Tampilkan postingan dengan label Gagasan Gue Banget. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gagasan Gue Banget. Tampilkan semua postingan

Seruan Toleransi dan Pluralisme yang Menyesatkan !

Kalaulah menjalankan syariah Islam yang kaffah (menyeluruh) dianggap hak umat Islam Indonesia yang mayoritas , justru pemerintah yang didukung oleh elit minoritas liberal-sekuler telah menghambat hak utama umat Islam ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan perlunya toleransi keagamaan sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan tegas terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan minoritas. Dalam pesan kemerdekaannya, Presiden SBY menekankan perlunya toleransi keagamaan sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan tegas terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan minoritas.

Dalam pidato penting di depan parlemen pada malam menjelang Peringatan HUT Kemerdekaan RI, Presiden SBY menyerukan kepada rakyat Indonesia agar menghayati kehidupan harmonis sejati dalam masyarakat pluralistis.SBY menghendaki pembangunan kehidupan demokratis dan adil dan menekankan perlunya memelihara dan memperkuat persaudaraan, harmoni dan toleransi sebagai bangsa.(VOA ; Senin, 16 Agustus 2010)

Sehari sebelumnya, ribuan orang dari Jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Wahid Institut, dan elemen organisasi masyarakat lain berunjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Ahad (15/8). Mereka menagih janji pemerintah tentang kebebasan beragama.

Tampak sebuah gerakan yang sistematis belakangan ini yang membangun opini bahwa di Indonesia tidak ada kebebasan beragama, golongan Islam radikal menyerang golongan minoritas, gereja dibakar, gereja dirubuhkan . Opini kemudian disertai dengan pernyataan bahwa pluralism di Indonesia terancam, Pancasila terancam, dan berujung pada NKRI terancam. Siapa yang mengancam ? Kelompok-kelompok Islam radikal yang memperjuangkan syariah.

Jelas ada penyesatan politik luar biasa dibalik ini semua. Benarkah di Indonesia tidak ada kebebasan beragama ? Benarkah di Indonesia pembangunan gereja terhambat ? Kenyataannya tidaklah seperti itu. Menurut Kepala Badan Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar pertumbuhan tempat ibadah yang terjadi sejak 1977 hingga 2004 justru meningkat. Pertumbuhan rumah ibadah Kristen justru lebih besar dibandingkan dengan masjid. Rumah ibadah umat Islam, pada periode itu meningkat 64,22 persen, Kristen Protestan 131,38 persen, Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika: 18 Februari 2006)

Laporan Majalah Time juga berbicara lain, dalam tulisan yang berjudul Christianity’s Surge in Indonesia (http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1982223,00.html) majalah itu menunjukkan gelora peribadahan pemeluk kristen di Indonesia. “Banyak yang mengira Indonesia adalah sebuah negeri Muslim, tetapi lihatlah orang-orang ini ” kata pendeta David Nugroho. Dia membanggakan jemaat gerejanya yang berkembang , sekarang berjumlah 400 orang , naik dari 30 orang saat didirikan pada tahun 1967. “Kami tidak takut untuk menunjukkan iman kami .”,ujar Pendeta David

Dalam laporan yang ditulis Hannach Beech (26/04/2010) itu gelora pertumbuhan kristen di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ledakan penganut kristen di Asia. Jumlah umat Kristen Asia meledak menjadi 351 juta pengikut pada tahun 2005, naik dari 101 juta di tahun 1970 (merujuk kepada the Pew Forum on Religion and Public Life yang berbasis Washington, D.C. )

Masih menurut laporan TIME, sensus penduduk tahun 2000 jumlah penduduk kristen hanya 10% dari penduduk Indonesia. Sesuatu yang tidak dipercaya oleh pemimpin-pemimpin kristiani. Bukti sederhananya, di Tamenggung pada tahun 1960 tidak ada gereja Evangelical sama sekali. Namun sekarang terdapat lebih dari 40 gereja Evangelical.

Di ibukota Jakarta sekarang dibangun‘megachurches’ gereja megah yang baru, seperti layaknya Texas (yang dikenal banyak terdapat gereja) dengan menara yang menjulang tinggi ke langit .Penganut kristen lain ramai-ramai beribadah di gereja-gereja tidak resmi di hotel-hotel dan mall , bersaing dengan para pengunjung yang meningkat di akhir pekan. Patung Yesus Kristus tertinggi dibangun pada tahun 2007, di kota Manado di Indonesia timur. Sementara TV kabel Indonesia menyiarkan chanel yang mendakwahkan Kristen 24-jam terus menerus.

Petani Kentang

Seorang petani kentang ternyata tidak pernah pusing memilih kentang. Namun rupanya ia justru mendapatkan uang yang lebih banyak. Sahabat dekatnya terheran dan akhirnya bertanya kepadanya, 'Apa rahasia keberhasilanmu?'

Ia menjawabnya, 'Sederhana aja kok, saya langsung menaikkan kentang hasil panen itu semuanya saya masukkan ke dalam gerobak, kemudian mengangkutnya melalui jalan yang paling jelek menuju kota. Selama perjalanan delapan kilometer itu kentang-kentang berukuran kecil selalu berada dibawah sementara kentang-kentang yang berukuran besar naik ke atas.'

Ini bukan hanya berlaku pada kentang, melainkan berlaku juga pada 'Sunatullah kehidupan' Melalui jalan yang terjal berliku kentang-kentang yang besar yang akan naik ke atas. Dalam masa sulit. kita yang bertahan dan ulet akan naik ke atas. Masa sulit tidak akan pernah berakhir, hanya seorang Mukmin yang kuatlah yang sanggup mengatasi kesulitan hidup.

---
Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Bila mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila mendapatkan cobaan, ia bersabar dan sabar itu baik baginya. (HR. Muslim).

Makna Miskin

Di sebuah sekolah, seorang puteri bintang film terkenal diminta ibu guru mengarang cerita tentang sebuah keluarga miskin. Begini cerita yang ditulisnya. 'Pada zaman dahulu kala, ada sebuah keluarga miskin. Maminya miskin, papinya miskin, anak-anaknya miskin. Pembantunya miskin, sopirnya miskin. Tukang kebunnya miskin, satpamnya miskin. Babby sitter-nya miskin. Semuanya miskin.'

Terbayangkah oleh kita apabila orang miskin punya pembantu, sopir, tukang kebun, penjaga malam, baby sitter. Tentunya dia bukan orang miskin tapi begitulah anak-anak dengan logikanya sendiri.

Kalau kita menilai orang miskin dari berapa banyak jumlah kekayaan, kesimpulan tadi tentunya benar namun bila kita menilai berdasarkan hati bukan dari jumlah kekayaan kesimpulan tadi tidak benar.

Makna kemiskinan adalah ketika kita tak pernah merasa cukup terhadap apapun yang kita punya, tidak perduli berapapun jumlahnya. Demikian juga dengan kekayaan hakekatnya adalah ketika kita sudah merasa cukup dan bersyukur terhadap apapun yang ada pada diri kita, tak peduli berapapun jumlah yang kita miliki. Rasa cukup dan kemampuan kita bersyukur itu kunci kita melepaskan diri dari kemiskinan hakiki.

---
'Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.' (Q.S. Al Qhashas [27] : 77)

Kata 'Memaafkan' Seorang Ibu

Ada seorang teman yang berprofesi sebagai dokter. Dia bercerita bahwa dirinya pernah dibuat pusing menangani pasien yang sudah 40 hari koma pasca operasi, tak sadarkan diri. Semua bukunya dibuka kembali. Semua profesor diberbagai bidang penyakit diajaknya konsultasi. Namun tak juga ketemu jawabannya.

Sampai suatu ketika dia melihat seorang ibu tua menengok sang pasien. Tak selang lama beberapa hari pasiennya siuman dari koma, sadarkan diri dan tak lama kesehatannya berangsur pulih. Dokter tersebut keheranan, bagaimana mungkin dari tak sadarkan diri selama 40 hari bisa pulih kurang dari satu minggu hanya karena ditengok seorang ibu tua.

Dia beranikan diri bertanya pada istri pasien yang waktu itu menungguinya. Kata istrinya, ibu tua itu adalah ibu sang pasien. Sewaktu menengok itu ibunya berkata bahwa dirinya hari ini sudah memaafkan semua kesalahan anaknya. Setelah ibunya pergi, suaminya mulai sadarkan diri.

--
Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya (HR. Imam Nasa'i dan Thabrani).

Alun-alun Nganjuk







Lunga tak anti - anti kapan nggonmu bali
Mecak’e endahing wengi kutha Nganjuk iki
Sumilir angin wates nggugah kangene ati
Apa kowe ora ngerteni
Kowe tak kangeni

Ning alun - alun tak goleki
Terminal stasiun tak ubengi
Senajan setahun tak enteni
Tresnamu sing tak gondheli

Lali tenan to dhik nggonmu janji - janji ?
Disekseni lampu alun - alun iki
Lali tenan to dhik karo aku iki ?
Ning terminal stasiun nggonku nggoleki

Bagaimana dengan Reputasimu

Membiasakan kebiasaan yang buruk adalah seperti berdiri di dalam semen basah.....

ungkapan yang saya tulis ini adalah anggapan bahwa jika semakin lama anda berdiri dalam semen basah, akan semakin sulit anda membebaskan diri dan mempertahankan kebiasaan buruk, adalah persis seperti berdiri dalam semen basah.

