pajak.
Elemen dan Sistem Bisnis
Dalam suatu bisnis membutuhkan suatu sistem yaitu : Modal (capital) sejumlah uang yang digunakan dalam menjalankan kegiatan bisnis; Bahan-bahan (materials) yang merupakan faktor produksi yang diperlukan dalam melaksanakan aktifitas bisnis untuk diolah menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat; Ketrampilan Manajemen (Management Skill) sistem manajemen yang dijalankan berdasarkan prosedur dan tata kerja manajemen; dan Sumber Daya Manusia (SDM).
Kualifikasi SDM :
· Memiliki kemampuan kompetitif dan berkualitas tinggi.
Jenis Kegiatan Bisnis
1. Karakteristi Sistem Bisnis, Kompleksitas & keanekaragaman; Saling ketergantungan; Perubahan dan inovasi.
Bentuk dasar kepemilikan bisnis, Perusahaan perseorangan, Comanditaire Vennootschap (CV), Persekutuan, Perseroan, dan Koperasi.
Alih Kode yang Terjadi pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping
Awal dapet tugas nyari info tentang alih kode, buat referensi Skripsi saya simpan di my blog sari pada nanti hilang, buat jaga2 dech.....sumber tulisan ini dari diknas online. semoga bermanfaat.
Budi Santoso (Mahasiswa FKIP UNISMA Malang)
Abstrak: kajian sosioliguistik ikhwal pekodean ternyata masih langka. Penulisan artikel ini berfokus pada salah satu aspek dari masalah perkodean yakni “Alih Kode yang Terjadi Pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping”. Kajian ini meliputi: (1) bagaimanakah wujud kode dalam wacana jual beli peralatan camping, (2) bagaimanakah alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping dan (3) apa yang menjadi penyebab alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping. Adapun tujuan khusus analisis ini untuk memperoleh diskripsi objektif tentang: (1) kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop, (2) kecenderungan alih kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop dan (3) unsur penentu alih kode yang terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop. Instrumen yang dipakai sebagai sumber data yaitu penutur penjual dan pembeli dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop. Hal ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif.
Kata Kunci: bilingual, alih kode
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kajian sosiolinguistik ihwal perkodean ternyata masih langka (Rahardi, 2001:1). Kelangkaan kajian yang demikian mendorong penulis untuk berkecimplung di dalam bidang linguistik, khususnya sosiolinguistik untuk memberikan tanggapan nyata lewat analisis kajian. Analis kajian ini dapat dianggap upaya menanggapi kelangkaan kajian tentang perkodean tersebut.
Tidak dipungkiri bahwa hal perkodean adalah masalah yang penting untuk diteliti dalam linguistik. Hal demikian disebabkan oleh kenyataan bahwa ihwal kode itu sulit dan rumit untuk dicermati. Dikatakan rumit karena ihwal kode itu berkaitan erat dengan konteks situasi, yakni suasana yang mewadahi kode itu sendiri. Suasana yang simaksud mencakup dua hal yaitu seting sosial dan seting kultural (Rahardi, 2001:2).
Dengan perkataan lain apabila orang sudah menjadi individu yang bilingual tentu kode-kode yang dimilikinya akan menjadi semakin rumit. Namun, pasti semakin menarik pula untuk digambarkan dan dijelaskan. Berangkat dari gambaran kenyataan itu dapat ditegaskan bahwa ihwal kode itu perlu segara diteliti, dikaji dan diperikan secara mendalam.
Kajian perkodean sebanarnya dapat meliputi berbagai hal, seperti campur kode, interferensi dan integrasi, alih kode dan sebagainya (Suwito, 1983:67-81). Analisis kalian ini berfokus pada salah satu aspek dari beberapa masalah perkodean yang disebutkan di atas, yakni alih kode yang terjadi pada masyarakat bilingual di wilayah kota Malang. Adapun aspek alih kode adalah yang terjadi dalam wacana jual beli peratan camping.
