Antara “Apa” dan “Bagaimana”: Guru yang Evaluatif

Sudah bukan rahasia lagi bahwa anak-anak begitu takut dan frustasi dengan sosok yang sering disebut sekolah. Mengapa demikian? Sekolah telah berkembang menjadi sebuah lingkungan penuh tekanan dan beban. Bukan hanya karena adanya monster pendidikan yang berupa Ujian Nasional (UN) belaka namun dalam proses pendidikan di sekolah ada begitu banyak “hantu-hantu” pendidikan. Salah satu hantu yang membuat anak-anak tertekan dan terbebani adalah model evaluasi atau penilaian para guru.

Begitu banyak guru menempatkan sekolah sebagai proses transfer ilmu pengetahuan belaka sehingga pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berorientasi materi. Anak-anak harus belajar begitu banyak teori tanpa diiringi aplikasinya dalam dunia nyata. Parahnya lagi, banjir materi itu masih diiringi badai ulangan yang digunakan oleh para guru tanpa kompromi. Akibatnya, anak-anak frustasi dengan badai ulangan itu dan akhirnya lahirlah kekecewaan karena mendapat nilai (skor) jelek. Celakanya, guru pun hanya berpatok pada skor-skor hasil ulangan itu untuk membuat sebuah “vonis” bahwa seorang anak pintar, sedang, atau bodoh.

Keadaan ini begitu kuat mengedepankan kekuatan “Apa” dalam pembelajaran. Guru berusaha melakukan berbagai ulangan untuk mengukur apa yang sudah dipahami anak-anak berdasarkan apa yang sudah diajarkan guru. Dan, apa yang didapat anak-anak berupa skor ulangan telah digunakan guru sebagai alat untuk menentukan anak seperti apa mereka: pintarkah? Cukupkah? Bodohkah? Proses pendidikan seperti ini telah memberi ciri khusus, yakni melaksanakan assessment of learning. Penilaian telah menjadi senjata pamungkas dalam pembelajaran. Dan, senjata itulah yang membuat sekolah menjadi begitu seram dan horor.

Ada juga keadaan di mana penilaian yang dilakukan justru dapat digunakan untuk sebuah pembelajaran. Bentuk feedback yang diberikan oleh para guru dalam setiap ulangan atau tugas akan sangat membantu anak-anak untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta bagaimana memperbaikinya ke depan. Assessment for learning coba dikedepankan dalam hal ini, salah satunya melalui feedback yang diberikan. Bahkan proses diagnostik terhadap keadaan anak-anak dalam proses pembelajaran menjadi input yang baik bagi guru untuk memodifikasi desain pembelajaran ke depan sehingga anak-anak menjadi nyaman dan antusias untuk belajar. Situasi seperti ini tampaknya telah menempatkan sekolah tidak lagi menjadi hantu bagi anak-anak sehingga mereka tidak merasa takut atau ngeri lagi.

Pembelajaran semestinya menjadi sebuah ruang dan peluang untuk belajar satu sama lain sehingga pembelajaran menjadi milik anak-anak dan guru. Keduanya menjadi subyek belajar dalam sebuah kemauan untuk saling mengembangkan diri satu sama lain. Tatkala penilaian diposisikan sebagai sebuah pembelajaran maka dengan demikian akan menumbuhkan kesadaran diri dalam setiap pribadi subyek belajar, baik anak-anak maupun guru. Assessment as learning ini berusaha mengedepankan bagaimana masing-masing subyek pembelajaran menyadari proses pembelajaran itu sendiri.

Anak-anak semakin menyadari betapa mereka membutuhkan pendidikan, khususnya pembelajaran-pembelajaran yang ada. Ada sebuah kesadaran diri untuk belajar dan berkembang tanpa paksaan bahkan ancaman. Lewat model penilaian oleh guru, anak-anak tidak merasa terancam dengan situasi frustasi bahkan tidak sedang dalam bayangan akan kekecewaan yang dahsyat setelah melakukan penilaian itu. Model penilaian yang hanya berorientasi pada pemahaman materi belaka hanya akan membuat anak-anak antipati dengan sekolah. Akan tetapi, model penilaian yang mengedepankan bagaimana anak-anak belajar akan menjadikan penilaian itu sendiri sebagai sebuah pembelajaran yang indah bagi anak-anak.

Sebagai sebuah contoh, tatkala sang guru membuat sebuah penilaian dalam sebuah apresiasi karya sastra, sang guru menyadari sungguh adanya perbedaan bagaimana anak-anak belajar seperti auditif, visual, dan kinestetik. Berangkat dari kesadaran itu, sang guru memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk mengapresiasikannya. Dan ternyata anak-anak melakukan apresiasi yang berbeda-beda. Ada yang melakukan dengan pembacaan puisi bahkan membuat sebuah serial drama radio karena mereka adalah anak-anak auditif. Ada juga yang membuat film pendek bagi anak-anak visual. Serta anak-anak kinestetik melakukan sebuah play performance atau pertunjukan drama sederhana. Proses penilaian ini telah mendorong anak-anak untuk menjadikannya sebagai sebuah pembelajaran. Jauh dari suasana mencekam dan menakutkan, justru yang terjadi adalah anak-anak senang, bahagia, merasa tertantang, dan antusias. Bahkan, mereka bisa merefleksikan proses ini penuh dengan nilai-nilai kehidupan seperti kreatif, inovatif, berjuang, dan kerjasama.

Akhirnya, kini waktunya bagi kita sebagai guru mulai melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dalam melaksanakan penilaian untuk pembelajaran bersama anak-anak. Asessment Of, For, ataukah As learning? Dan setelah itu, waktunya untuk memantapkan diri kita untuk bagaimana-kah mengusahakan pembelajaran yang baik bagi anak-anak bangsa ini? Selamat menjadi guru yang evaluatif, bukan hanya pada anak-anak tetapi yang lebih penting adalah pada diri kita sendiri. Audacia untuk guru!