Walaupun anda sudah berubah bentuk, cetakan semen itu mengumumkan bentuk anda sebelumnya sebagai bentuk asli anda.

Itu sebabnya, dibutuhkan waktu yang cukup lama dan panjang untuk memperbaiki nama yang sempat rusak, karena cetakan reputasi buruk bisa mengekang lebih kuat dari pada semen yang telah mengeras.

salam Heru Cahyono, semoga bermanfaat!!!

Your Amazing Year


Menjelang akhir tahun 2009, banyak dari kita yang sudah sibuk mempersiapkan akan liburan ke mana, atau bingung mau pesta di mana. Sementara para kalangan profesional sibuk mempersiapkan budget untuk tahun depan, juga sibuk mempersiapkan strategi untuk menaikkan market share. Itulah kurang lebih ritual setiap akhir tahun.
 
Anda boleh sibuk mempersiapkan untuk liburan maupun untuk pekerjaan Anda di tahun depan, tapi jangan sampai Anda lupa untuk mempersiapkan diri Anda sendiri. Terobosan apa yang ingin Anda capai, rencana besar apa yang akan Anda lakukan, prestasi apa yang ingin Anda ukir di tahun 2010? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini yang perlu dijawab untuk memperjelas apa yang ingin kita lakukan di tahun 2010. Banyak orang mengatakannya sebagai 'resolusi'. Sudahkah Anda menyusun resolusi pribadi untuk tahun 2010 ?


Tidak sedikit orang berpikiran, "Buat apa bikin resolusi kalau rencana atau goal tahun lalu tidak tercapai?" Anda jadi merasa enggan dan malas untuk membuatnya kembali.
 
Jika pada tahun 2009 Anda belum berhasil meraih apa yang Anda targetkan, bukan berarti Anda tidak mampu meraihnya di tahun 2010. Bukan resolusinya yang salah, tapi ada hal yang perlu menjadi koreksi pribadi, yaitu "Apakah sikap saya sudah benar? Apakah pola pikir saya sudah baik? Apakah saya sudah meletakkan komitmen penuh untuk meraih apa yang sudah saya buat?"
 
Resolusi tanpa tindakan adalah sia-sia, mimpi tanpa perbuatan juga akan menjadi sia-sia. Tak peduli apa yang terjadi di tahun sebelumnya, tapi hal yang harus Anda yakini bahwa tahun 2010 adalah tahun Anda. Tahun Anda untuk kembali bersinar, tahun Anda untuk bangkit dan menunjukkan sebuah prestasi yang cemerlang.
 
Jika Anda yang mengalami sebuah keberhasilan di tahun 2009, saya ucapkan selamat. Syukuri itu semua dan mulai men-challenge diri Anda untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Jangan berpuas diri. If Great is possible, then good is not enough.
 
Sebaliknya, apabila Anda mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan di tahun 2009, ayo bangkit kembali di tahun 2010. Jangan hidup di masa lalu, ambil pelajaran dari kegagalan, dan saatnya Anda kembali dengan semangat baru. Saya memang tidak tahu persis apa yang terjadi pada diri Anda, mungkin yang Anda alami jauh lebih berat, tapi saya percaya akan satu hal bahwa selalu ada terang bagi orang yang memiliki pengharapan dan percaya bahwa hal itu akan terjadi. Ingat jika ada kejatuhan pasti ada kebangkitan, jika ada gelap pasti ada terang. Biarlah tahun 2010 menjadi tahun kebangkitan dan perubahan bagi hidup Anda.

Jika seseorang mengharapkan perubahan dalam hidupnya apalagi di tahun depan, maka orang tersebut tidak dapat mengharapkan orang lain atau faktor eksternal berubah untuk dirinya. Orang tersebutlah harus mau mengubah dirinya lebih dahulu. Jika kita berharap hal yang lebih baik, tentu kita tidak dapat terus memelihara kebiasaan-kebiasaan yang kurang efektif di tahun sebelumnya, untuk dipakai di tahun yang baru.

Kebiasaan yang kurang efektif inilah yang perlu kita ubah: kebiasaan mengeluh, menunda pekerjaan, memikirkan yang negatif, meremehkan orang, menjelek-jelekkan pribadi orang lain, bangun selalu siang, menyesali nasib diri, malas, selalu takut mencoba, tidak mau belajar, menyalahkan situasi, tidak mensyukuri keadaan, dan segala bentuk kegiatan atau kebiasaan yang tidak memberi nilai tambah dalam hidup Anda! Sudah saatnya Anda membuat keputusan untuk mengubah itu semua. Terobosan atau resolusi seseorang boleh dahsyat dan fenomenal, tapi semuanya itu harus didasari dan dimulai dengan kebiasaan, pola pikir, perilaku, dan mental yang baik.

Anda mungkin sudah banyak mendengar nasihat positif menyongsong tahun 2010, tapi yang paling penting bukan seberapa banyak nasihat yang Anda dengar, melainkan seberapa banyak yang mau Anda jalankan dalam hidup ini. Jadikan itu sebuah komitmen untuk berubah. Niat saja tidak cukup, tapi harus diisi dengan tindakan, semangat, dan komitmen. Biasanya orang menjadi semangat di awal tahun, tetapi di tengah perjalanan mulai kembali ke kebiasaan lamanya lagi. Jika demikian, ingatkan diri Anda dengan catatan tujuan hidup Anda, ingatkan diri Anda kembali dengan target yang sudah Anda set, ingatkan diri Anda kembali dengan komitmen yang sudah Anda buat diakhir tahun. Jangan biarkan nyala api dalam diri Anda redup dan mati. Mari bersama kita re-charge diri kita agar tumbuh menjadi lebih baik.

This is our year, and it could be an Amazing Year for all of us.
Let's do something great!
Happy New Year 2010
May this year be the best year of our life, our country, and our world!


Heru Cahyono adalah Mahasiswa Akademi Akuntansi Muhamamdiyah Klaten 2009-2011 dan Mahasiswa LPK Dian Nusantara Surakarta 2009 program Komputer Akuntansi Menejemen Informatika, serta menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Klaten dan menjabat sebagai Staff Bidang IPTEK di Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Klaten.
Share/Bookmark

Diam Tidak Selalu Emas

Dengan melihat judul itu, mungkin anda sering mendengar yang begini "Diam Adalah Emas"

Tapi tidak bagi saya, menurut pemikiran saya Diam itu tidak selalu emas.

Mungkin anda akan heran, kenapa penulis bilang seperti itu? pasti ada maksud dan alasan kenapa penulis berbeda dengan peribahasa yang ada.
Begini temen2 semua, akan sedikit saya jelaskan :

Jika kita berbicara dan menyebabkan kerugian sebesar sebongkah emas, maka diam adalah emas.

Diam yang bernilai emas adalah diam yang diletakkan pada saat yang tepat.

Tetapi jika kita seharusnya berbicara yang bernilai emas, yang mencegah terjadinya kerugian besar, maka diam adalah pengingkaran tugas, yang merugikan.

Diam yang seperti itu adalah penelantaran tanggung-jawab.

Bagimana??masihkah anda akan mengucapkan Diam itu Emas???

Jika anda masih tetap saja menjadi orang yang saya tulis si atas, segeralah berubah. Kembalilah ke Jalan yang benar dan lurus, dan berusahalah untuk selalu berpikir penuh dengan alasan, jangan janya ikut-ikutan dengan yang sudah ada. Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat bagi kita semua, amien...amien....sampai jumpa di tulisan2 saya berikutnya. By Heru Cahyono

Award di Akhir Tahun


Seperti biasa setiap pertama kali masuk kerja, langsung saja ku buka Mozila dan ku buka Facebook serta Blog, untuk melihat coment-coment yang di berikan oleh temen-temen...Saat membuka di blog sayabaca di shout box ada coment dari amrul kalo saya mendapatkan award lagie...

Makasih ya kawan..di akhir tahun ini tengah kau berikan award buat saya, semoga ini bisa menjadi ukiran sejarah saya di tahun 2009, dan saya akan memulai mengukir kehidupan saya dan harus saya siapkan di Tahun 2010 besuk,,,
Dengan menerima award ini saya berharap semoga semua tulisan-tulisan yang saya buat dan artikel-artikel saya yang ada di Blog ini bisa bermanfaat bagi anda sekalian yan tetap setia hadir dan membacanya. Dan disini saya akan lebih berusaha lagi untuk meningkatkan kualitas tulisan saya postingkan di Blog ini.

Dukungan dari anda sangat berarti bagi saya untuk perkembangan Blog ini, dan usaha dari diri saya pribadi adalah yang utama harus dimunculkan. Semangat menulis dan membaca ini memang harus ditigkatkan dari sejak sekarang. Melihat budaya membaca dikalangan anak muda sekarang sangatlah kurang. Maka dari itu saya berusaha dan mencoba memberikan contoh kepada anda, bahwa membaca itu sangatlah penting bagi perkembangan anak bangsa.

Tak hanya itu saja, dengan sangat hormat saya memohon kepada para pembaca sekalian untuk turut ikut menyemarakkan gerakan membaca dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Semoga ulasan ini yang saya sampaikan membawa semangat kepada kita semua untuk menyadarkan anak-anak dan saudara-saudara kita untuk membudayakan membaca. Terimakasih By Heru CahyonoShare/Bookmark


Maafkan Saya Ibu

Hari ini bertepatan hari ibu, tapi saya tidak seberuntung seperti anak-anak lain. Mereka bisa bersama berkumpul keluarga, becanda gurau dengan ibu, bapak, kakak, adek. Pasti mereka sangat bahagia dan senang. Sementara disini saya hanya sendiri tidak bisa mengucapkan selamat hari ibu.