Orang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan) sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut kedwibahasawan). Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga istilah multilingualisme (dalam bahasa Indonesia disebut juga keanekabahasawan) yaitu keadaan digunakannya lebih dari dua bahasa oleh seeorang dalam pergaualannya dengan orang lain secara bergantian dalam penulisan ini tentang multilingualisme tidak akan dibicarakan secara khusus sebab modelnya sama dengan bilingualisme.
Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur lain, entah karena letaknya yang jauh terpencil atau karena sengaja tidak mau berhubungan dengan masyarakat tutur lain maka masyarakat tutur itu akan menjadi masyarakat atutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat tutur yang monolingual (Chaer dan Leonie, 1995:111). Sebaliknya, masyarakat tutur yang terbuka artinya yang mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu apa yang mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya. Peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu adalah apa yang ada di dalam sosiolinguistik disebut bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi dan pergeseran bahasa. Dalam penulisan ini hanya akan membahas tentang bilingualisme, alih kode dan campur kode yang merupakan kerangka teori dari penelitian yang berjudul “Alih Kode yang Terjadi pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping”.
Soewito membedakan adanya dua macam alih kode yaitu alih kode intern dan alih kode ekstrn, yang dimaksud alih kode intrn adalah alih kode yang berlangsung antarbahasa sendiri seperti dari bahasa Indonesia (BI) ke bahasa Jawa (BJ) atau sebaliknya. Sedangkan alih kode ekstern terjadi antara bahasa sendiri dengan bahasa asing (BA).
Rumusan Masalah
Wilayah kota Malang dapat dikatakan sebagai pusat berbagai kegiatan ekonomi, sosial, pendidikan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Keadaan yang demikian sudah barang tentu akan membuat masyarakat Malang bersifat majemuk. Kemajemukan itu semakin dipacu dan ditopang oleh kenyataan selalu bertemu dan berinteraksinya warga masyarakat itu dengan warga dari masyarakat lain dalam wahana kegiatan.
Dalam bidang bahasa, kenyataan itu membawa akibat semakin bervareasinya kode-kode yang dimiliki dan dikuasai oleh angggota masyarakat itu. Masalah dalam kajian ini pada intinya hanyalah difokuskan pada satu macam gejala bahasa saja yakni alih kode yang meliputi: (1) bagaimanakah kode yang dipakai oleh masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang dalam peristiwa jual beli peralatan camping, (2) bagaimanakah kecenderungan pola alih kode yang terjadi pada wacana jual beli peralatan camping dalam masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shhop Malang dan (3) apakah faktor-faktor penentu terjadinya alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping dalam masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang.
Tujuan Penulisan
Penulisan ini berusaha untuk mendapatkan gambaran mengenai: (1) kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping oleh masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang (2) pola kecenderungan campur kode dan alih kode yanga terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping pada masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang dan (3) unsur penentu alih kode yang terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping pada masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang.
PEMBAHASAN
Pemilihan Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping
Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilahnya secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dan bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolingustik secara umum bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishan 1975:73). Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2).
Bloomfield dalam bukunya yang terkenal Language (1933:56) mengatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya. Jadi, menurut Bloomfield ini seseorang disebut bilingual apabila dapat menggunakan B1 dan B2 dengan derajat yang sama baiknya. Namun, Menurut Hugen selanjutnya seorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakan kedua bahasa itu tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja. Haugen juga mengatakan mempelajari bahasa kedua, apalagi bahasa asing, tidak akan sendirinya akan memberi pengaruh terhadap bahasa aslinya. Lagi pula seorang yang mempelajari BA maka kemampuan BA-nya atau B2-nya akan selalu berada pada posisi di bawah penutur asli bahasa.