Melihat di berbagai situs dan jejaring di Internet banyak sekali anak-anak mengucapkan selamat kepada ibunya dan memberikan hadiah, pelukan, dan sebagainya....sya jadi menangis hiks..hiks...maaf ibu saya g bisa menyampaikan salam saya secara langsung di depan mu......disini saya hanya bisa mengharap engkau disana selalu mendoakan saya agar saya bisa menjalani hidup ini dengan baik dan tetap di jalan kebenaran.

Memang....
Takkan pernah cukup waktu
Takkan pernah cukup perhatian
Takkan pernah cukup biaya
Takkan pernah cukup cinta
Bahkan takkan pernah bisa
Takkan pernah bisa
Segala yang kita lakukan
Tuk membayar pengorbanan IBU
Hanya doa yang bisa kuhaturkan
Untukmu IBU…

Hanya ini yang bisa saya tulis untuk ibu....maaf.....

Rahasisa Kecerdasan Orang Yahudi

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana . Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California , terlintas di bennaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? kennapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami. Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.” Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikuti terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya. Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan di Universitas Israel , penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California , dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciiptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta! Anda terperanjat? Itulahkennyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza . Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka.

Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid. Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran.

Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia . Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sedeRrhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. bennarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. “Lihat saja Indonesia ,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta , di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!! ”Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali.

Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”
Share/Bookmark

Cara Memecahkan Masalah



“Siapa yang tidak punya masalah? Silahkan angkat tangan.” Itu adalah pertanyaan yang sempat saya lontarkan dalam berbagai kesempatan. Responnya: tidak ada yang angkat tangan. Artinya semua orang punya masalah. Jadi Anda tidak sendiri. Namun, bukan berarti masalah yang ada kita biarkan saja. Harus diselesaikan, kalau tidak… bahaya!



Kita sependapatat bahwa semua orang memiliki masalah. Bahkan masalah itu terus berdatangan seiring dengan perjalanan hidup kita. Orang yang sukses, bukanlah orang yang bebas masalah, tetapi mereka yang bisa mengatasi masalah demi masalah yang terus datang silih berganti.
Mengabaikan masalah bisa membahayakan hidup kita. Masalah akan datang terus, jika satu masalah tidak segera diatasi, maka masalah yang kita miliki akan menumpuk, semakin lama semakin menggunung sehingga kita akan terjepit masalah. Oleh karena itu, salah satu life skill yang harus kita miliki ialah bagaimana cara mengatasi masalah.
Saat kita menemukan masalah, maka kita harus bisa menemukan ide-ide brilian bagaimana mengatasi masalah tersebut. Kemampuan kreativitas sangat penting dalam hal ini, karena kebanyakan orang yang putus asa ialah mereka yang tidak punya ide lagi untuk menyelesaikan masalahnya. Ide-ide yang terus mengalir dan semangat yang membara untuk mencobanya, lambat laun akan mengantarkan kita ke sebuah solusi.
Jadi, untuk jangka panjang, tingkatkan kemampuan kreativitas Anda, agar Anda selalu siap menyelesaikan masalah yang selalu datang menghampiri kita. Yang kedua, tetaplah semangat untuk mencoba berbagai ide-ide sampai menemukan ide yang solutif.
Bagaimana saat kita belum juga menemukan solusi? Kembangkanlah kemungkinan mendapatkan ide-ide solutif. Jangan hanya mengandalkan diri sendiri. Kita mungkin sudah banyak belajar. Orang lain juga sama, banyak ilmu dan pengalaman yang sudah mereka dapatkan, apalagi dari orang-orang ahli atau yang lebih senior dibanding kita. Jadi, bertanyalah kepada orang lain untuk mendapatkan solusi.
Cara lain, kita patut bersyukur bahwa jaman sekarang mencari informasi sangatlah mudah. Banyak buku, ebook, audio, pelatihan, seminar, dan berbagai produk informasi lainnya yang bisa kita pelajari untuk menyelesaikan masalah kita.
Kesimpulannya, Anda akan menemukan banyak ide solusi. Yang Anda perlukan ialah, terus mencoba dan jangan menyerah. Insya Allah, solusi akan didapat.Share/Bookmark

Pandangilah Saat Mereka Tidur


Pernahkah anda menatap wajah orang-orang yang anda sayang ketika mereka sedang tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang nampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun akan tampak polos dan jauh berbeda jika dia sedang tidur.

Orang yang paling kejam di dunia pun jika dia sudah tidur tak akan kelihatan wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.
———————————————————

Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat dan gagah itu kini semakin tua dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah. …

Lihatlah ibu anda….
———————–


Hmm… kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai – belai tubuh bayi kita itu kini kasar kerana menempuhi kehidupan yang mencabar demi kita. Orang inilah yang tiap hari menguruskan keperluan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan menasehati kita semata- mata kerana rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang yang kita cintai.. sayangi itu…

Ayah, Ibu, Suami, Isteri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Saudara, Semuanya…


Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan-lahan saat menatap wajah mereka yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang-kadang tertutupi oleh salah faham kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu akan tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan serta memenatkan mereka namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun membantu untuk mengungkap segalanya.

Tanpa kata, tanpa suara dia berkata… “Betapa lelahnya.. penatnya aku hari ini”.

Dan penyebab lelah dan penat itu? Untuk siapa dia berpenat lelah tak lain adalah KITA…..


Suami yang bekerja keras mencari nafkah, isteri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah menemani hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan rasa terharu seketika menerpa jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, untuk selamanya …Share/Bookmark

Tujuan Hidup Manusia

Ada sebuah ungkapan yang pernah saya baca; “Orang bodoh hidup untuk makan, namun orang bijak makan untuk hidup.” Lantas apakah tujuan hidup orang bijak? Apakah hanya untuk bertahan hidup? Padahal kehidupan bukanlah akhir dan tidak dapat mengakhiri dirinya sendiri, lantas apa tujuan hidup ini?
Para ahli fikir merumuskan masalah ini dengan 3 pertanyaan dasar; Darimana, kemana, dan mengapa? Artinya, saya darimana, akan kemana, lantas mengapa saya ada disini?

Bagi mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan, yakni orang Ateis, hanya yakin terhadap materi yang terindera. Menurut mereka sesuatu itu ada jika terdeteksi oleh indera, jika tidak maka ia adalah fiksi. Alam semesta beserta isinya bagi mereka – terjadi begitu saja – kebetulan yang yang indah. Dan manusia tidak ubahnya bagai binatang dan tumbuhan, hidup dalam jangkau waktu tertentu kemudian mati.

Sehingga dalam pandangan mereka, dunia inilah awal dan akhir dan ini semua terjadi begitu saja tanpa ada keterlibatan Tuhan, karena mereka meyakini alam mempunyai mekanisme sendiri untuk mengatur dirinya sendiri.

Namun jika kita bicara jujur, sebenarnya tiap manusia mempunyai naluri keagamaan. Maka saya setuju dengan ungkapan sejarawan terkemuka Yunani 2000 tahun silam, Plutarch mengatakan, “Adalah mungkin bagi anda menjumpai kota-kota yang tidak memiliki istana, raja, kekayaan, etika, dan tempat-tempat pertunjukan. Namun tidak seorangpun yang dapat menemukan sebuah kota yang tidak memiki sesembahan atau kota yang tidak mengajarkan penyembahan kepada para penduduknya”. Ungkapan kuno ini benar. Ia menyatakan bahwa naluri keagamaan sesungguhnya adalah sesuatu yang bersumber dari fitrah manusia.

Kajian atas sejarah manusia menegaskan bahwa kepercayaan telah bersemayam dalam diri manusia sejak kurun peradaban kuno hingga saat ini. Berdasarkan penciptaan dan strukturnya, manusia adalah mahluk yang, tidak bisa tidak, musti memiliki keyakinan. Berdasarkan struktur inilah manusia diciptakan Allah. Namun begitu, manusia diberi hak memilih – patuh atau bermaksiat kepada-Nya.

Menurut Alquran, segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, termasuk manusia, hidup didalam naungan hidayah yang terbentuk secara fitri, yang mengantarkannya kepada Allah. Dari titik tolak inilah Islam berusaha menggiring pemahaman umat manusia untuk tidak menjadikan dunia ini, sebagai persinggahan terakhir, namun sebagai starting point untuk menuju kehidupan selanjutnya yang abadi dan hakiki, akhirat!

Oleh karenanya Alquran memberi perhatian khusus dan serius pada masalah kehidupan akhirat melebihi masalah-masalah lainnya. Misalnya saja, ayat-ayat hukum menerangkan berbagai masalah cabang (fủru’) hanya berjumlah 500 buah. Sementara, ayat-ayat yang berbicara tentang hari kebangkitan bejumlah lebih dari 1000 buah. Dari sini dapat dilihat Alquran memberikan perhatian serius pada masalah pemikiran dan keyakinan.

Jika hal ini mempunyai peranan sangat penting sepert ini, lantas apa arti semua ini? Kemerdekaan! Allah SWT menghendaki manusia untuk mengEsakan-Nya, dan menjadi manusia yang benar-benar merdeka bersama-Nya agar tidak menjadi hamba bagi segala sesuatu.

Dari penghambaan kepada Allah sajalah, akan lahir kemerdekaan manusia. Sebaliknya, dari kesombongan terhadap Allah, manusia akan diperbudak oleh segala sesuatu selain Allah. Dengan kata lain, pengEsaan dan penghambaan kepada Allah, memberikan kemulian dan kemerdekaan kepada manusia. Tanpanya, manusia menjadi budak bagi segala sesuatu yang diciptakanNya. Dan inilah tujuan hidup orang bijak yakni, merdeka bersama Allah, Tuhan yang menciptakannya.
Share/Bookmark

Fenomena “Social Distrust Community”

Pemerintah ini sekarang sedang dilanda masalah. Salah satunya adalah sebagian masyarakat kurang percaya pada pemerintah, padahal pemerintah baru dilantik Oktober silam. Di sana-sini kita melihat masyarakat ramai mengkritik pemerintah. Beberapa aktifis sempat mendirikan mimbar bebas. Model yang dulu pernah ada di jaman Soeharto, tetapi kemudian dilibas. Beberapa kelompok masyarakat juga secara terang-terangan melakukan mobilisasi massa. Mereka menolak bahkan meminta pemerintah berkata jujur.
Media bukan tidak berbicara. Secara terselubung beberapa media kerap melakukan investigasi dan kritik terbuka terhadap pemerintah. Figur Presiden bahkan kerap dijadikan olok-olokan terbuka oleh para kartunis. Salah satu pidato Presiden bahkan dipelesetkan oleh salah seorang pakar komunikasi, Effendi Ghazali.
Tokoh-tokoh juga berbicara. Di antaranya mereka yang amat jarang berbicara mengkritik pemerintah ini. Gus Dur dan Frans Magnis Suseno, dua tokoh yang hanya berbicara ketika terjadi kemandegan juga sudah menyatakan pendapatnya.
Apa pasal? Dua hal yang menjadi sorotan, sebagaimana kita ketahui, adalah masalah KPK dan Bank Century. Dalam menangani masalah KPK, Presiden dituding terlalu “tidak tegas” dan terkesan menyerahkan solusi kepada elemen di bawahnya. Presiden bukannya menggunakan otoritasnya, melainkan menggunakan institusi yang sama untuk memperbaiki diri.
Jelas saja kemudian masyarakat banyak yang tidak percaya bahwa reformasi hukum akan terjadi. Benar bahwa Kabareskrim diganti. Tetapi langkah tersebut ditolak sebagai langkah pembenahan. Polri menyatakan bahwa hal itu adalah bagian dari tour fo duty alias penyegaran organisasi.
Mengenai Century, pemerintah juga dikritik menutupi sesuatu. Setelah kemudian BPK mengumumkan temuannya, pemerintah menjawab dengan sesuatu yang justru membuat publik semakin bertanya. Apakah pemerintah masih bisa diandalkan. Menteri Keuangan ngotot bahwa langkah-langkah yang ditempuhnya sudah benar, meski pada saat yang sama publik meragukan jawaban tersebut. Ada apa dengan pemerintah?
Organisasi Terbuka
Pemerintah harus mengerti bahwa mengurus negara ini tidak lagi menggunakan model tangan besi seperti dulu. Sirkulasi komunikasi dan informasi bergerak amat cepat. Kita tidak bisa lagi menutupi apa yang terjadi karena media mendapatkan berita dengan sangat mudah. Lihat saja bagaimana rekaman pembicaraan antara Anggodo dengan beberapa orang tersebut, dengan mudah disampaikan oleh media kepada publik, jauh sebelum kasus itu dibongkar oleh MK di pengadilan.
Kalau dulu, menyimpan uang dalam brankas menggunakan lemari besi. Karena itu sebuah perusahaan akan merasa aman menyimpan tabungannya tersebut. Tetapi sejak diperkenalkannya transparansi publik terhadap perusahaan-perusahaan yang sudah go publik (Tbk), maka publik memiliki hak mengakses informasi mengenai isi perut perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan kini tak bisa lagi menyimpan informasi hanya untuk dirinya sendiri.
Karyawan perusahaan juga berhak tahu mengenai perusahaan. Mereka kini bisa memiliki sebagian saham perusahaan. Mereka yang memiliki itu kemudian semakin berkembang karena mereka memiliki sense of belonging. Jatuh bangunnya perusahaan menjadi tanggung-jawab mereka juga.
Negara juga demikian. Dulu China menutup diri rapat-rapat dari dunia asing. Mereka menutupi segala kejadian di sana. Tetapi kemudian ketika kelaparan terjadi, dan diberitakan oleh media, mereka harus takluk pada kenyataan. Mereka bersedia membuka diri karena mereka berada dalam komunitas masyarakat internasional yang justru menyediakan bantuan kepada mereka.
Di dalam negeri, China juga semakin terbuka kepada masyarakatnya. Masyarakat juga diberikan sedikit kelonggaran kini, dibandingkan dulu dimana masyarakat sangat tertekan. China tidak dapat menutup mata bahwa dinamika masyarakatnya kini sudah sangat berbeda. Sekarang, warga masyarakat kelas bawah di China pun sudah bersekolah ke luar negeri dan membawa ide-ide baru.
Indonesia, juga sudah berbeda. Setelah pernah menjatuhkan rezim dan melakukan pemilu yang damai, masyarakat semakin percaya bahwa merekalah pemilik kedaulatan. Mereka haus akan informasi dan pengetahuan. Karena itu masyarakat Indonesia kini adalah masyarakat yang mencari apapun kebijakan pemerintah yang berpotensi tidak terbuka.
Dari sudut pandang perilaku saja misalnya, banyaknya kelompok yang mendukung KPK melalui faceboook adalah salah satu contohnya. Masyarakat kita kini adalah pengguna informasi dan hubungan pertemanan melalui dunia maya. Bandingkan dengan aksi jalanan dulu yang kerap dikenal sebagai people power dimana semua yang terlibat harus dihubungkan secara fisik.
Karena itu pemerintah tidak bisa menggunakan mekanisme tertutup di dalam mengelola kebijakan. Pemerintah harus terbuka dan membuka diri kepada dunia di luar dirinya, yaitu kepada masyarakat. Jika pintu-pintu itu ditutup rapat, maka dunia di luar pemerintah memilih menggunakan caranya sendiri, yaitu aksi massa, media yang semakin kritis dan saluran-saluran lain yang tentunya disertai dengan bumbu dan kritiknya masing-masing.
Social Distrust Community
Indonesia adalah negara yang sudah meniti di barisan negara-negara demokrasi dunia. Indonesia juga sudah membuka diri terhadap berbagai kerjasama internasional. Indonesia juga sudah menyatakan diri sebagai negara yang berperan amat penting bagi berbagai upaya di dunia ini. Itu kita hargai. Tetapi Indonesia (pemerintah) belum membuka diri terhadap rakyatnya sendiri. Pemerintah masih saja asyik bermain langgam sendiri, dan memilih menggunakan logika sendiri ketika berbicara mengenai persoalan masyarakat. Pemerintah juga asyik bermain “game” sendiri manakala situasi sudah semakin buruk dan masyarakat membutuhkan tuntutan. Ini adalah situasi yang hanya akan menghasilkan social distrust community.
Social distrust community adalah situasi dimana ada sebuah kelompok yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Menggunakan model Johari Window, dalam kasus sekarang ini yang berkembang di masyarakat (KPK dan Century), adalah masyarakat, yang notabene pemegang kedaulatan tertinggi, ternyata tidak diberitahu dengan jelas dan gamblang mengenai apa yang terjadi.
Usainya perkara KPK, setelah Presiden menyampaikan “pidato”-nya, kita perkirakan akan menghentingkan upaya menjelaskan masalah ini kepada publik. Publik hanya menangkap sepotong-sepotong dari penjelasan tim 8, putusan MK, pidato Presiden, atau informasi dari media. Sesudahnya masyarakat diminta merangkai sendiri apa yang terjadi. Situasi tersebut jelas tidak sehat. Apa yang terjadi sama sekali tidak dijadikan pembelajaran karena pemerintah tidak melakukan apa-apa.
Potensi yang sama juga mungkin akan terjadi pada akhir Bank Century nantinya. Alih-alih memperjelas apa yang sedang terjadi, penyelesaian Bank Century kita kuatirkan akan ditempuh dengan penyelesaian secara “adat” ini. Kalau sudah begini, maka lama kelamaan, social distrust community akan terus membesar dan bukan tidak mungkin akan meletup menjadi protes terbuka yang bersifat massal. Pemerintah, cobalah bertindak lebih terbuka (Penulis adalah peneliti dan kolumnis masalah sosial politik).
Share/Bookmark