Kode BI
BI sebagai bahasa nasional ternyata dapat digunakan hampir dalam segala bidang kegiatan di negara ini. Dalam peristiwa jual beli peralatan camping pun BI cukup dominan digunakan. Pada masyrakat tutur diwilayah kota Malang, penggunaan BI dalam dalam peristiwa jual beli itu kebanyakan digunakan apabila peserta tutur tidak bersuku Jawa. Dapat pula terjadi bahwa hanya salah satu dari peserta itu sajalah yang bukan berasal dari suku Jawa. Sepertinya dari pada mereka kesulitan menggunakan BJ, maka mereka cenderung menggunakan BI.
Cuplikan percakapan berikut dapat diguanakan sebagai contoh adanya penggunaan kode yang berwujud BI dalam peristiwa jual beli peralatan camping
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual | : : : : : : : : : : | Tas ini kena berapa mas? Dua ratus dua puluh ribu, itu ada tempat laptope juga lo mas Mau liat yang ini O… yang itu. Yang itu sama dengan yang ini. Ada diskone ya mas? Sepuluh persen untuk semua merk tas Ya udah yang ini aja. Jadi kena berapa? Seratus delapan puluh lima diskon sepuluh persen jadinya seratus enam puluh enam ribu, ya udah seratus enam puluh enam lima saja. Ini mas uangnya (memberikan kembaliannya) kembali taga puluh lima ribu. Trim ya |
Dari cuplikan di atas dapat dilihat bahwa BI yang digunakan dalam translaksi jual beli peralatan camping itu biasanya bersifat tidak formal. Ketidakformalan itu misalnya dapat diidentifikasi dari banyak digunakan model tuturan ringkas (restricted codes) yang ditandai oleh banyakanya penanggalan-penanggalan dari bagian tuturan tertentu.
Di samping banyak digunakan tutur ringkas ternyata juga ditemukan banyak bagian-bagian dari tuturan yang dipengaruhi oleh bahasa daerah tertentu. Tuturan yang berbunyi laptope dan diskone tampak sekali mendapatkan pengaruh dari BJ, yakni –e menyertai kata sehingga menjadi laptope dan diskone.
Pengaruh bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia juga dapat ditemukan dengan munculnya kata liat, udah maupun aja dan sebagainya. Contoh-contoh yang terakhir ini sepertinya merupakan pengaruh dari dialek Jakarta. Munculnya pengaruh dialek Jakarta dalam jual beli peralatan camping ini cukup wajar karena memang wibawa wilayah Jakarta sebagai pusat segala kegiatan cukup dapat dirasakan hampir seluruh warga masyarakat Indonesia. Akibatnya dalam wacana jual beli peralatan camping di ruko Adventure Shop pengaruh ini pun dapat ditemukan.
Kode BJ
Dari sejumlah peristiwa tutur yang berhasil dijangkau dalam analisis ini, dapat dikatakan bahwa penggunaan kode dalam BJ sangat dominan. Hal demikian barangkali disebabkan oleh kenyataan bahwa wilayah kota Malang merupakan sebuah kota kebudayaan. Unggah ungguh dalam berbahasa antarwarga masyarakat itu selalu tercermin dalam komunikasi dan interaksi anggota masyarakat sehari-hari.
Dalam wacana jual beli peralatan camping unggah-ungguh dalam berbahasa ini pun juga tampak terlihat. Hal demikian misalnya, dengan sering digunakannya kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan derajat calon pembeli yang dilakukan oleh penjual, misalnya mas. Kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan derajat calon pembeli itu biasanya dimunculkan untuk mengawali peristiwa tawar menawar. Kata-kata sapaan itu untuk membuka percakapan dan penggunaannya dirangkaikan dengan kata-kata yang maknanya mempersilahkan, misalnya mangga. Dengan demikian ekspresi yang digunakan untuk mengawali percakapan untuk jual beli peralatan camping itu biasanya adalah mangga mas.
Apabila percakapaan tawar menawar dalam jual beli itu diawali oleh calon pembeli, biasanya penggunaan kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan itu tidak tampak. Artinya bahwa dalam membuka percakapan, calon pembeli menggunakan kode bahasa yang sifatnya bisa dan wajar digunakan, seperti pira. Calon pembeli beranggapan bahwa status sosial dirinya lebih tinggi dari pada calon penjual.
Cuplikan percakapan tawar menawar berikut menunjukkan cukup dominannya penggunaan kode yang berwujud BJ itu dalam peristiwa tawar menawar jual beli peralatan camping.
Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual | : : : : : : : : : | Monggo mas Ono pembungkus tas mas? Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud Iyo, sing anti air Sing tas karier apa yang day pac? Tas ransel Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas? InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang) |
Kode BA
Wilayah kota Malang sebagai pusat kegiatan budaya yang erat pula dengan pariwisata, menyebabkan sering terjadinya orang-orang asing yang biasa mengunakan BA dalam berkomunikasi. Dalam jual beli peralatan camping, penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris ini juga sering muncul sekalipun sangat terbatas. Di samping digunakan oleh pembeli yang datang dari luar negeri, ternyata pembeli maupun penjual dalam negeri juga sering menggunakan wajud kode ini dalam komunikasi. Cuplikan berikut dapat memperjelas uraian tersebut.
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : : : : : : : : | Lihat-lihat mas Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket) Itu water frof lo mas Kedap air ya mas? Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air Bisa di coba mas? Bisa, coba aja gak pa pa Ukurane sama yo mas? Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama. Lek sing iki piro? Seratus dua puluh Lek sing Tambora iku? Seratus tiga puluh lima Lebih mahal yo Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas Yo wis sing iki ae |
Dari cuplikan itu dapat di lihat contoh kode yang berwujud BA, yakni bahasa Inggris. BA itu digunakan oleh penjual terhadap pembeli yang sudah saling mengetahui maksudnya. Biasanya, bahasa Inggris itu digunakan dengan tidak lengkap banyak penggalan-penggalan dan sering di campurkan dengan BI. Dalam tuturan itu misalnya itu watter frof lo mas dan ya ngak, beda size ya lain, hargane ya ngak sama. Tuturan watter frof (artinya kedap air) dan size (artinya ukuran) merupakan contoh penggunaan BA, dalam hal ini bahasa Inggris yang di campurkan dalam BI.
Pemerian Alih Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping
Appel (1976:79) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Ampel yang mengatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, maka Hymes (1975:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.
Alih kode yang berwujud alih bahasa cukup banyak ditemukan dalam wacana jual beli peralatan camping. Alih kode yang berupa alih bahasa itu mencakup peralihan dari BI ke dalam BJ, BJ ke dalam BI dan BI ke dalam BA dalam hal ini bahasa Inggris. Berikut uraian dari masing-masing wujud alih kode itu satu demi satu.
Alih Kode dari BI ke dalam BJ
Alih kode yang berupa alih bahasa dari BI ke dalam BJ ditemukan degan cukup sering dalam wacana jual beli peralatan camping. Alih kode yang dimaksud sering dilakukan oleh penjual dan sering pula dilakukan oleh pembeli. Berikut cuplikan-cuplikan percakapan yang mengandung alih kode itu selengkapnya.
Cuplikan 1
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : : : : : : : | lihat-lihat mas Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket) Itu water frof lo mas Kedap air ya mas? Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air Bisa di coba mas? Bisa, coba aja gak pa pa Ukurane sama yo mas? Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama. Lek sing iki piro? Seratus dua puluh Lek sing Tambora iku? Seratus tiga puluh lima Lebih mahal yo Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas Yo wis sing iki ae |
Dalam cuplikan itu dapat dilihat adanya alih kode yang dilakukan oleh pembeli. Semula ia mengguankan kode dalam BI dalam bertutur dengan penjual. Namun, akhirnya ia berusaha berubah menggunakan BJ dalam tingkat ngoko, yakni yang berbunyi lek sing iki piro? Yang maknanya adalah kalau yang ini berapa? Dengan demikian dapatlah dikatakan alih kode dalam cuplikan percakapaan itu adalah dari BI ke dalam BJ.