Mafia Negara Kita

Kita dibuat terperangah oleh aksi seseorang bernama Anggodo, Ari Muladi dan sosok misterius bernama Yulianto. Merekalah yang menurut reka-reka kisah yang masih sulit diurai dalam drama KPK versus Polri, berperan amat banyak di dalam mencoba menyelamatkan Anggoro, tersangka kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu, pemilik PT Masaro, dari jeratan hukum yang sudah dilakukan oleh KPK.
Dari media kita baca perannya. Anggodo yang menerima pesan dari Anggoro, kemudian mencari orang yang bisa “membantu”. Maka kasak-kusuk pun dilakukan untuk mencoba mencari jalan menuju pimpinan KPK. Terungkap pula bagaimana pembicaraan Anggodo mencoba mengatur jalan mendisain BAP Bibit dan Chandra, yang terkesan menjadi cara membalas dendam karena perlakuan terhadap Anggoro. Tetapi apakah kemudian itu bagian dari kriminalisasi dari Polri kepada KPK, itu masih menjadi pertanyaan karena masing-masing masih bersikukuh tidak melakukan tindakan apapun untuk menegasikan institusi lainnya.
Tetapi terlepas dari hal itu, kita lihat saja nanti kebenarannya, keberadaan Anggodo di dalam mencoba mengatur, memuluskan, bahkan mencoba mengeluarkan kasus yang menimpa Anggoro supaya tidak lagi diteruskan, menjadi salah satu point yang benar, meski tidak banyak yang melihatnya. Publik terlanjur terpengaruh KPK versus Polri dengan idiom kriminalisasi, dan lupa pada fokus bagaimana Anggodo adalah sosok yang terbukti jelas mencoba membeli penegak hukum.
Banyak orang yang terkait dengan urusan hukum memang melakukan apa yang dilakukan oleh seperti Anggoro-Anggodo ini. Mereka mencoba mencari celah untuk lolos dari jeratan aparat. Mereka mencari cara supaya dengan mengorbankan apapun, termasuk uang miliaran rupiah, mereka bisa menikmati status sebagai orang merdeka, tanpa sangkaan apapun, meski mereka telah melakukan tindakan korupsi.
Tindakan seperti itu persis seperti kasus yang menjerat banyak pelaku korupsi lainnya. Sebut saja misalnya Artalita, yang mencoba mencari jalan supaya “kliennya” selamat. Dengan uang miliaran, skenario pun digelar, dan penegak hukum pun disuap. Lalu korupsi yang melibatkan petinggi polisi juga sempat terungkap ketika kasus perbankan lainnya melibatkan para koruptor. Ujung-ujungnya polanya sama, yaitu para pelakunya mencoba mencari akses kepada para penegak hukum dan menggelontorkan dana miliaran rupiah.
Ketika tindakan itu kemudian menjadi sebuah permainan bak mafia, maka penegak hukum juga pastilah pasang tarif. Itu adalah hukum alam. Tingginya permintaan akan meningkatkan pula harga-harga di pasar. Pantas saja kemudian ketika disebut-sebut, setiap kasus korupsi kakap, uang suap yang beredar selalu bernilai em-eman (miliaran rupiah). Angka yang menurut kita tidak terlalu fantastis mengingat uang hasil korupsi yang masih terlalu banyak.
Masyarakat yang mengalami masalah, kemudian menjadi korban tarif ini. Karena sudah dimulai maka siapapun penegak hukum akan segera meminta tarif manakala masyarakat mengalami masalah. Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau masyarakat ingin kasusnya “dikerjakan”, maka “uang jalan” pun segera diminta. Bak petugas kelurahan yang dengan sigap meminta uang pengertian kalau mengurus KTP, petugas penegak hukum pun memang tidak memaksa, tetapi jangan harap masalah bisa selesai.
Itulah yang terjadi dalam keseharian kita kini. Di level atas para pemain mafia hukum melakukan aksi-aksi untuk menyelamatkan dirinya, di level bawah, masyarakat menjadi korban dari tindakan aksi main peras yang banyak dimainkan oleh para petugas penegak hukum.
Negeri Mafia
Itulah gambaran kisah negeri mafia, negeri kita. Negeri dimana hukum dengan mudah dibeli oleh mereka yang memiliki uang. Mereka menjadikan negeri kita sebagai tempat untuk bersekongkol, untuk menjadikan negeri ini bak negeri yang semuanya gampang dan mudah, asal ada uang.
Karena itu, negeri kita ini memang telah terjebak amat dalam dan amat parah. Mau memberantas korupsi, koruptornya bisa membeli. Mau memberantas penegak hukum, semuanya sudah terlibat meski ada yang masih kecil-kecilan. Tetapi semuanya amat sulit lagi diubah karena mafia menawarkan uang yang begitu wah untuk dinikmati oleh mereka yang hanya berpenghasilan jutaan rupiah per bulannya.
Negeri ini seperti hanya milik Anggodo dan “Anggodo-Anggodo” lainnya. Dengan uang yang dimilikinya, jaringan untuk masuk ke berbagai sudut kantor penegak hukum bisa dilakukan. Merekalah yang menyebabkan negeri ini masuk ke dalam lubang buaya yang amat dalam dan menghancurkan negeri ini secara perlahan tetapi pasti. Mereka bisa tidak hadir untuk mengurus kasusnya, tetapi dengan menggunakan telepon, maka semua persoalan bisa diselesaikan. Itulah yang bisa kita lihat dari rekaman penyadapan oleh KPK terhadap Anggodo dan sejumlah orang lainnya yang diperdengarkan di hadapan Mahkamah Konstitusi.
Tindakan Tegas
Presiden sendiri sudah mengumumkan bahwa mereka yang menjadi korban mafia diharapkan melaporkan hal itu kepada Presiden. Kita setuju langkah itu. Diperlukan akses yang langsung kepada petinggi negeri ini untuk mengetahui persoalan masyarakatnya.
Tetapi langkah yang harusnya ditempuh bukan hanya itu. Presiden harusnya melakukan upaya pemeriksaan sendiri atas rekam jejak para penegak hukum di level atas. Jabatan seperti Kapolri dan Jaksa Agung, adalah dua jabatan yang harusnya diisi oleh orang-orang yang benar-benar bersih dan berani membersihkan level di bawahnya. Bisa dibayangkan kalau petinggi penegak hukum adalah sosok yang takut melakukan perubahan, maka alamat mafia pun masih dengan bebas berkeliaran di negeri ini.
Selain itu, Presiden juga bisa dengan kekuatan yang dimilikinya, untuk mempercepat semua proses yang berhubungan dengan korupsi, supaya pelakunya tidak mencari cara untuk mencoba menyuap dan berhubungan dengan petugas penegak hukum. Kalau perlu, Presiden harus menyusun dan menginstruksikan supaya ada corruption pathway yang menjadi pedoman bagi setiap penegak hukum. Di dalamnya ada satuan atau unit hari untuk bekerja untuk menyelidiki, menyidik dan mendakwa. Di luar corruption pathway itu, Presiden harus menghentikan atau memberikan sanksi kepada petugas yang mencoba mempermainkan hal itu.
Merekrut para pengawas independen dari LSM dan media juga adalah salah satu jalan. Presiden harus bisa menerima masukan dari kedua elemen ini supaya kelakuan penegak hukum sampai di daerah bisa diketahui oleh Presiden secara langsung. Jangan sampai Presiden hanya menerima laporan-laporan yang ABS, Asal Bapak Senang saja.
Kalau Presiden tidak melakukan tindakan tegas dan keras, maka negeri ini akan tetap seperti ini. Yang punya uang bertindak ala Anggodo, sementara masyarakat yang terlibat kasus hukum hanya bisa bergumam dan menyesali kenapa mereka bisa menjadi warga negara di negeri mafia ini.
Share/Bookmark

Siapa pemenang serial Gatutkaca vs Dursasana?

MENYIMAK serial cicak (KPK) versus buaya (kepolisian), di dalamnya merambah ke lembaga kejaksaan. Belum usai kasus tersebut, munculah kasus terbaru Bank Century, konon diduga ada penyimpangan dana sebesar Rp 6,7 triliun. Ingatan saya tergugah pada cerita pewayangan yang melibatkan perseteruan antara Gatutkaca keturunan Pendawa (Amarta) berkonotasi sifat-sifat kejujuran & kebenaran versus Dursasana prajurit Kurawa (Astina) yang berkonotasi sifat-sifat serakah, dengki, srei atau pengikut kejahatan.

Siapakah Amarto atau Amarta itu? Amarta adalah suatu kerajaan yang berpenghuni saudara kandung yang berjumlah lima orang, disebutlah Pandawa lima, yang terdiri-dari Puntodewa/Yudhistira, Werkudara/ Bratasena, Janaka/Permadi dan sikembar Nakula serta Sadewa yaitu digambarkan orang-orang yang selalu berperilaku jujur, santun, tenang, tidak pongah, tidak sombong dan ditakdirkan untuk melawan angkara murka. Di dalamnya ada nama Gatutkaca. Gatutkaca adalah anak dari Werkudara dengan Arimbi.

Gatutkaca (Satrio Pringgodani) digambarkan sebagai pembela kebenaran dan penegak keadilan. Gatutkaca berpembawaan jujur, tenang, otot kawat balung wesi dan bisa terbang dengan Kotang Onto Kusumo. Karena kepandaiannya itulah banyak anak-anak mengagumi pada tokoh Gatutkaca tersebut. Terlebih dia bisa terbang. Maka bukan sesuatu yang aneh jika pesawat terbang kita diberi sebutan Gatutkaca.