Cuplikan 2
Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual | : : : : : : : | Mari mas Mas ada tas selempang? Itu sebelah kiri Gak ada pilihan lain? Lagi kosong mas (pembeli lihat-lihat barang dagangan lain) Monggo mas (sambil pergi) yabs |
Dari cuplikan percakapan itu dapatlah dilihat bahwa alih kode yang terjadi adalah dari BI ke dalam BJ. Alih kode itu dilakukan oleh pembeli di tengah-tengah proses bertutur dengan penjual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa arah alih kode yang ada adalah dari BI ke dalam bj, yakni mangga mas yang maknanya mari mas.
Alih Kode dari BJ ke dalam BI
Alih kode yang berupa paralihan dari BJ ke dalam BI cukup banyak ditemukan dalam wacana jula beli peralatan camping di Ruko adventure Shop kota Malang. Dikatakan demikian karena kedua bahasa ini dikuasai dengan cukup baik oleh masyarakat tutur tersebut. Hal ini tampak pada cuplikan berikut.
Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 2 Penjual Pembeli 1 penjual | : : : : : : : : : : : : : | Monggo mas Ono pembungkus tas mas? Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud Iyo, sing anti air Sing tas karier apa yang day pac? Tas ransel Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas? InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang) Ada rainkot mas? Itu di pojok sebelah kiri Suwun mas, liat-liat sik Monggo… |
Dari cuplikan percakapan itu dapat dilihat bahwa alih kode yang ada dalah dari BJ ke dalam BI yang dilakukan oleh penjual. Dari sejak awal tutur penjual maupun pembeli menggunakan tingkat tutur Jawa ngoko. Namun, setelah datangnya pembeli kedua, penjual menggunakan bahasa Indonesia yakni mari mas dan itu di pojok sebelah kiri. Alih kode ini dilakukan karena penjual beranggapan bahwa pembeli kedua belum tentu menguasai BJ dan untuk menghargainnya. Dengan demikian alih kode dalam cuplikan percakapan itu yakni dari BJ ke dalam BI.
Alih Kode dari BI ke dalam BA
Alih kode yang melibatkan BA ternyata juga dapat ditemukan dalam wacana jual beli sandang pada masnyarakat tutur bilingual di wilayah kota Malang. Bahasa asing yang cukup sering muncul dalam wacana ini adalah bahasa Inggris. Hal demikian disebabkan karena kenyataan bahasa Inggris memang cukup dikuasai dengan baik oleh warga masyarakat tutur ini. Kontak dengan para pendatang yang berkewarganegaraan asing dan hasil dari pendidikan memicu dikuasainya bahasa asing pada anggota masyarakat tutur ini. Berikut contoh alih kode yang berwujud alih bahasa dari BI ke dalam BA.
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : : : : : : : : : | Lihat-lihat mas Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket) Itu water frof lo mas Kedap air ya mas? Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air Bisa di coba mas? Bisa, coba aja gak pa pa Ukurane sama yo mas? Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama. Lek sing iki piro? Seratus dua puluh Lek sing Tambora iku? Seratus tiga puluh lima Lebih mahal yo Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas Yo wis sing iki ae |
Dari cuplikan itu dapat di lihat contoh alih kode dari BI ke dalam BA. BA itu digunakan oleh penjual terhadap pembeli yang sudah saling mengetahui maksudnya. Biasanya, bahasa Inggris itu digunakan dengan tidak lengkap banyak penggalan-penggalan dan sering di campurkan dengan BI. Dalam tuturan itu misalnya itu watter frof lo mas dan ya ngak, beda size ya lain, hargane ya ngak sama. Tuturan watter frof (artinya kedap air) dan size (artinya ukuran) merupakan contoh penggunaan BA, dalam hal ini terjadi alih kode dan campur kode dari BI ke dalam BA.