Sedang Kurowo atau Astina, digambarkan sebagai suatu kerajaan yang dihuni oleh para angkara murka, berperilaku jahat, mengakali orang lain, untuk dibodohi, dikibuli dan sebagainya. Setiap akhir cerita dengan ending Kurawa di dalamnya ada prajurit yang bernama Dursasana. Dursasana diilustrasi sebagai orang yang banyak bicara, tertawa, berkoar-koar, mengaku pemberani, sakti, kuat, perkasa dan lain-lain. Namun faktanya mereka selalu kalah dan belum pernah sekalipun menang dalam setiap adegan suatu cerita. Ia selalu dikalahkan dengan kejujuran dan kebenaran.

Negara Astina sebenarnya milik Pendawa yang dititipkan kepada Duryudana, dengan patihnya Sengkuni (karena Pendawa waktu itu masih kecil atau anak-anak). Kemudian ada penasihat raja yang disebut Pendito Durno, disebut juga sebagai guru. Fungsi sebagai guru, ia juga mempunyai murid orang Kurawa dan sekaligus orang Pendawa. Pendawa saat sebagai murid Pendito Durno, dia (Pendawa) tidak pernah membangkang/melawan sang guru, sekalipun mereka akan dijebak agar mati oleh Durno, hasutan raja Kurawa. Apa yang diperintah sang guru selalu di jalankan.

Contoh: Werkudara diperintah sang guru untuk mendapatkan susuh angin yang berada di tengah Samudra, dengan tujuan agar mereka mati di dalam laut. Werkudara tidak pernah takut, maka berangkatlah mereka. Dengan keteguhan hati, bersungguh- sungguh pantang menyerah, dia mempercayai perintah sang guru adalah benar. Karena keteguhan dan kegigihan itulah bukannya mereka mendapat celaka, namun justru sebaliknya, ia mendapat pertolongan serta kesaktian yang di luar dugaan yang ia pikirkan. Simpulannya kejujuran dan kebenaran adalah di atas segala-galanya.

Maka, siapa pun orang Jawa terutama penggemar bahkan pengagum cerita wayang, akan merasa tersinggung dan sakit hati jika sampai mendapat paraban atau sebutan sebagai kelompok orang Kurawa. Mereka akan merasa tersanjung, terhormat dan bangga jika mendapat sebutan sebagai kelompok orang Pendaw.

Lalu apa korelasinya dengan cerita cicak versus buaya? Masyarakat berasumsi dan meyakini bahwa kebenaran akan mampu mengalahkan angkara murka. Sepandai-pandai bajing meloncat pasti akan jatuh juga. Artinya siapa pun yang pandai bersilat lidah dan sejenisnya, akhirnya mereka akan terjebak oleh perilakunya juga.

Dalam skenario testimoni, transkrip, atau apa pun namanya yang sedang marak, dan kita saksikan pada bulan belakangan ini, antara oknum kejaksaan, KPK, kepolisian dan seterusnya timbul pertanyaan besar, siapakah yang akan terperosok ke dalamnya? Masyarakat dibuat terkuras emosinya untuk mengikuti dunia kebohongan, kemunafikan dengan membawa-bawa ranah agama dalam sumpahnya. Sayang akhirnya sebagian masyarakat yang diwakili Egy Sujana dan kawan-kawan (dalam acara Debat tvOne, 2-12-2009) menjadi kecewa karena persoalan cicak versus buaya tidak sampai ke kursi pengadilan.

Dunia memang panggung sandiwara, kata Achmad Albar. Kapankah akan segera terkuak drama panggung sandiwara tersebut? Masyarakat menafsirkan, memang Indonesialah gudangnya pemain drama andal hingga mendunia. Namun, drama tersebut bukannya menghibur masyarakat, faktanya justru menjerumuskan ke lembah penderitaan dan kemiskinan. Seperti contoh kasus Minah pencuri 3 buah kakau, disusul pencuri sebuah semangka dan lain-lainnya.

Dengan berkembangnya budaya bohong untuk menutupi kerakusannya dalam berperilaku korup jelasjelas sangat bertabrakan dengan janji- janji presiden terpilih saat berkampanye sebelum pemilu pada bulan Juli yang lalu. Untuk itu dukungan riel sekaligus kritik konstruktif layak kita kumandangkan untuk mendorong terealisasinya pemberantasan korupsi di negeri ini.

Maka, masyarakat sangat bangga akan perjuangan para mahasiswa yang menyuarakan kebenaran, kejujuran demi kesejahteraan rakyatnya. Namun sayang di balik perjuangan para mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan, sayang terkotori oleh perilaku oknum mahasiswa yang saling serang sesama kawan mahasiswa. Kapan hal tersebut mahasiswa mampu menghentikan perilaku menyimpang tersebut? Para mahasiswa sendirilah yang mau mengakhiri semua itu, sehingga rasa kesamaan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan akan lebih mudah terwujud.

Masyarakat mau percaya kepada siapa? Lunturlah tingkat kepatuhan warga negara terhadap oknum mahasiswa dan oknum aparatur negara yang pandai memainkan drama kebohongan tersebut.

Siapakah yang akan terperosok, sekaligus terbukti sebagai Gatutkaca dan atau justru diluar skenario terbukti menjadi Dursasana? ’’Aduh kasihan deh lu, jika terbukti sebagai Dursasana, maka hotel prodeolah tempatnya, atau paling tidak dilengserkan dari jabatannya.” Namun, jika terbukti sebagai Gatutkaca, janganlah engkau congkak dan sombong, sebab Gatutkaca adalah satria piniji linuwih dan tidak pernah memamerkan kepandaian dan kesaktiannya.

Akankah fakta kebohongan dan kebobrokan moral busuk segera terungkap? Masyarakat dengan berdebar- debar menunggu hasilnya dan mempercayakan kepada pihakpihak yang berkepentingan, untuk segera mampu mengungkapnya, sehingga pada saatnya nanti negara kita tercinta segera terbebas dari perilaku Dursasona, yang sangat-sangat memalukan dunia. Semoga.
Share/Bookmark

Sahabat dan Pergaulan

Apakah sahabat sama sengan teman???
kalau di negara arab sepertinya sama,kalau di negara indo tergantung sama siapa kita bicara,sebagian orang mengatakan kalau sahabat anak orang yang dekat dengan kamu,yang mau menasehati kamu saat lalai,yang minta dinasehati disaat ia lalai,kalau teman??teman adalah orang yang dekat dengan kamu,itu saja.

emang penting adanya seorang sahabat??

ya,sangat penting dan memang saya anggap wajib hukumnya mencari sahabat.
kenapa??
dengan adanya orang yang mau menasehati kita disaat kita lalai,maka insya Allah kita termasuk orang orang yang beruntung.

lah lalu apa tugas orang tua kalau gitu??

kamu tau??siapa yang nasihatnya didengerin pertama kali??dia adalah orang yang dekat dengan kamu,ini yang terjadi dikebanyakan orang,kalau orang tua yang menasehati seakan akan dianggap seperti angin lewat,tapi kalau orang yang dekat sama kita yang nasehati,kita langsung ngga enakan kalau mau ngelakuinnya,benul ga??
trus tugas orang tua yaitu :
1. mengawasi gerak gerik anak setelah ia berpendidikan
2. mengingatkan anaknya sewaktu dia melakukan kesalahan.
3. sebelum anaknya mengenyang pendidikan didiklah ia menjadi anak yang baik
itu aja dulu,hehe soalnya saya juga belum punya anak,sebenernya tugas itu saya utamakan buat saya sendiri dulu.

nah terus caranya gimana mencari sahabat yang baik???
ini dia masalah yang paling sulit,,,,,ini hubungannya dengan pergaulan,kalau pergaulan kamu trus menerus dengan orang orang yang ngga baik,yang selalu mengajak kamu bukan kepada kebaikan sebelum kamu mempunyai pondasi yang kuat untuk mengajak mereka kepada kebaikan,so,,,,jangan salahkan siapa siapa sewaktu kamu menerima akibatnya.

trus apakah masih ada dizaman sekarang sahabat yang seperti itu??
masih banyak!!!!!!!!meskipun lebih banyakan teman yang rusak,tapi masih banyak juga sahabat yang baik.

umpanya saya udah bergaul dengan teman teman saya yang rusak,yaaaa bisa dibilang preman lah,minum² anlah,zina lah,de el el dari perbuatan perbuatan yang ngga baik,gimana caranya keluar dari mereka biar ga dimusuhi???

hehe,,,,gaul dengan orang yang jelek kalau kamu ngga ikut ikutan seperti mereka ga papa,lebih baik lagi kalau kamu bisa mengajak mereka berhenti dari berbuat yang tidak baik.

caranya???

1. kalau kamu baru ikut gabung dengan mereka
kalau kamu belum yakin bisa memperbaiki mereka mending keluar,jangan dulu berteman dengan mereka,kalau kamu uda yakin punya pondasi yang kuat,gauli mereka sampai akrab,ga usah dengerin omongan orang,memang sih pepatah mengatakan ” orang yang berjalan bersama orang yang membawa bangkai,maka semuanya bau bangkai ” kalau cuman bau doang ga usah dipermasalahin,bau yang ngga enak ga semuanya buruk.
nah trus sirami bau bangkai tadi dengan wanginya bunga kasturi,biar yang wangi bukan kamu aja,mereka juga ikut bau wangi.