Sebab-sebab Alih Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping
Kalau kita telusuri penyebab terjadinya alih kode itu, maka harus kita kembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemukaan Fishman (1976:15) yaitu siapa yang berbicara degan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa. Dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum penyebab alih kode itu disebutkan antara lain: (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya dan (5) perobahan topik pembicaraan.
Seorang pembicara atau penutur seringkali meakukan alih kode untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat dari tindakkannya itu. Selanjutnya lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan tejadinya alih kode misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur itu. Dalam hal ini biasanya kemampuan barbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bahasa pertamanya. Kalau si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur, maka alih kode yang terjadi hanya berupa peralihan varian, ragam, gaya atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan si poenutur maka yang terjadi alih bahasa.
Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atau varian yang harus digunakan. Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode.
Di samping lima hal di atas yang secara umum lazim dikemukakan sebagai faktor terjadinya alih kode, sesungguhnya masih banyak faktor atau variabel lain yang dapat memyebabkan terjadinya peristiwa alih kode. Penyebab-penyebab ini ini biasanya sangat berkaitan dengan verbal repertoire yang tedapat dalam suatu masyarakat tutur serta bagaimana status sosial yang dikenakan oleh para pentur terhadap bahasa-bahasa atau ragam-ragam bahasa yang terdapat dalam masyarajat tutur itu.
Dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang ini, penulis temukan dua penyebab terjadinya alih kode. Penyebab ini yakni penutur memiliki latar belakang pengusaan bahasa yang sama dan perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, yang akan penulis paparkan dalam urain dibawah ini.
Penutur Memiliki Latar Belakang Pengusaan Bahasa yang Sama
Dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang sering penutur melakukan campur kode dan alih kode dalama bertutur hal ini terjadi karena penutur (penjual maupun pembeli) memiliki latar belakang penguasaan bahasa yang sama. Seperti pada cuplikan berikut:
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : : : : : : : : | Lihat-lihat mas Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket) Itu water frof lo mas Kedap air ya mas? Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air Bisa di coba mas? Bisa, coba aja gak pa pa Ukurane sama yo mas? Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama. Lek sing iki piro? Seratus dua puluh Lek sing Tambora iku? Seratus tiga puluh lima Lebih mahal yo Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas Yo wis sing iki ae |
Dari peristiwa tutur itu dapat dilihat bahwa penjual dan pembeli sama-sama menggunakan BI. Namun, sesekali pembeli menyisipkan kode bahasa Jawa, misalnya lek sing iki piro? (kalau ini berapa?). Dan penjul memahami kode itu serta bisa menanggapi dengan BJ pula. Dengan demikian dapat sebagai bukti bahwa dengan latar belakang penguasaan bahasa yang sama dapat menjadi penyebab alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping.
Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga
Pada saat terjadi percakapan tawar menawar barang antara penjual dan pembeli sering kali datang pula calon pembeli yang lain. Kedatangan calon pembeli itu sudah barang tentu harus ditanggapi oleh si penjual dengan menggunakan kode yang biasanya digunakan untuk mengawali percakapan tawar menawar barang. Biasanya kode itu menggunakan BI karena bahasa Indonesia bisa dipahami penutur pada umumnya. Dengan demikian si penjual secara tidak langsung melakukan alih kode yang barangkali pada awalnya menggunakan BJ. Berikut dapat digunakan sebagai contoh.
Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 2 Penjual Pembeli 1 penjual | : : : : : : : : : : : : : | Monggo mas Ono pembungkus tas mas? Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud Iyo, sing anti air Sing tas karier apa yang day pac? Tas ransel Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas? InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang) Ada rainkot mas? Itu di pojok sebelah kiri Suwun mas, liat-liat sik Monggo… |
Dari peristiwa itu tutur dapat dilihat bahwa kehadiran orang ketiga atau orang lain yang barangkali tidak berlatar belakang bahasa yang sama (dimaksud disini BJ) dengan bahasa yang sedang digunakan penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Sehingga perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga dapat menjadi penyebab campur kode dan alih kode dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang.
Dari pembicaraan tentang “Alih KOde yang Terjadi dalam Wacana JUal Beli Peralatan Camping” di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian bilingualisme akhirnya merupakan satu rentangan berjenjang mulai menguasa B1 (tentunya dengan baik karena bahasa ibunya sendiri) ditambah tahu sedikit akan B2, dilanjutan dengan penguasaan B2 yang berjenjang meningkat, sampai menguasai B2 itu sama baiknya dengan penguasaan B1. Kalau bilingualisme sudah sampai tahap ini berarti seorang penutur yang bilingual itu akan dapat menggunakan B1 dan B2 sama baiknya untuk fungsi dan situasi apa saja dan dimana saja. Namun, seperti sudah disebutkan di atas penutur bilingual yang seperti ini jarang ada yang ada dan biasa adalah para penutur bilingual yang sama-sama baik dalam dua bahasa, tetapi umumnya dalam ranah kebahasan yang berbeda.
PENUTUP
Bagian ini merupakan bagian penutup dari tulisan ini. Pada bagian ini akan disampaikan kesimpulan dan beberapa imlikasi kajian yang perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut di masa mendatang, khususnya untuk kajian berikutnnya. Berikut kesimpulan dan implikasi-implikasi kajian selengkapnya.
Simpulan
Sejalan dengan rumuan masalah dan tujuan penulisan yang diampaikan di bagian pendahuluan, maka sebagai kesimpulan dapatlah disampaiakan hal-hal berikut:
1) kode yang digunakan oleh masyarakat tutur bilingual di kota Malang dalam jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop adalah: (1) bahasa yang mencakup BJ dan bahasa non Jawa. Bahasa non Jawa di sini meliputi BI dan BA. BA yang paling sering ditemukan adalah bahasa Inggris, (2) tingkat tutur, yang meliputi tutur ngoko. Kode yang berwujud tingkat tutur ini tampak dengan sangat jelas khususnya jika bahasa yang dipakai adalah BJ.
2) kode-kode yang digunakan dalam wacana jual beli peralatan camping di kota Malang ruko Adventur Shop dapat beralih dari kode yang satu ke kode yang lain. Misalnya dari BI ke dalam BJ atau sebaliknya, BI ke dadam Inggris atau sebaliknya. Peralihan itu ternyata tidak terjadi dengan tanpa arah melainkan dengan arah yang cukup jelas.
3) alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping pada masyarakat tutur bilingual di kota Malang ruko Adventure Shop dilakukan dengan alasan-alasan yang sudah jelas dan juga tertentu. Dari kajian ini dapat diketahui bahwa alasan-alasan yang dimaksud meliputi (1) penutur memiliki latar belakang penguasaan bahasa yang sama, (2) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga.
Implikasi Kajian
Tidak disangkal bahwa kajian ini masih jauh bahkan teramat jauh dari sempurna. Ruang lingkup pembicaraan yang semula segaja digunakan untuk membatasi kajian ini bukan tidak mungkin justru mengkerdilkan jangkauan pembahasan. Wacana jual beli peralatan camping hanyalah merupakan sebagian yang teramat kecil dari wacana transaksional yang sebenarnya semula akan diangkat sebagai objek dalam kajian sosiolinguistik ini. Dengan perkatan lain sebenarnya kajian ini hanya bagian yang teramat kecil dari bagian yang sebenarnya bisa dilakukan lebih luas itu. Rekan rekan mahasiswa hkususnnya yang tertarik dengan bidang ilmu sosiolinguistik tentu ditantang menindaklanjuti kajian ini.