2. kalau kamu udah lama gabung dengan mereka
ini juga ada kemungkinan,
a). seumpama kamu gaul dengan mereka malah tambah parah dari sebelumnya,maka sulit untuk keluar dari mereka,

trus apa masih bisa keluar??
segala sesuatu pasti ada jalan keluar,caranya kamu bilang sama mereka kalau kamu mau berubah,atau apa lah meskipun dengan cara membohongi mereka,itu demi kebaikan kamu,nah setelah kamu bisa bisa keluar dengan mereka,kan dulunya kamu akrab tuh ama mereka,gabungin lagi mereka ajak mereka kejalanmu yang sekarang,jangan malah kamu ikut jalan mereka lagi,payah kalo gitu mah.

b). selama kamu gaul dengan mereka kamu tetep aja seperti sebelum kamu gabung dengan mereka,nah ini juga ada kemungkinan :
*) sebelum gaul dengan mereka kamu dianggap anak baik
kalo seperti ini masih untung,apa lagi kamu sampai bisa memperbaiki temen temen kamu,wah bisa jadi orang baik banget lu!!!
**) sebelum kamu gaul dengan mereka kamu dianggap biasa aja,baik ngga,jelek juga ngga,
nah kalo yang ini kamu mesti cepet cepet perbaiki diri kamu dulu,kemudian berusaha memperbaiki yang lain
***) sebelum gaul dengan mereka kamu memang udah terkenal bejadnya,na’udzu billah deh kalo yang ini yah.
kalo yang ketiga ini saya cuman bisa bilang cepatlah tobat naaaak kiamat udah dekat,hehe,ini serius, ga becanda ini,kamu mesti cepet cepet tobat sebelum ajal datang!!!!!tau ngga orang mati itu kaya gimana??
wew,,ngeri!!!! saya dulu sering melihat orang sakarotul maut,macam macam gaya mereka mati,ada yang dengan tenang,ada yang ketakutan,ada yang senyum senyum,lalu kamu pilih yang mana???apa mau pilih yang meninggalnya ketakutan melihat malaikat,,,na’udzu billah.

pilihlah sahabt yang bisa membimbing kamu ke jalan yang di ridloinya,jangan salah pilih,”salah gaul,RUGI!!!!!!!“
Share/Bookmark

Stop Ujian Nasional

St Kartono

Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukan pemerintah terkait penghentian ujian nasional.

Masyarakat sudah memenangkan tiga kali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dan Mahkamah Agung (Kompas.com, 25/11). Akankah Departemen Pendidikan Nasional bersikeras melaksanakan ujian nasional (UN)?

Standardisasi

UN seolah menjadi wajah utama Depdiknas. UN yang dilaksanakan demi memetakan mutu pendidikan dan standardisasi pendidikan di negeri ini dalam praktiknya sebatas dipahami sebagai alat penentu kelulusan. Semua energi aparat Depdiknas, guru, dan siswa hanya bermuara pada UN sehingga berbagai upaya perbaikan kualitas pendidikan nyaris tak terdengar.

Jika sekolah tanpa UN, apakah berarti kualitas pendidikan tidak terkendali? Masyarakatlah yang akhirnya menilai mutu lulusan sekolah kita. Dengan konteks persekolahan yang beragam, kiranya ada prioritas yang lebih mendesak dilakukan Depdiknas, yakni membangun proses dan sarana pendidikan yang merata di seluruh negeri. Di mata para guru, masalahnya menjadi sederhana, silakan UN dilaksanakan, tetapi jangan dijadikan sebagai alat penentu kelulusan siswa. Dalih, UN hanya salah satu penentu kelulusan, dalam praktik persentase terbesar ketidaklulusan disebabkan oleh nilai UN yang tidak memenuhi persyaratan.

Yang menjadi semangat penolakan terhadap UN adalah rasa keadilan. Anak-anak telah terlalu lama diperlakukan sebagai pihak yang tidak penting karena mereka tidak dapat berhasil di dunia akademis. Anak-anak—yang tidak lulus UN—dianggap tidak mampu memasuki percakapan intelektual yang didefinisikan orang-orang yang memiliki posisi dalam kendali akademis. Para guru pun merasa pahit saat melihat standar didefinisikan seluruhnya dari segi kerangka keunggulan akademis, padahal guru mengetahui, ada banyak aspek yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi seorang anak.

Kiranya Mendiknas perlu menghentikan UN dan memfokuskan pada upaya-upaya perbaikan sarana pendidikan. Selama gedung-gedung sekolah yang rusak di seluruh Tanah Air belum mengalami perbaikan dan memadai, tidak bisa diharapkan sebuah hasil evaluasi yang standar. Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan. Artinya, standardisasi evaluasi harus didahului standardisasi tujuh aspek lain di semua sekolah di negeri ini tanpa kecuali, baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

Gedung rusak

”Soal gedung sekolah yang rusak sudah saatnya diselesaikan. Kita tutup buku pada 2010 dan beralih kepada persoalan lain,” kata Mendiknas Mohammad Nuh (Kompas, 28/10).

Data dari Rembuknas Pendidikan, Juni 2007, menunjukkan, pada 2003 ada 531.186 ruang kelas rusak. Dari jumlah itu, 360.219 ruang sudah diperbaiki. Sisanya akan diperbaiki sebagai program 2008. Kerusakan terbesar dialami gedung-gedung SD, terutama di Pulau Jawa, 52 persen (276.695 unit).

Meski Mendiknas terdahulu hingga akhir masa jabatan tak kunjung bisa mewujudkan janjinya untuk perbaikan gedung sekolah rusak, Mendiknas M Nuh telah menunjukkan pilihan prioritas persoalan pendidikan yang harus diselesaikan. Kerusakan gedung dan ruang kelas SD di berbagai pelosok negeri ini, selain mengancam program wajib belajar 9 tahun yang harus segera tuntas, rapuhnya gedung-gedung itu mengancam keselamatan siswa dan guru yang melakukan pembelajaran dalam keseharian.

Tidak jarang atap sekolah ambruk saat proses pembelajaran sedang berlangsung pun patut disyukuri karena roboh saat tidak ada aktivitas di bawahnya.

Hanya dengan ketenangan sajalah proses pembelajaran dapat berlangsung dengan nyaman. Jika demikian, masih relevankah membincangkan ujian nasional dan membincangkan mutu pendidikan, standar pendidikan, atau angka-angka kelulusan, sementara kian hari gedung-gedung sekolah roboh berantakan?

Becermin pada pengalaman Jepang, patut ditegaskan, pendidikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas sama. Kondisi Indonesia saat ini sama dengan kondisi Jepang pada tahun 1960-an sampai 1970-an. Saat itu angka partisipasi SD dan SMP di Jepang mencapai 95-97 persen, sementara angka partisipasi SMA 50 persen. Yang dilakukan Pemerintah Jepang bukan mendirikan sekolah unggul, tetapi membangun sekolah dengan fasilitas sama yang bisa mendidik anak-anak tanpa ada perbedaan.

Memang, masalah pemerataan pendidikan yang mendesak diselesaikan Mendiknas adalah membereskan sarana fisik atau menyediakan gedung sekolah yang layak, sekaligus menghentikan ujian nasional.

St KartonoGuru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

"Mitos-mitos" Ujian Nasional?

Senin, 30 November 2009 | 02:39 WIB

Elin Driana

Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan ujian nasional kembali mendapat dukungan dengan ditolaknya kasasi pemerintah oleh Mahkamah Agung.

Tidak berlebihan untuk memandang putusan itu sebagai tonggak penting dalam mendorong evaluasi berbagai kebijakan pendidikan selama ini. Sayang, pemerintah tampaknya berkeras menggunakan hasil ujian nasional (UN) sebagai salah satu penentu kelulusan melalui rencana peninjauan kembali. Beberapa argumen yang dilontarkan untuk mendukung UN sebenarnya masih terbantahkan.

Penilaian guru tidak konsisten?

Bagaimana menentukan kelulusan siswa dari suatu jenjang pendidikan bila tidak ada UN? Bukankah penilaian guru amat bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lain, bahkan dari satu kelas ke kelas lain? Berbagai pertanyaan semacam itu muncul karena kekhawatiran yang bersumber dari ketidakpercayaan terhadap penilaian yang diberikan guru.

Sebenarnya, guru memiliki lebih banyak kesempatan untuk menilai, dan pada saat yang sama, mengembangkan kemampuan siswa melalui beragam model penilaian dan aktivitas, seperti pekerjaan rumah, ulangan, proyek kelas, penulisan laporan, dan presentasi.

Berbeda dengan UN yang dilakukan pada akhir masa belajar, berbagai penilaian yang dilakukan guru berdampak pada perbaikan proses belajar siswa karena ada umpan balik yang bisa segera dilakukan.

Dengan meningkatkan kualitas pembelajaran maupun penilaian yang dilakukan oleh guru, yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari serta berbagai tantangan pada masa depan, diharapkan siswa akan terlibat proses belajar yang menumbuhkan motivasi intrinsik dari dalam diri siswa. Motivasi belajar yang bersifat intrinsik ini akan lebih kokoh tertanam ketimbang belajar karena dipicu oleh kekhawatiran tidak lulus UN, yang bersifat ekstrinsik. Jadi, argumentasi bahwa ketiadaan UN membuat siswa malas belajar pun terbantahkan.