DAFTAR RUJUKAN
Appel, Rene,et all. 1976. Sosiolingustiek. Utrecht-Antwerpen: Het Spectrum.
Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Hold, Rinehard and Winston.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fishman, JA. (Ed.). 1976. “The Relationshrip Between Micro and Macro Sosiolinguisc in The Study Who Speaks What Language To Whom and When”. dalam Pride dan Holmes (Ed.) 1976:15-32.
Hymes. 1974. Foundation Of Sosiolinguistics. Philadelphia: University Of Pensylvania Prees.
Mackey, W.P. 1970. “The Description Of Bilingualism” dalam J.A. Fishman (Ed.) 1970.
Rahardi, Kunjana. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Suwito. 1983. Awal Pengantar Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta: Heary Offset.
LAMPIRAN
PERISTIWA TUTUR I
Pelaksanaan Lokasi Topik | : : : | Kamis, 11 Desember 2008 Ruko Adventure Shop Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang Tawar menawar jaket |
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : : : : : : : : | Lihat-lihat mas Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket) Itu water frof lo mas Kedap air ya mas? Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air Bisa di coba mas? Bisa, coba aja gak pa pa Ukurane sama yo mas? Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama. Lek sing iki piro? Seratus dua puluh Lek sing Tambora iku? Seratus tiga puluh lima Lebih mahal yo Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas Yo wis sing iki ae |
PERISTIWA TUTUR II
Pelaksanaan Lokasi Topik | : : : | Kamis, 11 Desember 2008 Ruko Adventure Shop Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang Tawar menawar tas |
Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual | : : : : : : : | Mari mas Mas ada tas selempang? Itu sebelah kiri Gak ada pilihan lain? Lagi kosong mas (pembeli lihat-lihat barang dagangan lain) Monggo mas (sambil pergi) yabs |
PERISTIWA TUTUR III
Pelaksanaan Lokasi Topik | : : : | Minggu, 21 Desember 2008 Ruko Adventure Shop Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang Tawar menawar tas |
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual | : : : : : : : : : : | Tas ini kena berapa mas? Dua ratus dua puluh ribu, itu ada tempat laptope juga lo mas Mau liat yang ini O… yang itu. Yang itu sama dengan yang ini. Ada diskone ya mas? Sepuluh persen untuk semua merk tas Ya udah yang ini aja. Jadi kena berapa? Seratus delapan puluh lima diskon sepuluh persen jadinya seratus enam puluh enam ribu, ya udah seratus enam puluh enam lima saja. Ini mas uangnya (memberikan kembaliannya) kembali taga puluh lima ribu. Trim ya |
PERISTIWA TUTUR IV
Pelaksanaan Lokasi Topik | : : : | Minggu, 21 Desember 2008 Ruko Adventure Shop Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang Tawar menawar tempat HP |
Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli Penjual Pembeli | : : : : : : : | Boleh lihat ini mas? Oh tempat HP. Boleh mari, ini bisa untuk dua HP sekaligus mas. Kena berapa mas? Dua puluh lima ribu Boleh lihat yang sampingnya mas? Iya silahkan, cuman beda merk aja. Kalau ini merk eiger Ya udah yang ini saja |
PERISTIWA TUTUR V
Pelaksanaan Lokasi Topik | : : : | Minggu, 21 Desember 2008 Ruko Adventure Shop Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang Tawar menawar cover tas |
Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 1 Penjual Pembeli 2 Penjual Pembeli 1 penjual | : : : : : : : : : : : : : | Monggo mas Ono pembungkus tas mas? Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud Iyo, sing anti air Sing tas karier apa yang day pac? Tas ransel Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas? InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang) Ada rainkot mas? Itu di pojok sebelah kiri Suwun mas, liat-liat sik Monggo… |
Langganan:
Postingan (Atom)