Berbagai penelitian seputar seleksi penerimaan mahasiswa baru yang pernah dilakukan di AS menunjukkan, indeks prestasi kumulatif di SMA, yang merupakan akumulasi dari aneka penilaian yang diberikan oleh guru, memiliki kemampuan lebih besar dalam memprediksi prestasi akademis di perguruan tinggi dibandingkan dengan hasil-hasil tes standar yang didasarkan pada penguasaan materi di SMA, seperti Standardized Achievement Test II dan American College Testing, maupun yang didasarkan pada kemampuan umum dalam matematika dan bahasa, seperti Standardized Aptitude Test.

Di Indonesia pun demikian. Meski masih membutuhkan studi lanjut, beberapa perguruan tinggi melaporkan, prestasi akademis mahasiswa yang dijaring melalui penilaian terhadap prestasi selama mengikuti pembelajaran di sekolah menengah atas—sebagaimana tecermin pada nilai rapor—ternyata lebih stabil ketimbang prestasi mahasiswa yang diterima melalui jalur-jalur lain (Kompas, 18/11/2009).

UN dan kualitas pendidikan

Asumsi bahwa ujian kelulusan dapat meningkatkan kualitas pendidikan perlu diuji karena kesimpulan hasil-hasil penelitian kerap bertolak belakang. Phelps (2001), misalnya, menyimpulkan, ujian kelulusan dapat meningkatkan prestasi akademis siswa untuk mata pelajaran yang diujikan, tetapi Amrein dan Berliner (2003) menunjukkan tidak ada kontribusi positif yang signifikan. Sementara itu, Dee dan Jacob (2006) dan Zwick (2004) malah menunjukkan, ujian kelulusan hanya meningkatkan prestasi akademis bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi.

Perlu diingat, siswa-siswi di Finlandia mampu mencatat prestasi gemilang dalam The Programme for International Student Assessment meski tak ada ujian kelulusan. Satu-satunya ujian berskala nasional yang dilaksanakan adalah ujian matrikulasi sebagai syarat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Tes-tes standar yang berdampak besar terhadap masa depan siswa dan berbagai indikator prestasi siswa lainnya, termasuk tes-tes untuk tujuan pemetaan maupun indeks prestasi siswa di sekolah, terkait erat dengan status sosial ekonomi siswa dan kondisi sekolah (Zwick, 2004). Lani Guinier, profesor di Harvard University, bahkan menyatakan, SAT lebih tepat dipandang sebagai tes untuk mengukur tingkat kesejahteraan daripada prestasi siswa (Zwick, 2004).

Keterkaitan antara status sosial ekonomi orangtua dan kondisi sekolah dan prestasi akademik siswa telah mendapatkan dukungan empiris yang kokoh, bahkan melalui penelitian yang menggunakan data dari berbagai negara (Willms, 2006; Fuchs, 2007). Keberpihakan sistem pendidikan pada kaum kaya juga tecermin pada tingginya angka putus sekolah di kalangan masyarakat tidak mampu, antara lain karena besarnya porsi biaya pendidikan yang masih mereka tanggung (Kompas, 25/11/2009).

UN pascaputusan MA

UN masih dapat digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan di Tanah Air, tetapi bukan sebagai syarat kelulusan, sepanjang terdapat kejelasan dan konsistensi bantuan atau intervensi bagi sekolah-sekolah yang dianggap belum memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Pemetaan mutu pendidikan tanpa kejelasan umpan balik seperti teramati saat ini hanya merupakan pemborosan anggaran negara dan menjadi beban masyarakat.

Karena itu, ketimbang mengajukan peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung, akan lebih strategis bila pemerintah mengerahkan segala daya untuk menyelesaikan akar masalah kualitas pendidikan. Caranya, dengan membenahi standar-standar nasional pendidikan lainnya, termasuk meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana, dan akses informasi yang memadai, sebagaimana tercantum pada putusan pengadilan yang telah mendapatkan pengukuhan Mahkamah Agung.

Elin DrianaMendalami Bidang Riset dan Evaluasi Pendidikan; Salah Seorang Koordinator Education Forum
Share/Bookmark

Berbagai Problematik Ujian Nasional

Keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi ujian nasional yang diajukan pemerintah tidak serta-merta mengakhiri kontroversi UN.

Pemerintah masih berkeinginan untuk melakukan peninjauan kembali (PK). Namun, bukti baru macam apa yang akan dijadikan dasar untuk melakukan PK belum jelas.

Problematik

Sementara itu, para penolak UN berharap agar pemerintah legowo terhadap keputusan MA dan segera melaksanakannya dengan tidak perlu menggelar UN lagi. Apalagi, UN 2010 amat problematik dan cenderung menciptakan beban baru pada murid.

Problematik pertama adalah dimajukanya jadwal UN dari bulan April menjadi Maret. Pemajuan jadwal UN itu memberi konsekuensi pada proses pembelajaran yang serba tergesa, baik guru maupun murid dipaksa untuk menyelesaikan materi pelajaran maksimal awal Maret. Ketergesaan ini pasti hasilnya kurang baik, selain murid dan guru sama-sama stres.

Kedua, tak ada koordinasi antara pemimpin perguruan tinggi (PT) dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam menyusun jadwal UN dan ujian masuk ke PT secara mandiri. Yang terjadi adalah ujian masuk ke UI, misalnya, terjadi sehari sebelum UN dan ujian masuk UGM sehari setelah UN.

Dengan model soal yang berbeda antara UN dan ujian masuk PT, dapat dibayangkan tingkat stres murid kelas III SMTA yang dalam waktu bersamaan harus menyiapkan diri untuk ikut UN dan seleksi masuk ke PT.

Para murid jelas mengalami dilema tentang apa yang harus dipelajari. Bila konsentrasi ke UN terlebih dulu, bisa lulus UN tetapi belum tentu dapat mengerjakan soal ujian masuk PT. Sebaliknya, bila konsentrasi pada ujian masuk ke PT favorit, belum tentu lulus UN. Anak betul-betul menjadi korban dari keegoisan para penentu kebijakan pendidikan.

Problematik ketiga adalah ada UN ulangan yang akan dilaksanakan satu bulan setelah UN utama selesai atau sepekan setelah hasil UN utama diumumkan. Masa jeda yang panjang membuat murid bermalas-malasan belajar lagi, kecuali selama masa jeda masih ada pelajaran; sehingga UN ulangan hanya akan menjadi formalitas, tidak memiliki bobot akademik. Potensi manipulasi kelulusan pada UN ulangan akan jauh lebih tinggi dari UN utama, karena inilah upaya penyelamatan sekolah.

Keempat, buruknya penyusunan kalender pendidikan. UN dan pengumuman dimajukan, tetapi bila tes masuk perguruan tinggi serentak (SMNPTN) tidak maju; demikian pula proses penerimaan murid baru di jenjang sekolah yang lebih tinggi tidak dimajukan, sia-sia saja pemajuan jadwal UN itu, karena banyak sisa waktu murid kelas VI SD dan kelas III SMP-SMTA terbuang percuma antara setelah mengikuti UN sampai dengan penerimaan murid/mahasiswa baru. Pemajuan jadwal UN sepertinya tanpa konsep yang jelas.

Problematik kelima adalah kualitas hasil UN masih dipertanyakan, tetapi sudah dirancang akan menjadi pedoman untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN). Seandainya saya pimpinan PTN, pasti menolak rencana itu karena kredibilitas UN sebagai pedoman kualitas pendidikan masih dipertanyakan. Bila para guru mata pelajaran yang di-UN-kan selalu heran dengan hasil UN muridnya yang melebihi kemampuan sehari-hari, bagaimana kredibilitas UN dapat dipertanggungjawabk an? Perguruan tinggi kelak tertipu saat kualitas mahasiswa yang mereka terima berdasarkan nilai UN ternyata tidak sebanding dengan tingginya nilai UN mereka.

Kemauan berdialog

Banyaknya problema yang ada pada UN, apalagi didukung keputusan MA, maka tidak ada jalan lain bahwa untuk mengakhiri kontroversi masalah UN itu dengan melalui dialog.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh perlu membuka diri untuk berdialog mencari solusi yang bijak. Ngotot tidak mau meninjau ulang kebijakan UN dengan alasan keputusan MA tidak ada yang eksplisit melarang UN serta rencana mau mengajukan PK menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap realitas sosiologis. Bila kontroversi UN terus berlangsung hingga pengadilan, itu menunjukkan bahwa UN mengandung banyak masalah sehingga tidak ada salahnya direvisi.

Pada masa lalu, saat UN sedang digugat ke pengadilan, beberapa petinggi di Depdiknas selalu mengatakan, ”Kita tunggu proses hukumnya. Apa pun yang terjadi, keputusan pengadilan itu kita patuhi.” Sekarang keputusan pengadilan sudah keluar dan kita menuntut konsistensi institusi Depdiknas agar mematuhi putusan MA itu.

Depdiknas sebagai lembaga pemerintah diharapkan memberi contoh untuk taat hukum, dengan melaksanakan putusan MA itu. Konsekuensinya, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang mengatur mengenai UN segera direvisi sesuai semangat keputusan MA. Dan mengingat persiapan UN 2010 sudah dilaksanakan, maka jalan tengahnya adalah UN 2010 tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Fungsinya bukan sebagai penentu kelulusan, tetapi sebagai pemetaan mutu pendidikan saja.

Kelulusan tetap menjadi otonomi guru. Ini rasanya jalan tengah yang elegan.

Darmaningtyas, Pengurus Majelis Luhur Tamansiswa Yogyakarta
Share/Bookmark